Tampilkan postingan dengan label Angle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angle. Tampilkan semua postingan

Rabu, Februari 04, 2009

Legend of The Falls

Muring-muring iku dalane antuk pepeteng,

Mula sing sapa seneng muring ora bakal antuk pepadhang.

- Pituduh


Apa sih yang tidak diributkan di masa kini? Tatanan baru direka, masih dangkal implementasi, belum rampung dalam aturan, eh, sudah ditentang. Rancangan yang masih harus mengalami uji berulang kali, tau-tau sudah berada di jalan raya. Diacung-acungkan dalam plakat, disorak-soraikan sebagai suatu dosa. Wacana dan fakta sudah layak bayi kembar yang tak bisa dibedakan. Satu ucap yang menggema lewat dasar pemikiran matang, akan­ disanggah habis dan diinterpretasikan dengan tafsiran beda.

Kita belum pandai berkomunikasi. Kita tak mendengar mulut orang bicara. Kita tak mendengar pesan yang disampaikan, karena cenderung mendengar kalimat-kalimat sendiri yang kita ciptakan di alam pikiran. Jika kita bertanya dan orang menjawab, maka jawaban orang itu harus tak beda dengan jawaban yang telah kita siapkan diam-diam sejak dari rumah. Karena sesungguhnya kita memang tak ingin bertanya, tetapi cenderung mengoptimalkan kebenaran dan mengajak berkomplot, agar saya sama dengan kau, kau sama dengan mereka dan mereka sama dengan segenap anak bangsa.

Semua dipertanyakan. Jangankan yang hitam atau sekedar kelabu, bahkan yang putih kinclong pun masih terus disangsikan. Jangan terima segalanya dengan satu anggukan, tetapi ujilah dengan tinju yang kekar. Di depan istana, di pagar MPR DPR, di jalan-jalan raya, ayo Bung, kita tudingkan seluruh jari ke arah orang yang tidak kita sukai.

Soeharto. Beberapa pekan ini nama itu kembali masuk berita. Orang-orang angkat suara, ramai dan heboh. Menjelang ujung sebentuk sakratulmaut, silang sengkarut berlaga-laga. Pendapat bergulat dengan pendapat bagai dua naga raksasa yang bandel. Soeharto tak boleh dibiarkan lolos, demikian kelantangan itu bergema. Ajal tidak seharusnya menjadi escape. Bagaimanapun hukum adalah panglima! Tangan-tangan terkepal, wajah ketidakpuasan mengkilap, seakan satu-satunya derita di muka bumi ini tercipta oleh seorang yang bernama Soeharto.

Di pihak lain, kemanusiaan juga berbicara. Begitu bengiskah kita, sehingga sepuh yang menderita kerusakan otak dan faali lainnya ini, perlu diseret ke kursi terdakwa? Sungguh usia panjang yang tak menyiratkan ketenangan. Bahkan ketika sosok tua itu akan mengetuk pintu terakhir untuk tidak berpaling lagi, kemurkaan masih terus menyertai dari segala penjuru. Inilah seuntai legenda kejatuhan yang akan menjadi sejarah panjang bangsa ini, ketika kita tak lagi punya maaf, tidak beriba dan tak memberi ampun. Baja adalah hati kita. Saya teringat Franco. Lepas dari perangai dunia, kini di tepi kuburnya bunga mengkelopak semerbak. Bujur makamnya berdampingan dengan tulang belulang orang-orang yang sepanjang masa memusuhinya. Dan kenalkah mereka sebenarnya siapa Franco?

Pertanyaan yang sama: kenalkah kita sebenarnya pada Soeharto? Saya tidak, meski saya masih bisa menorehkan garis dan bayang untuk melukis ingatan tentang sosok gagahnya berkacamata hitam saat membongkar Lubang Buaya. Meski sangat berjarak, diam-diam saya pernah berterimakasih, karena sebagai pelajar ­SMP di saat G30S tahun 1965, saya merasa nyawa saya tertolong dengan eksistensinya. Yaitu ketika di satu malam hujan, rumah kami digedor orang-orang. Jika pintu jebol, alamat kami sekeluarga tak bernyawa lagi, terkubur di parit-parit galian yang mengitari rumah, tempat saya berondok bersama kawan-kawan. Ayah saya sedang bersiaga di kantor polisi, mendengar kawat dan siaran radio, sehingga pastilah tak bisa datang menolong. Dan apalah arti sepucuk senapan yang terbaring di bawah kolong tempat tidur? Menggunakannya saja saya tak becus, karena baru sekejap diajar cara memasukkan peluru dan menarik pelatuknya. Apalagi para teroris itu jelas tidak satu dua, tapi berjumlah lebih dari enam orang. Pikiran SMP saya berkata, jika Soeharto tidak muncul di Ibukota, warna republik akan jadi merah. Panji merah di atas bumi, darah merah di bawah tanah.

Kenalkah saya pada Soeharto? Saya kemudian memang pernah bertemu dan bahkan bersalaman dengannya. Saya bangga ketika sebagai Presiden RI dia memberi kata sambutan tertulis di salah satu buku karangan saya. Tetapi saya tetap tidak mengenalnya. Dia juga tidak mengenal saya. Zaman itu, saya cuma salah satu dari begitu banyak orang yang selalu mengaku mengenal Soeharto. Semua orang berlomba-lomba mendekatkan diri, sama saja dengan kini, tatkala semua saling bersikutan karena ingin berakrab-akrab dengan Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY.

Kenalkah saya pada Soeharto? Saya ragu. Lama saya berjalan menyusuri usia, mencari diri di setiap halaman buku, mengunjungi rumah-rumah ibadah dari agama apa saja, menyimak Aa Gym hingga Uztad Jefri, mendengar kotbah dan kata-kata bijak, menelusuri Kiekergard sampai Khrisnamurthi, namun tak terlihat tanda-tanda untuk mengenal diri sendiri. Endles journey of self-identification, never dissapear.

Gusti, bahkan diri sendiri tidak berhasil saya kenal, bagaimana pula saya bisa mengenal orang lain? Sebab, sesungguhnyalah sebuah pengenalan cuma tumpukan masa lalu. Ketika kita bertemu seseorang dan mengatakan kita mengenalnya, maka sebenarnya yang kita kenal itu adalah sebuah masa lalu miliknya, bukan otentik diri pada saat kita menemuinya. Kita terperangkap dalam bayang-bayang dan kesan purba, kita terpengaruh oleh kilatan sosok lampau. Kita bercermin pada fragmentasi. Dan itulah pula yang membuat kita jadi berpendapat berdasarkan kemasalaluan, sebuah fakta yang kuno, sebuah pertemuan yang usang. Kita terkontaminasi oleh kungkungan pikiran yang celakanya, memang kita pelihara baik-baik agar menjadi identitas. Kita tak pusing-pusing untuk senantiasa menjadi baru dan segar.

Kenalkah saya pada Soeharto? Saya tidak kenal padanya. Jadi pada saat dia terbaring di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saya merasa tidak perlu datang. Toh juga akan ditolak, sebab saya nobody. Tetapi beliau itu sedang gering, dan besar kemungkinan merupakan sakit terakhirnya. Perlukah saya mem-bezoek-nya? Tidak perlu. Saya kan tidak mengenalnya. Saya pikir, saya cukup prihatin saja. Menjenguk dengan doa, mungkin akan lebih baik. Jika dia ditakdirkan pulih, mudah-mudahan itu membawa kebahagiaan bagi keluarga dan orang-orang yang menyayanginya. Dan kesembuhannya juga bisa memuaskan perasaan orang-orang yang masih merasa dipecundangi, yang ingin terus menyeretnya ke kursi pesakitan. Tapi jika dia ditakdirkan untuk mengakhiri segalanya sampai titik yang telah dijanjikan, akankah kita membiarkan arwahnya mengalir sesuai keinginan sang Pencipta?

Saya tak kenal dengan semua yang ada. Tidak diri orang lain, tidak diri sendiri. Apalagi di zaman ketika setiap orang penuh angkara. Lihatlah, hampir tidak ada lagi hal yang tidak diprotes di negeri ini. Semua di­caci. Keagungan yang dulu menjulang kini menjadi malang, terhempas jatuh berdebam pasrah tanpa gagah. Dan saya tak ingin mencarut-carut, murka atau menggemeretakkan geraham. Karena saya tak kenal Soeharto. Entah itu suatu kerugian (di masa Orde Baru itu dinilai sebagai kerugian besar), atau sebuah keuntungan (di masa Reformasi itu suatu keuntungan), saya tidak mau memikirkannya. Karena saya tak bersangkut paut dengan dirinya. Tanpa dia, saya fine-fine saja. Tidak semakin miskin dan tidak bertambah kaya. Tidak menjadi damai atau semakin galau. Saya tidak merasa kehilangan rupiah atau dollar, karena perhitungan saya tidak bersandar pada untung rugi. Saya tumbuh menjadi saya-yang-ini-hari karena Allah semata, junjungan yang tiada cacat cela. Saya sepenuhnya dikendalikan oleh pikiran dan nurani sendiri. Bukan oleh Soeharto atau siapa saja yang jadi presiden, menteri, anggota atau ketua MPR DPR.

Teman saya sering bernakal dengan candanya yang norak. Dia ­bilang, hidupnya jauh lebih senang di era Soeharto. Dia puji-puji zaman itu. Ketika dikejar maksudnya, dengan lempang dan gaya dia berkata, “Terang dong! Kan di masa Soeharto istri saya masih muda. Sekarang di masa SBY, saya susah, istri saya sudah jadi nenek-nenek.”

Meski sudah tidak lucu lagi, tapi saya masih mau tersenyum. Saya harus hargai sikap-sikap yang tidak mengandung dan mengundang amarah. Saya ingin membiarkan angin mendesir, cicak berdecak dan sepi menggerayangi. Saya ingin mematai semuanya dan kemudian bersalaman, menebar senyum untuk sesiapa saja. Karena saya penat, begitu banyak murka telah mengisi relung jiwa. Satu lagi, saya ingin menyaksikan akhir dari semua ini: sebuah kejatuhan besar yang membuat hati gemetar.

Sobat, biarlah itu melegenda. Ati suci marganing rahayu.

Dimuat di majalah B-Watch No. 11, edisi Juni 2006

Selasa, September 02, 2008

Tatkala Karakter Terbunuh


I will die in Paris with a sudden shower,

a day I can already remember.

I will die in Paris -and I don't budge-

maybe a Thursday,

like today is, in autumn.

- César Vallejo (1892 - 1938)


Di tengah-tengah keseriusan menulis Angle bertema character assassination, mendadak pikiran saya harus meluncur ke Paris. Hal itu berawal ketika seorang kawan melakukan interupsi dengan menyodorkan koran Kompas.


“Si Djuanda meninggal di Paris,” katanya.


Kontan saya terperangah. Kaget. Langsung menyambar koran yang memuat berita mendukakan hati itu. Tak pelak lagi, Djuanda, pemerhati masalah-masalah intelijen itu memang sudah mangkat. Dari Paris sana, dia ‘pulang’, tinggalkan Indonesia yang sangat dicintainya. Dia tinggalkan seluruh masalah-masalah tanah air yang selalu menjadi tumpuan pemikirannya.


“Kata orang, warga Amerika yang baik jika meninggal dunia akan pergi ke Paris,” ujar nyonya Allonby.

“Ya, sudah tentu. Tapi jika Amerika yang jahat meninggal dunia, kemana mereka pergi?” tanya Lady Hunstanton.

“Oh, mereka tetap di Amerika.” sela Lord Illingworth.


Pokoknya orang baik akan meninggal dunia di Paris, begitu siratan dialog A Woman of No Importance karangan Oscar Wilde. Dan Djuanda memilih Paris, karena hidup memang penuh pilihan. Paris adalah pilihan luar biasa. Ketika penyakit datang menyerang dan bersarang di tubuhnya, teman saya ini berangkat ke Perancis guna berobat di negara tempat dia pernah menjalani masa muda. Tahukah dia bahwa kematian sudah sedemikan dekat dan membayangi dirinya?


Only the good die young, begitu kata-kata orang bijak. Mungkin itu benar. Tapi di ruang kepala saya, wajah Djuanda berputar-putar. Pertemuan kami terakhir pastilah ketika berdiskusi di coffee shop Hotel Sofyan Betawi sekitar dua bulan lalu. Malam itu dia mengikut saya memesan teh manis dingin sebagai minuman ke dua. Seperti biasa, kami berbincang mengenai hal-hal yang mengganggu rasa keadilan. Apa yang ideal dan apa yang terjadi. Semuanya centang-perenang layak kapal pecah. Tidak banyak hal yang jalan sesuai prosedur. Semua membingungkan dan membikin geram. Apakah kita-kita ini punya daya untuk mengubahnya?


Keinginan itu pastilah masih tersimpan rapat di relung-relung syaraf Djuanda. Buku kecilnya yang berjudul Kitab Capaian Politik memuat 48 etape nyata. Menurutnya, “Berpolitik adalah untuk mencapai tujuan yang disebut Capaian Politik. Di masyarakat kita yang merupakan masyarakat warisan, Capaian Politik adalah terejawantahnya kepemilikan, kekuatan, kekuasaan, wilayah, wibawa dan pengaruh, pengikut serta uang. Kenyataan-kenyataan ini seolah abadi mengikuti perkembangan sejarah bangsa dan negara kita, termasuk padanya dalam hubungan internasional. Para pemuda calon pemimpin perlu mengetahui dan memahami realitas politik ini untuk bekalnya dalam belantara politik Indonesia.”


Djuanda adalah teman diskusi yang paling komplit. Bicara dengannya, saya mendapat banyak pengetahuan tanpa harus meletihkan mata tua dengan membaca berjilid-jilid buku. Mendengarnya, saya memperoleh banyak informasi tanpa harus selidik sana, selidik sini. Djuanda adalah encyclopedia berjalan. Ketika menjadi produser dalam acara-acara radio talkshow, saya sering mengundangnya untuk memperkaya perbincangan. Data-datanya bertimbun dan bicaranya lugas. Ceplas-ceplos. Istilah asing, terutama dalam bahasa Perancis sering terdengar. Keberaniannya melancarkan kritik, membuat orang suka. Tapi banyak juga yang tidak suka. Dan Djuanda sangat menyadari bahwa jumlah orang yang menyukainya lebih kecil dibanding yang tidak menyukainya.


Tapi tunggu dulu. Saya ini bingung, belum mendapat jalan untuk mengaitkan ‘kepergian’ Djuanda dengan tulisan tentang character assassination. Padahal kolom Angle ini sudah dikejar deadline. Namun gejolak hati atas kehilangan teman juga harus dilahirkan, meski bukan dalam kolom obituari khusus. Mungkin saya cuma bersedih, sebab kini saya tidak lagi bisa menemukan karakter yang dimiliki Djuanda.


Tadi kawan saya berkata geram, Djuanda bisa jadi dihabisi. Kayak Munir juga. Mungkin diracun. Sesaat pikiran itu juga menyelip masuk ke benak saya. Tapi tampaknya tidak. Saya tahu Djuanda sakit. Dulu ketika menelpon ke apartemennya, saya mendapat jawaban bahwa dia terbaring sakit, tidak bisa menerima telepon. Saya mafhum, karena belakangan itu, tubuh Djuanda semakin hari semakin kurus dan kecil. Dan wajah yang kurang segar.


Jadi, saya menepis dugaan assassination. Jikapun ada unsur pembunuhan di sini, jelas bahwa hidup mantan Letnan Kolonel TNI Angkatan Laut ini telah diakhiri oleh kerusakan hebat pada lever, pankreas dan kelenjar getah bening. Anna, sang kakak, mengatakan Djuanda lebih sering dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Georges Pompidou oleh tim dokter ahli Perancis. Keadaan Djuanda memang sangat tidak sehat, meskipun saya bisa tidak percaya, karena suaranya di balik telepon masih tetap lantang.


“Bung, saya masih di Paris, berobat. Nanti saya cari jalan untuk memberi data-data,” ujar Djuanda dua minggu sebelumnya. Memang menurut Anna, kondisi Djuanda sering naik turun, kadang membaik, kadang memburuk. Dua hari sebelum wafat, almarhum mengalami serangan sakit yang hebat di bagian kepala. “Dia bilang dia capek,” ujar Anna. “So very tired.”


Iyalah, siapa sih yang tidak capek dan sakit memikirkan negeri yang amburadul begini? Kecintaan kita yang teramat dalam kepada Indonesia membuat kita terluka. We love too much, and it’s hurt! Kita ingin Indonesia ini cepat-cepat jadi bagus, lekas-lekas bisa makmur, tapi kita lagi-lagi berhadapan dengan berbagai jenis perangai yang tak terpuji. Perangai yang tidak heroik, perangai yang mencla-mencle. Kita mendengus jijik melihat orang yang bisa berbuat apa saja hanya untuk menyelamatkan diri. Certain people are born with natural false teeth, kata Robert Robinson, penulis dan penyiar BBC. Jadi jangan heran sebenarnya, jika sering kalimat-kalimat yang diucapkan juga palsu. Dan jika sudah terdesak, orang-orang model begini akan melemparkan kesalahan ke luar dirinya dan bilang bahwa semua itu adalah ulah pihak-pihak yang ingin melakukan character assassination terhadap dirinya.


Character assassination? Saya teringat Gary Hart ketika dituding berselingkuh dengan Donna Rice. Hart ngotot mengatakan, hubungan mereka platonis, bebas dari nafsu berahi dan cinta. Pada konvensi Asosiasi Penerbit Surat Kabar Amerika di New York Mei 1987, Hart menuding koran Miami Herald menyebarkan berita bohong yang menyesatkan. Istrinya juga membela dengan mengatakan, media sudah melakukan character assassination.


Saya juga teringat Nixon. Dan Watergate. Sekretaris Pers Gedung Putih Ronald Ziegler mati-matian menyangkal dan menuduh koran Washington Post melakukan character assassination. Ini lemparan balik yang diharapkan bisa ampuh. Seperti yang terjadi di Pilipina tahun 1963, ketika Wakil Presiden Emmanuel Pelaez menuduh Presiden Diosdado Macapagal melakukan character assassination karena Pelaez dinyatakan termasuk dalam daftar Stonehill Blue Book, yang menerima dana dari milioner AS, Harry F. Stonehill. Di Indonesia juga demikian. Banyak yang bilang character assassination. Akhir-akhir ini, pengacara Juniver Girsang juga bilang begitu tentang berita-berita terhadap Hary Tanoe yang menjadi klien-nya. Even Pak Sudi Silalahi juga bilang begitu.


Character assassination adalah penyerangan terhadap reputasi seseorang. A deliberate and sustained attack on somebody’s reputation. Tapi dalam berita dan buku-buku yang saya baca, tuduhan character assassination itu jarang terbukti. Jika ada asap, selalu ada api. Itu adalah bagian dari kehidupan. Hidup adalah benturan.


Crash, film pemenang Oscar tahun ini, membuka kisahnya dengan kesadaran itu. Kita berbenturan dengan orang lain. Orang lain membentur kita. Dan kita merindukan hal itu. Sebenarnya hidup ini membutuhkan benturan-benturan agar kita bisa merasakan sesuatu. Dan benturan maksimal adalah kematian. Apakah kematian itu tragis atau indah, kita tinggal mendefinisikan saja.


Penyanyi rock Lou Reed mungkin tidak bercanda saat mengomentari kematian Jim Morrison, penyanyi kelompok The Doors, pada Juli 1971. “Someone told us that Jim Morrison had just died in a bathtub in Paris. And the immediate reaction was, How fabulous, in a bathtub, in Paris, how faaaantastic." He he he......


(Dimuat di Majalah B-Watch No. 9, edisi April 2006)

Sabtu, Agustus 09, 2008

Monyet-Monyet di Antara Kita

The eyes will see no evil colors,
the ears will hear no evil sounds,
the mouth will speak no evil words:
this is the meaning of the foetal education.
- Anonymous




Ada tiga monyet terkenal di dunia. The famous three monkeys. Monyet-monyet itu melakukan gesture yang menyiratkan arti. Yang pertama menutup mata, yang ke dua menutup telinga dan yang terakhir menutup mulut. Ketiganya melakukan hal itu dengan cara menangkupkan kedua telapak tangan di tiga indra penting. Tidak dengan cara menjahit daun telinga, menjahit kelopak mata atau menjahit mulut. Tampaknya sudah sejak awal monyet-monyet itu menyarankan agar manusia tidak melakukan hal itu dengan cara yang keras. Sebab dengan menangkupkan telapak tangan saja sebenarnya sudah merupakan tindakan keras.

Sebenarnya menutup mata cukup dengan memicingkan kelopak. Menutup telinga cukup dengan tidak mempedulikan. Dan menutup mulut cukup dengan mingkem, mengatup bibir. Tetapi kita tidak selalu bisa melakukannya. Perlu telapak tangan untuk menutupnya. Perlu benang dan jarum jahit untuk membuatnya tidak berfungsi. Kita perlu cara baru, inovasi baru dan variasi baru. Ketika sekelompok orang mengeluh dan menjabarkan bahaya berdomisili di bawah Saluran Udara Tegangan Tinggi, atau yang dipopulerkan dengan istilah Sutet, dan Pemerintah berdiam diri, maka menjahit mulut diharapkan bisa mangkus dan sangkil. Di Australia dan di belahan bumi lain konon cara itu pernah berhasil.

Tapi mereka lupa. Ini Indonesia. Negeri 1001 keajaiban. Silahkan gunakan cara baru dalam menyatakan pendapat, tapi belum tentu Indonesia peduli. Silahkan cari inovasi dan variasi baru untuk diperhatikan, Indonesia tidak punya waktu untuk melayani. Indonesia harus moving forward. Kalau you punya protes, simpan saja dulu. Jangan ganggu Indonesia yang ingin berlari meninggalkan keterbelakangannya. Please!

Urusan sutet, PLN toh bisa atasi dengan iklan-iklan mahal di televisi yang mengatakan Sutet tidak berbahaya. Buat apa mengganggu kabinet. Urusan mobilJaguar lupakan saja. Serahkan saja kepada Hary Tanoe untuk mengurusnya, melapor ke polisi dan sebagainya. Maka dengan kewenangan yang diperoleh entah dari dewa langit mana, Eggi Sudjana pun dilaporkan ke Polda Metro dengan tuduhan mencemarkan nama baik Presiden. Kok musti Hary yang lapor? Apa hubungan Boss RCTI ini dengan Presiden? Sebenarnya, tanpa dilapor-laporkan pun, orang yang mencemarkan nama baik Presiden otomatis bisa diperiksa Polri. Apakah Hary cuma ingin unjukkan rasa sayang dan kedekatannya dengan Presiden kepada semua orang?

Tapi Eggi mengambil langkah jitu, langsung minta maaf kepada Presiden. Tidak puas, Hary lapor lagi ke polisi. Kali ini atas pencemaran nama baiknya sendiri. Dan Eggi terima akibat. Meski tidak ditahan, tapi dia dicekal tidak boleh ke luar negeri. Saya bingung melihat relevansi pencemaran nama baik dengan cegah tangkal. Kok?

See No Evil. Jangan lihat hal-hal yang jahat. Sebab dengan melihat hal yang jahat, hati kita yang mudah terpengaruh ini akan terikut-ikut jahat. Melihat PSK menggiurkan diuber-uber kita merasa miris. Teringat lagu Titik Puspa yang berjudul Kupu-Kupu Malam. Begitu sang PSK dapat ditangkap, belasan tangan mulai merangkul seakan-akan takut PSK itu lepas melarikan diri. Tapi seorang teman saya terlanjur merasa mau muntah melihat hal itu yang dinilainya sebagai pelampiasan selera rendah, memegang-megang perempuan dalam kesempatan yang sempit. Mumpung!

Dosakah yang mereka kerjakan, sucikah mereka yang datang? See No Evil! Kalau mau menjadi manusia Indonesia seutuhnya, kita jangan banyak melihat yang bathil. Sehingga kita tak banyak memendam rasa kecewa. Karena hal ini bisa membahayakan kesehatan. Dan jika stamina memburuk, maka salahkan saja formalin. Atau virus flu burung. Mengapa pusing-pusing dengan urusan NCD Bodong yang tak kena-mengena dengan nafas kita sehari-hari? Jadi jangan kecewa meski KPK baru mulai memroses NCD setelah dua tahun menerima berkas laporannya. Tapi jangan pula merasa senang dulu, karena semua baru tahap awal. Belum tentu berhasil.

Talkshow soal NCD di RCTI yang dipandu dengan miskin oleh Arif Suditomo bisa saja tidak hanya mempengaruhi opini masyarakat, tetapi juga mempengaruhi keputusan para petinggi di KPK. After all, semua yang tampil bicara di situ layak koor harmonis dengan suara merdu. Lewat telpon, Goei Siauw Hong bahkan bilang kepada saya: “Hary itu teman saya dan saya yakin dia benar. Saya tidak peduli hal lain di luar itu.” Bahwa jika Dialog Khusus itu dilakukan di televisi yang menggunakan frekuensi milik publik, mereka tidak perduli. Membela kepentingan diri dan bisnis di televisi milik sendiri dianggap sebagai hal wajar, padahal itu salah, karena merupakan pemanfaatan ranah publik. Harusnya tau dong, sampai kapanpun frekuensi itu bukan milik orang per orang, bukan milik RCTI.

Maka malam itu, frekuensi hubungan SMS para insan media berseliweran. Terheran-heran dan merasa kasihan melihat apologi yang dilakukan dengan salah kaprah. Apalagi di akhir acara Hary bilang, bahwa dia diserang dalam banyak hal, dengan berita Jaguar, dengan berita pemakaian dana RCTI Peduli dan NCD Bodong. “Itu semua motifnya uang,” kira-kira begitu apologinya.

Hear No Evil. Jangan dengar hal-hal yang jahat. Inilah pesan monyet ke dua yang menutup kuping. Saya merasa kasihan dengan pernyataan tadi. Begitulah jika semua urusan di dunia ditakar dengan uang. Padahal money can not buy everything. Tidak semua orang bisa dibayar untuk berpihak, tidak semua orang bisa dibeli. Sebaiknya tutup kuping sajalah untuk urusan ini. Hear no evil! KPK terutama, yang harus tidak terpengaruh atas pendapat para pembicara yang belum tentu bisa disebut pakar di Dialog NCD. Bahkan konon pakar pun bisa salah. Tulikan saja telinga. Karena dengan mendengar, kita bisa terpengaruh. Saya khawatir kalbu kita yang putih akan tercoreng, atau tersedot masuk dalam lingkar pikiran orang lain yang belum tentu benar. Kita bisa teranja-anja. Karena kebenaran tidak pernah jadi milik manusia, tidak di dunia, tidak di Pengadilan Tinggi, tidak di MA dan tidak di mana-mana. Kebenaran itu milik Tuhan. Akan lebih celaka lagi jika kita yang mendengar kemudian menanggapi dan melakukan reaksi untuk hal yang jelas bukan urusan kita.

Speak no evil. Jangan bicara tentang hal-hal yang jahat. Lakukan saja GTM, Gerakan Tutup Mulut. Silence is golden. Talking is cheap, people follow like sheep, even know there is nowhere to go. Kalau DPR memanggil, dan kita terpaksa tidak bisa melakukan GTM, bilang saja bahwa tidak ada sebersit niat pun dari diri kita untuk mencari kambing hitam. Tegaskan dengan jelas. Walaupun akhirnya bawahan juga yang diperiksa dan menerima risiko lebih besar. Disertijabkan dan dibangkucadangkan dengan janji agar minggir dulu satu-dua tahun. Nanti dicarikan yang lebih baik. Ini demi nama baik korps dan untuk kepentingan yang lebih besar. Indonesia harus moving forward. Atasan tak perlu bertanggungjawab, karena di pundaknya masih ada pekerjaan yang lebih besar.

Keep thy tongue from evil, and thy lips from speaking guile. Depart from evil, and do good; seek peace, and pursue it. Kalimat ini termuat dalam King James Bible, Psalms 34:13-14. Sudah banyak yang bicara begini, tapi kita selalu mengulang-ulang bicara. Sampai akhirnya semua orang akan berpikir bahwa langkah menjahit mulut itu adalah hal yang biasa. Orang di mana-mana banyak yang mati kok, jadi buat apa risau?

See no evil, hear no evil sounds, speak no evil. Monyet-monyet itu memberi pesan moral agar kita bisa menjaga batin, karena mereka tahu, banyak di antara kita yang lebih monyet daripada mereka.

Dimuat di majalah B-Watch, edisi No. 8, Maret 2006

Minggu, Juli 06, 2008

Menjadi Wartawan. So What Gitu Loh !?


Doctors bury their mistakes.

Lawyers hang them.
But journalists put theirs on the front page.

- Anonymous


Tahun 1972, saya tiba-tiba jadi wartawan. Adalah Ani Idrus, Pemimpin Umum Harian Waspada yang menawarkan pekerjaan itu. Agak kaget juga, karena selama hampir dua tahun mengirim tulisan-tulisan ke suratkabar yang terbit sejak tahun 1947 itu, saya tidak menyangka bahwa Bunda -demikian orang memanggilnya- mau memperhatikan. Kok sempat-sempatnya wartawati kawakan itu membaca tulisan saya?


Jadi wartawan. So what? Saat itu saya sedang kuliah di Fakultas Teknik dan bersiap-siap untuk jadi insinyur. Saya juga sedang punya pekerjaan lain sebagai Professional Service Representative bagi perusahaan farmasi Medifarma yang berpusat di Jakarta. Dan di malam hari, saya bekerja sebagai penyiar di Radio Bonsita Medan.

Apa perlunya jadi wartawan? Tanpa jadi wartawan, saya toh tidak kekurangan uang. Tidak jadi kuli tinta, saya fine-fine saja. Kelebihan gaji sebagai penyiar dan detailman, bisa saya tabung untuk membeli 15 gram emas setiap bulan. Tidak punya kartu pers, saya toh masih tetap bisa menulis di koran. Lantas, buat apa jadi wartawan?


Tapi beruntunglah, pertanyaan dan pernyataan itu hanya sekejap berkelebat. Pikiran saya hanyut oleh suara mesin cetak letter-press yang berada di lantai satu. Saya terkagum-kagum melihat Pak Tua Bungkuk yang tak lagi saya ingat namanya, menyusun huruf timah satu demi satu dalam keadaan terbalik. Jika dia sedang membuat foto dari lempengan timah, saya berjongkok memperhatikannya. Tekun dan serius, dia terlihat sangat mengabdi pada pekerjaan. Diakah yang membuat saya terkesan?


Mungkin dia tidak satu-satunya. Sejak dua tahun ini saya selalu bangun pukul enam untuk mengejar koran edisi pagi. Dan saat melihat tulisan saya muncul di antara kolom-kolom halaman, alangkah saya menjadi manusia paling bahagia. Karena itulah di kemudian hari, jika sedang memberi pelatihan kepada wartawan-wartawan muda, saya selalu bilang bahwa tulisan yang paling bagus dan paling enak dibaca adalah tulisan kita sendiri, yang telah dimuat di koran.


Pendek kata, akhirnya saya jadi wartawan. Saya digembleng keras oleh H. Muhammad Said, pendiri Harian Waspada itu. Dia adalah guru yang paling bernilai. Ketidakpuasan yang selalu dilontarkannya sering membuat saya malu dan marah pada diri sendiri, kok bisa ya, saya sampai meluputkan angle yang dia tunjukkan? Saya penasaran dan berkutat habis di situ, tidak hanya jadi wartawan, tetapi juga jadi korektor, memeriksa kesalahan kata dan kalimat dengan bantuan suryakanta. Kemudian menjadi layouter, menata letak halaman koran dengan cutter dan lem Spramount. Bertahun-tahun, hingga akhirnya dipercaya memegang halaman sendiri. Dari berita ringan seperti musik, saya merangkak menulis berita kriminal, kemudian menjurus ke berita ekonomi dan politik. Saya belajar jadi Redaktur, dan kemudian jadi Assistant Managing Editor.


Arsyad Yahya Ritonga dan Tribuana Said menggembleng saya. Perlahan memang, tapi saya merasa pasti: inilah dunia saya. Saya memilihnya dengan sadar dan percaya. Padahal teman-teman sering mencemooh, mengatakan saya tidak akan sampai ke mana-mana dan akan berakhir sebagai warjaki, akronim dari wartawan-jalan-kaki. Wartawan kere, tak punya kendaraan, tidak motor, tidak mobil. Wartawan tidak bisa kaya harta, dan ini bukan profesi yang disenangi para calon mertua. Bahkan pacarpun bisa hilang. Saya tak lagi bisa membeli emas di akhir bulan. Makan sering ngutang. Tata hidup layak nomaden, pulang tak pulang, sering tidur beralas kertas koran di sela-sela mesin cetak.


Tapi apa boleh buatlah. Saya merasa hidup lebih hidup menjadi tukang baca dan tukang nulis. Hati saya selalu gempita jika membaca tulisan sendiri. Itulah kebahagiaan paling besar yang selalu terulang dalam hidup saya, bahkan hingga saat ini.


Apa sih yang ingin saya gambarkan dengan kisah ini? Saya cuma ingin bicara tentang profesi wartawan. Ketika dulu banyak orang tak menyukai pekerjaan ini, saya justru memilihnya. Dengan risiko tak akan memperoleh kemewahan hidup, saya tetap jalankan pekerjaan-pekerjaan jurnalistik.


Saat orang mencibir, saya terus berkeringat mengejar berita. Dan selama kurun 34 tahun ini, saya menangkap berbagai-bagai perangai. Misalnya, saya kesal jika mendengar alasan pelamar yang mengatakan, keputusannya jadi wartawan karena tidak diterima bekerja di bank. Saya palak tatkala mengetahui, pekerjaan wartawan mereka jadikan stepping-stone hingga ada pekerjaan lain yang lebih baik. Saya marah ketika mendeteksi pendapat yang mengatakan, jadi wartawan adalah cara yang paling baik untuk cari uang di dalam amplop. Saya akan mengamuk kalau ada yang berkata bahwa setiap orang bisa jadi wartawan tanpa perlu keahlian khusus, tinggal melamar dan bersedia bekerja dengan gaji pas-pasan, maka cukup. Saya murka jika mendengar pendapat yang bilang wartawan adalah profesi biasa yang bisa dilakukan setiap orang.


Ini kan kurang ajar. Orang-orang kayak begini tidak tau betapa sulit untuk jadi wartawan. Saya dan teman-teman setiap hari bertungkus-lumus hanya karena ingin menulis bagus dan tak ingin kertas ketikan kami dibuang ke keranjang sampah berulang kali oleh para redaktur. Orang-orang yang menganggap pekerjaan wartawan itu gampang, adalah orang yang sesat. Mereka sangat tidak menghargai, karena tidak mengerti bagaimana proses kelahiran sebuah berita, pintar mengawali dengan lead, mampu mengisi badan berita dan mencermati sisi-sisi penulisan agar menjadi kaya. Bahkan untuk menulis judul saja ada ilmunya. Tahukah mereka akan itu?


Maka ketika Desember lalu saya bertemu seorang direktur yang -sengaja atau tidak- masuk dalam rombongan wartawan untuk ikut dalam Kunjungan Presiden ke luar negeri, saya berdoa dalam hati, mudah-mudahan Pak Direktur itu mampu menjalankan fungsinya sebagai wartawan. Saya yakin laporannya akan bagus, karena wajahnya yang bersih memperlihatkan kepintaran. Apalagi dia terdengar fasih dan bisa bicara tentang apa saja dengan nada menggurui kepada orang lain. Gayanya pun sudah pas. Begitu pesawat cruising, dia langsung buka laptop dan mulai kutak-katik. Hebat nian dia, kata batin saya senang.


Namun kesenangan itu lenyap begitu mendarat di negara lain. Tatkala semua wartawan lain sibuk mengejar berita dan menulis melapor untuk media masing-masing di tanah air, dia justru keluyuran. Ngobrol sana, ngobrol sini. Mengagumi kehebatan negara lain dan mencemooh perangai bangsa sendiri. Ketika semua wartawan menghadiri konperensi pers, dia tidak nongol. Apakah karena dia juga harus menemani Presiden Direktur perusahaannya yang juga menyusul datang? Entahlah pulak. Cuma yang paling celaka, setelah dua hari di luar negeri, dia menghilang. Kata orang, dia pulang duluan.


Pulang? Kok bisa ya? Padahal Presiden masih punya banyak agenda yang pantas diliput dan laik berita, termasuk Kunjungan Resmi lanjutan ke berbagai negara lain. Dan event di Kuala Lumpur sungguh sangat teramat penting. Pertemuan Tingkat Tinggi ASEAN ke-XI dan Pertemuan Asia Timur itu dihadiri oleh seluruh Kepala Pemerintahan, mulai dari PM Malaysia, Presiden Pilipina, PM Singapore, PM Thailand, PM Vietnam, PM Kamboja, PM Laos, Sultan Brunei, PM Myanmar, Presiden Korea Selatan, PM Cina, PM Jepang, PM India, PM Selandia Baru hingga PM Australia dan PM Rusia.


Pulang? Adakah hal lain yang sepenting itu? Lantas, apa manfaat yang diberikan medianya kepada masyarakat Indonesia yang ingin mengetahui tentang kunjungan Kepala Negara? Suatu saat saya ingin sampaikan kepadanya, kata wartawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan seperti ini: orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat dalam surat kabar, majalah, radio dan televisi. Kalau ada wartawan yang ikut rombongan Presiden, tapi tidak melakukan hal itu, maka sia-sialah fasilitas yang disediakan oleh negara.


Di Hari Pers Nasional (HPN) tanggal 8 Februari ini, sebenarnya saya ingin bersenang-senang sajalah. Tapi jiwa saya yang terperangah lebih memilih untuk merenung. Saya merasa takjub dan heran melihat profesi wartawan yang saat ini menjadi idaman orang. Semua mau jadi wartawan. Pengusaha besar ingin jadi wartawan. Pemilik media ingin disebut sebagai Tokoh Pers Nasional. Ingin dekat dan minta duduk di samping Presiden. Ingin berkelebat di istana, dekat dengan puncak kekuasaan. Padahal menulis lead berita atau caption foto saja mungkin tak pernah. Tak bisa. Saya khawatir di benak orang-orang semacam ini ada anggapan, bahwa jika mereka punya uang untuk mendirikan media, maka otomatis mereka bisa jadi wartawan dan punya kartu pers.


Wah, sungguh sebuah pikiran yang berbahaya. Sosok wartawan sama sekali tidak terbentuk oleh modal, dana dan uang. Wartawan yang profesional dibentuk oleh karya dan pengabdian dalam perjalanan panjang yang meletihkan, sekaligus menggairahkan. Bertahun-tahun harus ikut rentetan ujian agar bisa jadi calon anggota, anggota muda dan anggota.


Saya dan teman-teman tidak jadi wartawan karena ingin berakrab-ria dengan Presiden dan pusat-pusat kekuasaan. Kami jadi wartawan bukan karena mau hidup bermewah-mewah atau ditakuti oleh para pejabat. Kami cuma punya alasan-alasan sederhana untuk menjadi wartawan. The farmers of journalism...who love the good rich soil...and like to plunge their hands into the dirt, begitu ujar Tom Wolfe. Yaitu, tatkala tulisan kami bisa membuat orang lain merasa lega dan tersenyum.


So what gitu loh!?

Dimuat di majalah B-Watch No. 07, Februari 2006

Kamis, Juni 12, 2008

Merawat SBY, Dirawat SBY


Ask not what your country can do for you,
ask what you can do for your country.

- John Fitzgerald Kennedy (1917 - 1963)


Bukan satu-dua kali saya mendengar orang-orang mengeluh. Bagai kerdum yang berlaga-laga, keluhan itu tanpa aturan memasuki liang telinga dan merambat ke pusat syaraf. Apalagi akhir-akhir ini. Keluhan itu semakin bertambah banyak dan sering, tumpah sebagai dampak dari kemelorotan ekonomi yang sangat dirasakan. Kebijakan yang dinilai tidak bijak, adalah hal yang paling nyaring disuarakan. BBM naik. Bubungan harga. Biaya hidup yang semakin hari semakin tinggi. Semua mahal, sulit terjangkau.


Satu-dua demonstrasi terjadi juga di depan istana, sebagai bentuk ekspresi lain dari keluhan. Mereka bergerombol, berteriak lepas ke udara bertuba, untuk kemudian dihalau pergi atau digiring masuk ke mobil bak terbuka. Setelah itu senyap. Mereka akan kembali melenguhkan keluhan lewat obrolan. Bercakap-cakap sesama kelompoknya, menggerutu dan menyuarakan complaint di bawah permukaan.


Kutubnya menjurus ke satu titik: Pemerintah. Dan di tengah kutub itu, sebagai nucleus, terdapat Presiden SBY. Ya, apa boleh buat. Menjadi orang nomor satu dan berada di atas selalu mendapat terpaan angin kencang. Apalagi menjadi Presiden Indonesia. Siapapun mengetahui hal itu. Seandainya Gaius Julius Caesar hari ini tiba-tiba hadir dan memegang tampuk sebagai Presiden Indonesia, maka taruhan iris telinga, negarawan besar ini pasti akan keteter juga. Kita hidup di alam yang gamang, dengan bumi di bawah bergetar dan langit di atas runtuh. Kemana kita akan berpegang?


Mungkin kita tidak bisa berpegang pada apa-apa atau pada siapa-siapa. Jemari kita tak lagi kuat memeluk pilar besar yang mulai retak. Kita lemah dan tak berdaya. Namun harus diingat, kita tak mudah menyerah, apalagi kalah. Karena kita bukan manusia rombeng. Kita masih percaya pada junjungan kita, Kemahaan Agung, yang mudah-mudahan masih memberi kita keyakinan. Keyakinan itulah kemudian yang membuat kita masih menggeliat, terus berupaya. Dan percaya.

Bersama kita bisa. Jargon masa Pemilu itu masih bisa dipakai saat ini. Sebab jika kebersamaan pun sudah menipis, maka asa akan menguap, hingga akhirnya kita tak punya apa-apa lagi. Selangkah demi selangkah kita berjalan, meski lambat dan tersendat, namun penuh keseriusan.

Pemerintahan SBY ini terlihat sangat serius. Dalam mengikuti perjalanan Presiden ke Malaysia dan Thailand Desember lalu, kesan itu mencuat kuat. No time to waste. Seminggu yang padat, tujuh hari yang penuh jadwal, dan siang malam yang penuh perkutatan masalah. Serta tindak nyata. Perbincangan ASEAN, pertemuan East Asian Summit dan perundingan bilateral selalu berujung kepada tindak nyata, tidak lagi sekedar wacana. Beberapa perjanjian dagang digolkan, serta beberapa kesepakatan diberi anggukan. Amin.


SBY rupanya mahir memainkan peran. Gambaran layar kaca yang selama ini masuk ke rumah-rumah, tampaknya belum meng-capture kepiawaian sang Thinking General. Di forum internasional, beliau tampil mengkilat. Ketangkasannya berdialog dalam bahasa Inggeris membuat dia cukup menonjol. Kewibawaannya membuat suasana ruangan rapat jadi terjaga. Dan gesture, bahasa tubuhnya yang selama ini terlihat agak kaku, tiba-tiba mengalir luwes dengan keakraban, tak ubahnya bagai penari kawakan yang menakjubkan. Di hadapan komunitas Indonesia di Kuala Lumpur dan Bangkok, SBY berkomunikasi dengan cara yang sangat human. No more promises, semuanya tindak nyata dengan cara-cara one minute management. Satu masalah trafficking diselesaikan dalam hitungan jam setelah Lastri yang menjadi korban, curhat kepada Ibu Negara. Malam itu juga, Kapolres Asahan AKBP Mahfud Effendi melaporkan kepada Presiden di tengah masyarakat Indonesia di Kuala Lumpur: kedua pelaku trafficking sudah ditangkap.


Suasana pertemuan dengan komunitas Indonesia itupun sangat cair. Semua orang bisa bertanya apa saja, tanpa harus di-screening lebih dulu. Ceplas-ceplos, dengan sedikit kekurangan dan kelebihan di sana-sini. Namun dari sudut komunikasi, tujuannya sampai. Information in, information out. Lugas, jelas dan tuntas. Masalah pungli di tubuh imigrasi langsung disikapi, dan tepukan riuh rendah langsung bergema.


Masihkah kita harus menggerutu? Jawabannya bisa ganda. Ya dan tidak. Ya, jika kita masih menuntut agar semua urusan harus selesai over night. Kita lupa bahwa kita tidak punya lampu Aladdin untuk digosok, dan tidak ingat bahwa Roma tidak dibangun dalam satu hari. Tidak, jika mengerti bahwa kita harus menapaki anak tangga pertama sebelum sampai ke anak tangga ke seratus. One step at the time. Tidak, jika kita yakin bahwa arah dan lajurnya sudah benar. We’re on the right track. Kita harus merawat Indonesia bersama-sama. Kita harus merawat SBY juga. Bukan malah mengharap SBY yang merawat kita. Ini perlu dituliskan, karena akhir-akhir ini terdengar juga gerutu yang menyayangkan.


“SBY kurang merawat teman,” kata mereka-mereka yang dulu pernah dekat, mengusung dan menggadang-gadangkan SBY. Ketika diwawancarai Peter Gontha di acara Impact QTV, Eggi Sudjana terkesan mengeluhkan hal itu. Sys NS bahkan mengundurkan diri dari Partai Demokrat. “Saya tidak merasa dibutuhkan di sana,” katanya jenuh. Teman lain bilang, SBY kini punya banyak teman-teman baru.


Change your friends. Begitu kata Presiden Perancis Charles de Gaulle tentang teman-temannya. Ada apa dengan teman baru? Tidak semua teman baru mencelakakan, dan tidak seluruh teman lama memberi manfaat. Tapi memang, kehati-hatian sangat dibutuhkan, agar penyaringan terhadap inner-circle berjalan akurat. Lagipula, teman memang datang dan pergi. If a man does not make new acquaintance as he advances through life, he will soon find himself left alone. A man, Sir, should keep his friendship in constant repair, ujar Samuel Johnson, penulis kamus ternama dari Inggeris.


Ini memang sulit. Sebagai nucleus, presiden memang magnit yang membuat orang ingin tersedot masuk ke medan lingkarannya. Everybody loves a winner. Tetapi itupun bukan karena semata-mata SBY seorang pemenang, tetapi lebih disebabkan penilaian yang tertanam di benak orang bahwa SBY is the ruler, yang membuat orang-orang merasa mutlak harus mendekati SBY, for good reasons or for bad reasons. Apapun.


Tapi menunggu dirawat oleh SBY rasanya kurang etis. Terkesan manja. Saya lebih cenderung memberi jempol kepada orang-orang yang berniat merawat SBY. Sebagai presiden pilihan rakyat, SBY harus dijaga dan dipagari. Jangan biarkan terkontaminasi. Jangan biarkan jalan sendiri. Jangan diamkan hingga bisa terperosok dalam blunder, baik yang tidak diciptakan, maupun yang -sengaja atau tidak sengaja- diciptakan. Beri masukan yang akurat, apapun akibatnya bagi sang penyampai.


Ketulusan dan keterbukaan hati presiden pilihan rakyat ini selalu membuka peluang bagi orang lain. Dia sedang berbuat dan harus sangat hati-hati. Pendapat penyair Jerman Bertolt Brecht tentang teman-teman pantas dicamkan. I don't trust him. We're friends, katanya. Ketidakpercayaan justru timbul karena keakraban. Karena itu sebaiknya mari kita merawat SBY. Jangan minta dirawat olehnya. Merawat presiden pilihan rakyat, dalam arti yang luas sama dengan merawat masyarakat Indonesia, dan identik dengan merawat Indonesia.


Dimuat di Majalah B-Watch, edisi Januari 2006

Rabu, Mei 14, 2008

gonjing@gonjangganjing.media


On the whole I would not say that our Press is obscene.

I would say that it trembles on the brink of obscenity.
-
Francis Pakenham, Lord of Longford (1905 - 2001)

Pelan-pelan, rupanya kegerahan itu menjalar. Di permukaan, pada gerak laku dan tindak tanduk santun dan beradab, keadaan terkesan ajek. Business as ussual. Tak ada yang perlu dirisaukan, dipersoalkan, apalagi didebatkan. Tapi, seperti bara api yang membakar dari dalam, pelan-pelan sekam berubah warna jadi hitam. Hangus. Dan mulailah gerah menghinggapi. Mata perih menyaksikan kepincangan. Hati mengkal melihat kesewenangan. Leher panas mendeteksi hal yang tidak on track. Dan katupan bibir akhirnya tak bisa menyimpan uap yang tersimpan di rongga mulut.

“Kita harus bicara!” ujar orang-orang yang terkena dampak langsung dari kebijakan manajemen. Pihak lain cuma geleng-geleng kepala sebagai tanda tak habis pikir. Mereka sebenarnya tak mau usil dengan urusan lain, apatah pula mau ribut-ribut. But their eyes still see, their ear still listen. Apalagi terhadap hal yang menyangkut dunia pers. Maafkan mereka, karena sebenarnya bukan protes yang jadi tujuan, kecuali karena adanya desakan takdir yang menjadikan mereka pintar sehingga tak pantas memejam mata dan menulikan telinga.

Apa soal? Semata-mata mungkin berasal dari sebuah pagi yang terasa tidak lagi seperti ribuan pagi sebelumnya. Matahari memang masih terbit dari punggung bukit di arah Timur, namun nuansa sudah beda. Tak terdengar lagi suara penyiar kesayangan dari radio FM pilihan. Hilang sudah dialog bermutu antar pakar jempolan yang membincangkan current issues. Dan celakanya, koran pagi pun terlambat datang. Sebuah suratkabar baru mendahului, datang ke meja teras dengan stempel besar: Nomor Promosi. Komposisi itu sama sekali tidak sinkron dengan seruputan kopi dan kepulan asap rokok.

Memang, hari-hari belakangan ini, kenikmatan mendengar beberapa radio FM agak mencungkil gendang telinga. Mana kenakalan canda Bang Ifeb ketika mengantarkan komposisi classic rock? Di mana perbincangan Sabtu yang cerdas dan dialog Senin yang tangkas? Ke mana koran yang sudah selama 40 tahun terus menerus memompakan pengetahuan? Kok tiba-tiba ada koran lain yang datang dengan kedangkalan analisa? Bahkan presenter TV yang selalu tampil pas kini sudah berganti komat-kamit penyiar kenes. Bah!

Media sedang gonjing. Beberapa stasiun radio sudah berganti pemilik. Keseimbangan yang selama ini berjalan harmonis, terusik. Koran baru muncul layak mengumumkan perang kepada keseimbangan eksistensi dunia pers. Apalagi -konon- pemunculan itu dibarengi dengan ikrar akan memporakporandakan semua media yang saat ini eksis. Kekhawatiran menyeruak. Serombongan loper koran datang melakukan curhat, menyatakan bingung berjualan. Ada iming-iming, ada intimidasi, ada threat. Jika mereka menjual koran B, maka mereka akan kehilangan hak jual koran A. Tapi itu sah saja. Melakukan proteksi pasar untuk produksi adalah keharusan. Apalagi jika pesaing baru tampil arogan dengan niat yang pantas diragukan. Apakah media itu akan benar-benar dijalankan dengan jurnalisme yang profesional, atau hanya mau dijadikan alat untuk berpolitik? Hal ini mencemaskan dan perlu diteliti. Dekat-dekat 2009 nanti, saat Pemilu akan berulang, peran media akan sangat besar. Maka pihak yang memiliki jaringan media luas dengan cakupan radio, televisi dan cetak, akan ambil peluang untuk menawarkan jasa kepada calon pilihannya. Para kandidat capres dan cawapres pun akan sangat mungkin tergiur, karena sekali bersuara, gemanya akan berkumandang ke seluruh pelosok negeri. Sekali berpendapat, masyarakat luas akan langsung menelannya. Bukan tidak mungkin muncul bargaining di antaranya.

Kita khawatir. Lord Hanson pernah berwanti, always be nice to the media. Tapi perlu diingat, berbaik-baiklah hanya kepada media yang baik dengan jurnalisme profesional. Terhadap media oportunis yang diragukan kebaikannya, lebih baik menjaga jarak, agar tidak terkontaminasi. Apalagi jika media itu dilahirkan oleh tangan saudagar yang bukan orang pers murni, yang belum punya pengalaman, tidak pernah jadi wartawan, menulis tidak bisa, meski hanya sebuah lead. Jadi wartawan tidak mudah, bung! Mungkin saudagar bisa membeli kewartawanannya, tapi tidak roh-nya.

(Dimuat di Majalah B-Watch No. 5, Edisi Desember 2005)

Rabu, April 23, 2008

Desperate Households

"My country, right or wrong" is a thing that no patriot would think of saying,
except in a desperate case.
It is like saying "My mother, drunk or sober."
- G. K. Chesterton (1874 - 1936)

Kita memang tidak tinggal di Wisteria Lane. Karena itu, hidup kita tidak seputus-asa mereka, Bree, Susan, Gabrielle dan Lynette. Dan tidak perlu bunuh diri seperti Mary Alice. Namun kita juga tidak seberuntung mereka, yang meski diberi predikat Desperate Housewives, tetap saja tidak pernah khawatir akan pengadaan hidangan di meja makan.

Kita akan termangu seusai memelototi foto seorang ibu tua duduk menunggu jerangan di belakang rumah gedeknya. Api mengepul dari pembakaran kayu. Tidak Elpiji, tidak minyak tanah yang memasakkan makanan di panci usang. Bahan bakar itu bukan alatnya, meski satu kali tatkala bulan purnama, pernah terbersit keinginan untuk memiliki kompor minyak Butterfly, atau bahkan kompor gas Rinnai.

Tapi dia buru-buru menepisnya. Merasa bersalah. Mungkin marah, dan menyesal punya pikiran seperti itu. Ada juga rasa dosa karena sudah melanggar janji agar tidak bermimpi tentang modern conveniences, hal-hal yang bisa membuat hidup lebih mudah. Karena di hari-hari ini, semua itu bagai arok di buruang tabang tinggi, punai di tangan dilapehkan. Apalagi setelah suaminya yang kuli bangunan meninggal. Punya punai di tangan saja sudah susah, kenapa musti berharap lain?


Perempuan berusia 70 tahun ini selalu duduk dengan kedua tangan tengadah. Mula-mula hal itu dilakukan dengan sengaja, karena dia ingin menerima sesuatu pemberian, dari manusia, dari pemerintah atau dari Tuhan. Seperak dua perak akan sangat berguna untuk menyambung hidup, dalam arti yang harfiah. Namun entah mengapa, bertahun-tahun ini, kedua telapak itu refleks menengadah, selalu terlentang menghadap langit.

Toh pemberian tak kunjung datang. Bahkan Subsidi Langsung Tunai (SLT) pun tak jatuh menimpa garis telapaknya. Petugas dari Badan Pusat Statistik (BPS) selonong saja tanpa alasan. Mungkin garis tangan yang salah, tidak ada guratan di bukit keberuntungan. Atau karena postur tubuh gemuk, BPS melihatnya sebagai orang cukup makan. Bisa jadi juga, karena dia lupa tempat menyimpan KTP. Tapi apakah jika tanpa KTP, otomatis dirinya bukan lagi penduduk Indonesia, dan hilang hak sebagai warga negara? Di sela-sela minimnya pendidikan, dia tahu, KTP cuma soal administrasi. Keindonesiaannya tidak menjadi sahih hanya lantaran KTP. Rambut, daging dan seluruh indranya yakin bahwa dia pemilik tanah ini. Dia tidak perlu cerita tentang nenek moyangnya yang sudah ada di Jawa 1.8 juta tahun, hanya untuk diakui sebagai anak bangsa. Dia tidak perlu hapal Pancasila dan lagu Indonesia Raya untuk menjadi Indonesia. Umur sudah tua, masalah hidup sangat berat, dan hari-hari dipaksa sibuk dengan urusan perut.

Besar kemungkinan, satu-satu kesalahan adalah karena dia cuma perempuan miskin dengan tangan tengadah. Tinggal di bantaran Kali Caringin dan bukan di Wisteria Lane. Sehingga petugas BPS yang khawatir mengotori ujung pantalon tidak menghampirinya. Kesalahan bukan pada bunda yang mengandungnya, tetapi kepada garis tangan. Dia tahu, sudah ada presiden baru pilihan rakyat yang akan memberi perbaikan terhadap hidupnya. Lihatlah wajah diam dan tulus Pak SBY itu, sukar dipercaya dari wajah itu keluar keputusan yang menyengsarakan.

Karena itu tetaplah tabah. Bertahan. Dia tidak ngerti hitung-hitungan Pak Ical, tapi menerima dengan rela. Cuma ketika harga minyak tanah dan kebutuhan lain meroket tinggi, dan dia tak mampu beli lagi, kerelaannya terusik, berubah menjadi keterpaksaan. Hatinya menggerutu, tapi itupun cuma sebentar. Sebagai warga negara yang baik, dia harus selalu ikut. Cuma, dia merasa ada sesuatu yang menggelitik hati, dan nyaris tersenyum. Kok sekarang banyak orang berusaha mendapatkan predikat ‘miskin’, sama dengan ketika banyak orang berusaha mendapatkan predikat sarjana dengan ijazah dan perguruan palsu, ya?

“Pokoknya sekarang mah berat. Perang aja sekalian..,” seseorang berkata. Begitulah kalau perut tidak terisi, otak tidak bisa mikir dan perangai jadi mokal. Sang ibu tua tidak serta merta setuju, karena dia pernah merasakan perang ketika banyak orang-orang mati dengan luka berdarah. Di masa kini, kalaupun banyak orang-orang akan mati, selain bukan karena teroris, pastilah mati tanpa berdarah karena sakit atau perut kosong. Sangat beda kan? Dia juga ingat tahun-tahun sekitar awal 60-an, tatkala harus ikut antri untuk memperoleh beras catu, gula catu, sabun cuci catu dan keperluan rumah tangga catu lainnya. Toh semua kerabat masih bisa bernapas dan sehat-sehat saja. Di saat-saat krisis ekonomi beberapa tahun silam pun, dia juga masih bertahan. Demonstran datang dan pergi, presiden gonta-ganti, toh segenap handai tolan hidup. Memang di sinilah hebatnya penduduk negeri ini. Di goyang gempa, dilanda tsunami, diharubiru, dicekoki harga selangit -namakan apa saja- eh, tetap bisa bertahan. Hidup, lagi!

Mudah-mudahan cuma sedikit orang yang tidak menyadari bahwa hidup tidak hanya untuk kita di hari ini saja. Masih ada hidup orang lain, anak dan cucu kita, yang berhak menikmati Indonesia. Kita perlu pikirkan keluarga-keluarga yang ini hari terpaksa mengirit keras dengan mengurangi jatah gizi dan susu bagi anak-anaknya. Semua membubung, dengan atau tanpa subsidi 100 ribu rupiah sebulan, daya beli masyarakat sebenarnya sudah merosot jauh. Pikir sajalah, seratus ribu sebulan, bisa dibeliin apa seh?

Ini ancaman besar bagi masa depan bangsa. Menurut data, jumlah balita kurang gizi mencapai 23 juta jiwa. Jika tidak dicermati dan disikapi dari sekarang, menurut Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI, maka akan tercipta Generasi Otak Kosong. Penyikapan melalui SLT memang salah satu jalan keluar. Tapi yang gampang, bukan yang baik. Hendaknya hanya menjadi program darurat dalam tiga bulan. “Ini SLT harus sementara dan hanya sarana kedaruratan. Sesudah itu harus diselesaikan melalui penciptaan lapangan kerja. Orang miskin akan tetap miskin meski diberi baju baru dan jam tangan baru. Orang miskin akan lepas dari kemiskinan kalau diberi pekerjaan. Diberi kesempatan menyalurkan kemampuan produktif yang ada pada dirinya di dalam proses produksi,” kata Ekonom Sri Edi Swasono.

Saya jadi teringat ucapan Chesterton yang lain. Penulis dan penyair heretik Inggeris ini bilang: “Charity is the power of defending that which we know to be indefensible. Hope is the power of being cheerful in circumstances which we know to be desperate” Kita tidak pernah punya cita-cita untuk jadi orang miskin. Tak ada yang kepingin jadi duafa. Dulu, tidak ada ayah bunda yang berdoa agar anaknya suatu saat kelak akan memperoleh SLT. Terus menerus menengadah tangan dan meletakkan di posisi bawah, sangatlah tidak terpuji. Orang-orang akan menjauh. Di luar negeri, banyak orang malu mengaku dari Indonesia, negeri yang banyak berhutang. Harusnya tangan kita bisa memberi. Atau paling tidak mengacung-acung seperti Presiden saat sedang beramanat. Body languange sangat diperlukan, wajah sumringah tanpa kerut dibutuhkan, senyum perlu dilebarkan, agar masyarakat merasa bahwa kenaikan BBM ini adalah persoalan anteng. Agak beda dengan dulu, Andi Malarangeng sekarang paling piawai dalam soal begini, selalu berusaha melihat dari sudut cerah,
positive thinking even in negative situation.

Hoi tunggu, entah kenapa, secara tidak sengaja di telinga saya tiba-tiba mengalun suara Barbra Streisand, ....where are the clowns, they ought to be clown, quick send in the clowns...., sementara di mata saya terpampang bulir air yang merayap di pipi Charlie Chaplin saat di belakang panggung. Seorang penghibur sebenarnya tetap punya tangis bagi diri sendiri, meski harus senantiasa tersenyum lebar di depan publik.

Tampaknya kita harus bertepuk tangan untuk diri kita masing-masing. Itu salah satu cara untuk menjadi optimis. Atau nonton komedi slapstick di TPI. Memaksa diri tertawa atas lawakan yang tidak lucu. Perut memilin? Senyum sajalah, perut lapar bisa hilang dengan ngobrol dan tidur. Yakinlah dunia akan ikut senyum juga. Aksi demonstrasi pun punya senyum di sela-selanya. The mass of men lead lives of quiet desperation, ucap Henry David Thoreau. Dengan senyum ketenangan kita bisa menjadi orang yang paling mengerti akan berbagai kebijakan. Lagipula kita khawatir juga, seandainya ketidakakuran diartikan sebagai sikap yang tidak mau mengerti dan tidak cinta kepada negeri ini. Pemuka-pemuka bangsa yang berlagak bijaksana bilang, kita harus mencintai Indonesia, dalam keadaan makmur dan dalam keadaan terpuruk. Padahal kita tahu, kalimat itu hanya diucapkan terpaksa, ketika berada dalam keadaan putus-asa.

Ini pahit! Ini pilihan pahit! Tapi harus ditelan. Apa boleh buat. Kita memang tidak tinggal di Wisteria Lane, tapi tinggal di pelosok-pelosok Indonesia dan hidup berhimpit-himpit di tempat yang pantas diberi nama Hysteria Lane. Kita mungkin manusia-manusia histeris yang rindu berkata-kata tapi tak punya suara, ingin berteriak tapi tak punya tenaga. Kitalah Desperate Household, yang kini semata mencoba bertahan hidup -dalam arti harfiah- dengan setiap hari berusaha menghidangkan nasi dan lauk pauk di meja makan, untuk keluarga bersahur, berbuka puasa dan nanti, untuk menjamu handai tolan di hari raya Ied yang fitri.

The years of living dangerously. Di manakah Tuhan hari-hari ini?

(dimuat di majalah B-Watch edisi 04, 2006)