Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 18, 2008

Melepas Windu Ke-Tujuh


Kulepas windu ke tujuh dengan jejak,
bekas-bekas langkah.
Dia yang telah menggurat hidup dengan lantang.
Aku tiba di titik usia ini setelah mencercah garis panjang,
upaya abadi mencari jati.
Masih ada rindu yang tipis,
terus terasa detak yang lemah,
tetap hadir cinta yang samar.
Tanpa kehadiran sesiapa.
Pepohon Randu terus membuang bunganya.
Kapuk-kapuk melayang menuruni tangga udara.
Hujan yang tetes.
Hari yang gelap.
Rumput kaku menghunjam awan.
Senandung sepi terhambung ke langit,
pilu menyayat.
Suara sendiri begitu nyata,
sangat kentara.


Here, there & everywhere, 31 Agustus 2008

Selasa, Agustus 12, 2008

Dingin yang Mendekap Erat


Sebuah ketiadaan terpental-pental menimpa ubun

ketika laut mengirimkan angin ke ketinggian ini.


Di Jakyakdo,

kumelepas segala yang membelit.

Tanpa wajah aku datang

tanpa hati aku pergi.


Di sela-sela hutan bambu

ada terdengar suara sunyi bergemerisik

menyusuri helai rambut dan bibir yang perih.


Toh aku tak melihat siapa-siapa.

Pinus-pinus tua yang tegar berdiri menampar pipiku berkali-kali

mengajak siuman

membujuk keharuan.


Tetap: kau tak ada di sini.

Kesentosaan adalah kehahikian

dan kau memang tak pernah ada di sini.


Cuma dingin dan jaket yang mendekapku

Erat.

Incheon, Korea Selatan, 22 November 2006

Sabtu, Agustus 09, 2008

Ada Nol di Hati


Bunga-bunga kapas menerbangi hari

merambat menuruni tangga udara
untuk tiarap menutup bentangan rumput.

Inilah saat-saat nol
tatkala etika tak berujud rupa.


Botani Square, Bogor, 13 April 2008

Kamis, Juni 12, 2008

Dasar Aku!


Seharusnya aku biasa-biasa sajalah,
bergeming saja atas kehadiranmu
kembali ke ruang rutinku.

Lagipula, telahkah aku pasti dengan tindakan

dan tak akan punya rasa sesal?

Seharusnya aku cuma senyum-senyum saja dan bilang :

''Yang segini ini saja sudah cukup bikin aku berkomentar

bahwa hidup ini memang lumayan indah.''

Lagipula, tidakkah itu fantasi, fatamorgana dan maya?

Namun,

mengapa aku masih terus saja
memencet-mencet nomor teleponmu?

(Dasar aku!)

Medan, 1 September 1994

Senin, April 28, 2008

Ruh Gemuruh

Detak jantung masih gemuruh,
namun apakah itu untuk puisi?

Di tengah rutinitas hidup
dan tanggungjawab keluarga,

kucoba untuk tak lagi menemu wajahmu.
Tidak pernah berkelebat bayangmu, hei tuan puteri
yang pernah menggugah emosi dan kenakalanku!

: “...... Di mana kau sekarang?”

Cinta memang tak pantas dibicarakan lagi.
Tapi aku sering tak mampu
melekangkan dari hidupku.


Di Seattle yang berkabut,
aku masih dibalut rasa yang membuatku terpental.
Dan keriuhan Pike's Market di sepanjang garis pantai
membangunkan ruh-ku yang sesal
karena telah menghunjamkan pisau
ke ulu hati sendiri.


: “......Apakah aku bahagia?”

Detak jantung memang masih gemuruh,
namun bukan untuk puisi ini.
Apa hanya kerinduan akan Indonesia?
Tetapi, mengapa wajahmu datang
dari kabut yang ingin kukuakkan?


: “.......................Apakah kau bahagia?”

Yang,
kita yang ini hari memang bukan kita yang dulu.
Namun kita yang dulu,
bisa menjadi kita yang ini hari.

Seattle, 23 September 1991

Selasa, April 22, 2008

Pieces of April, 1995

Ada camar, mungkin pula elang
yang menyambar ikan berenang.
pada saat kita duduk di siang terik,
mengunyah pesanan
sepiring kwetiau dan goreng udang tepung.

Ada nyanyi dalam hati,
yang tidak seperti musik runyam di loudspeaker
dengan bunyi kresek dan tempo yang kecepatan.

Ingin aku bersandar-sandar padamu.......,
tatkala kita berbincang mengenai eksistensi
dan status kehidupan masing-masing.

Tidak menyakitkan memang!
Malah kita bisa tersenyum dan mengatakan,
mereka, yang masing-masing kita miliki
adalah manusia yang komplit,
meski kita juga menyadari :
mereka bukan mimpi-mimpi kita,
tetapi itulah yang terbaik hingga kini.

Entah mengapa aku merasa tegar dan kukuh
mendengar tuturanmu.
Padahal kemarin, aku sering remuk tak berbentuk
jika membayangkanmu lagi dan lagi.

Mudah-mudahan
Tuhan tidak membiarkan kita merobek hati sendiri.

Belawan, Sabtu, 29 April 1995

Senin, April 21, 2008

Di Atas Cora Princess

Apa yang kuperoleh di sini?

Wajah-wajah berminyak
dan wangi parfum yang meledakkan hidung
bercampur bersama tawa dan ketegangan,
dengan dingin yang membekukan jemari.

Di antara kartu-kartu yang bertebar
dan chips yang bercorak warna
aku tenggelam tak berbentuk.
Memang ada kalanya tawa menggelegar
jika angka 21 bisa terkumpul.

Entahlah.

Aku cuma makan, minum dan nonton film.
Ada juga yang bagus, seperti Backfire.
Atau aku cuma akan nyanyi-nyanyi di karaoke :
“Faded photograph,
covered now with lines and creases,
tickets torn in half, memory in bits and pieces.”

Sembari meneguk Tia Maria,
aku ingat kau.
Angin laut yang tak membawa debu mengusap wajahku.

Apa yang kuperoleh di sini?

Di tengah baur uang yang bertumpuk,
aku toh masih merindukan es teler dekat Medan Plaza.
Entahlah.

Mungkin karena aku berharap bisa jumpa kau di situ.
Maret 1992

Minggu, April 13, 2008

Obsesi

Kucari-cari berkas wajahmu di antero kota.
Gedung-gedung tinggi,
jalanan berdebu
dan billboard yang terpampang nyalang
tak menyiratkan kau ada di situ.
Aku kehilangan!

Aku berjalan kaki dengan tangan di saku,
menerawang ke dalam batin,
dan menemu,
selama ini aku telah terlalu tegar.
Tetapi kaku!

Maka aku pun mencari-cari wajahmu
di rindang pepohonan kota
di antara teman-teman kita.

Ingin aku,
kau datang untuk melunakkan hati laki-lakiku,
memberitahuku
bahwa hidup juga bisa sangat penuh rasa
dan menangis tidaklah hal yang memalukan,
meski bagi pria tua sepertiku.

C, aku ingin menyusupkan kepalaku ke dadamu
berhenti istirahat di sana dan menarik napas yang dalam
mengatup mata seraya berkata :
“Kutemui kenyamanan
saat mendengar degup jantungmu!
Medan, Kamis 6 April 1995

Jumat, April 11, 2008

Anak Malam

Kuketuk jantung malam dalam perjalanan baja
Aku pergi menemu malam
Di ujung aku berpaling, hanya musik transisi
Dan kau yang membekas dari imaji

Suara-suara asing merangkak sepanjang dinding
Siapa yang menimbuni lahatnya sendiri
Hidup jadi memburu cemas
Dan engkau yang terlepas

Kuketuk jantung waktu dengan tapak perunggu
Aku pergi menemu hari
Begini lebih baik: menyanyi, menyanyi
O, tidurlah anak malam, tidurlah si buah hari

(Dibacakan pada acara Rest & Relax, Prambors Rasisonia, 6 Oktober 1982)

C.R.U.M.B.L.I.N.G.D.O.W.N.

Jika Tuhan memang ada,
pastilah Dia mengamatiku saat ini.

Sudah berbulan-bulan aku merasa bukan diri lagi.
Keanehan dan gelegak impuls terangkat ke udara
dalam bentuk gelembung yang mudah terpecah.

Siapakah aku, Han?

Angkara tebal menyatu di ubun
menggerakkan tindak durjana
menghardik kepada siapa saja,
tanpa pikir dan penuh murka.

Masihkah aku manusia, Han?

Hari ini, aku terpukul dan terpental ke sudut.
Dan dalam remang yang padam, kutelaah lagi namaku
dan kupertanyakan takdirMu.

Aku tak lagi mengerti diri
dan makna yang Kau toreh di telapak ini.

Pupus sudah, segala mimpi hilang terbang
dan aku terhuyung-huyung berjalan,
satu langkah, dua langkah
dan gedebum!
Aku terjatuh!

Han, jika Kau memang betul-betul ada,
adakah Kau melihatku?

Medan, Selasa, 5 September 1995

Senin, April 07, 2008

Anak-Anak Rambut

Anak-anak rambutmu yang ramai
menyapu ke wajahku
dan hatikupun tersenyum.

Anak-anak rambut yang menutup keningmu
menggelikan mataku
dan jiwaku pun terpanggil.

Apa yang harus kulakukan, Yang?

Medan, 2 September 1994

Sabtu, April 05, 2008

Apa Yang Kuperoleh Hari Ini?

Berdiri di depanmu, melahap raut wajahmu
dan mendeteksi sikap langkahmu,
oh, rupanya kau sudah mulai dewasa!
Tak ada binar-binar lelampu disko,
tiada lagi lagak tomboi
dan sikap-sikap tak acuh
yang merisihkan pertemuan kita.

Di depanku kini,
duduk seorang puteri
yang tahu persis tanggungjawab kehidupan
dan tahu bagaimana menghargai perasaan orang lain.

Jiwakupun lantas angkat suara
melantunkan musik
yang pernah kita nyanyikan bersama
(kau ingat waktu di karaoke?)

Pepohonan kering yang layu,
tiba-tiba mrenyembulkan tunas hijau baru
bersih dan jernih tanpa debu.

Akankah dia terus berkecambah?


Medan, 31 Agustus 1994

Kamis, April 03, 2008

Kado Ulang Tahun 43

Sebaiknya memang begitu......,
kita jumpa lagi
dengan suasana hati yang tak segemuruh dulu.
Mungkin ini akan lebih baik bagi kita
yang pada hari-hari lalu
tak mengerti benar apa yang kita lakukan.

Dulu, hati kita yang liar menari di awan
berputar dalam irama yang menggejolak.
Sementara sentuhan,
dan dekapan,
dan kecupan,
kita lahirkan dengan kebimbangan,
penuh rasa takut akan segala akibat.

Yang, empat tahun yang lalu
jelas bukan saat aku berdiri di counter-mu
hari ini. Tiba-tiba aku merasa Tuhan
masih mau memberikan kado bagi ulang tahunku.

Kutatap matamu dan kuteliti hatimu,
penasaran mencari, masihkah ada bayangku di sana?

Medan, 31 Agustus 1994

Pagi di Nordstrom Cross

Dengan mulut berkabut,
tangan di kantung
dan pullover setinggi dagu,
kulangkahi lagi blok demi blok kota ini.

Dekat Nordstrom,
serombongan pelari pagi menyapaku dengan teriakan:
''Don't just sit there and doing nothing, Man!''

Kuhela nafas,
kuteguk sisa kopi dan membatin:
''Aku telah letih berlari, Man!
Tapi tetap saja masih kulihat kau
berkelebat dan melemparkan senyum!''

Seattle, September 1991

Di Sausolito

Di Sausolito,
angin dingin menerpa hati
membekukan kerinduan
yang terkubur

Di Sausolito,
pancang-pancang Golden Gate menancap dalam
membekukan pandang yang sayup

Matahari jatuh, mata hati luruh
dan kembali kukeluhkan namamu.

Masihkah kau di sela-sela jantungku?

Sausolito, 17 Agustus 1991

Di Lantai Dua 'Bed & Breakfast’


Kuhadapkan diri pada pigura
dan kulihat dirimu di sana,
sedang menatap tajam ke arahku.

Tiba-tiba aku merasa terpenjara.

Tuhan,
Sekian tahun sudah
namun namanya masih sempat kubisikkan.

Edwardian Inn, Helena Arkansas, 31 Agustus 1991