Tampilkan postingan dengan label Unauthorized Biography of Soeharto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unauthorized Biography of Soeharto. Tampilkan semua postingan

Senin, Agustus 11, 2008

GONJING (Unauthorized Biography of Soeharto)


2. Tinggal Gelanggang Colong Melayu


Inilah pekan-pekan yang menyentak dunia. Kerusuhan demi kerusuhan yang terjadi di antero nusantara telah menyita seluruh energi saya. Waktu tidur pun terganggu. Mimpi jadi buruk. Sejak kembali dari Kairo, secara total tidak ada urusan pribadi yang sempat saya pikirkan. Walau tubuh berada di Cendana, namun pikiran saya berada di seluruh pelosok nusantara. Ikut berbaris dengan para mahasiswa, bernyanyi dalam arus reformasi.


Reformasi sesungguhnya merupakan kata yang indah. Saya setuju dan tidak melihat ada yang salah daripadanya. Para unsur pimpinan MPR dan DPR yang saya terima Sabtu 10 Mei lalu juga mengisyaratkan hal yang sama. Selama 90 menit, mereka tuturkan segala sesuatu yang mereka sebut sebagai aspirasi masyarakat. Harmoko, Syarwan, Fatimah, Gafur, Irsyad dan teman-temannya meminta agar saya segera melakukan reformasi dan upaya perbaikan di berbagai bidang, politik, ekonomi dan hukum.


Saya patut mengasihani suasana itu. Inilah kali pertama mereka mencoba bicara terbuka dengan kalimat-kalimat yang -menurut hemat mereka- akan bertentangan dengan perasaan saya. Ada keberanian yang dibesar-besarkan, ada kalimat yang dipaksakan untuk menyatakan berbagai refleksi di tengah masyarakat. Dengan punggung terdorong tangan-tangan kuat yang tak terlihat, mereka maju untuk bicara kepada saya. Mereka kira semua itu akan menyinggung perasaan dan keberadaan saya. Padahal tidak. Mereka tidak salah. Jika rakyat sudah berkehendak, walau langit runtuh mereka harus bersuara. Bukankah itu tugas mereka sebagai wakil rakyat? Mengapa harus ragu?


Dan sayapun tidak harus dan tidak akan menolak. Sama seperti ketika dulu mereka datang membawa suara rakyat, yang kata mereka, masih menginginkan saya memimpin pemerintahan. Minta jadi Presiden lagi, meski saya sudah merasa renta. Sementara dunia muda ini telah banyak berubah. Diri sayapun sudah beda. Jadi presiden hingga 2003, apakah saya mampu? Pekerjaan itu terlalu berat bagi seorang sepuh seperti saya.


Saya ingin menolak. Saya tanyakan berulang kali kepada Harmoko, apakah benar rakyat Indonesia masih percaya pada saya? Saya sudah berusia 77 tahun. Saya ingatkan, agar supaya di-cek benar-benarlah daripada semuanya itu. Tetapi Harmoko dan teman-temannya tegar dan yakin. Sebagai unsur pimpinan dari Majelis Permusyawaratan Rakyat, tentulah mereka lebih jeli dan mengetahui apa yang bersarang di hati rakyat.


Mereka bilang, semua pihak berpendapat sama. Bahkan kekuatan sosial politik, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrasi Indonesia, Golongan Karya dan Angkatan Bersenjata mengatakan, adalah benar sebagian besar daripada rakyat masih menghendaki saya dan meminta agar saya menerima pencalonan sebagai Presiden untuk masa bakti 1998-2003.


Jika sudah demikian, apa yang dapat saya katakan? Baiklah. Kalau memang demikian, tentu saya akan terima semuanya itu dengan rasa tanggung jawab. Ini perlu digarisbawahi. Saya menerima pencalonan itu bukan karena kedudukan, tapi karena tanggung jawab. Lebih-lebih pada saat bangsa ini sedang menghadapi kesulitan akibat berbagai krisis. Rasa-rasanya, kalau saya meninggalkan begitu saja, saya lantas disebut sebagai tinggal gelanggang colong melayu, meninggalkan keadaan padahal saya masih harus turut bertanggung jawab.


Harmoko dan teman-temannya seharusnya melihat gelagat ini. Saya masih menerima mereka dengan senyum dan keramahan, meski sudah terdengar berita selentingan, mereka telah berancang-ancang untuk meminta saya mundur. Di sini, di bumi Indonesia yang merdeka ini, mereka bebas bicara. Hanya saja, apakah mereka tahu mana ekspresi yang benar dan mana yang salah?


Meski sungkan, mereka paksakan mulut untuk bicara.


"Maaf Pak, apakah susunan kabinet dapat diubah?”


Saya tatap mata mereka satu persatu. Mengapa tidak? Meski itu merupakan kewenangan saya sebagai Presiden, namun usul itu perlu dihargai. Untuk rakyat, saya akan segera membentuk kabinet baru yang bernuansa reformasi. Sebagai Kepala Negara, saya akan melaksanakan dan memimpin reformasi nasional secepat mungkin. Apapun akan saya setujui, jika niatnya memang baik. Menurunkan lebih dari separuh wajah-wajah yang ada di Kabinet Pembangunan VII pun, bagi saya tidak masalah. Tuntutan rakyat harus didengar, terutama terhadap Menteri-Menteri yang menurut penglihatan mereka tidak banyak membantu, malah sering merepotkan posisi saya sebagai pemimpin bangsa.


Padahal sebenarnya, mengganti seorang pejabat bukan pekerjaan mudah. Saya selalu tidak tega. Pikiran saya masih manusia dan demikian juga perasaan saya. Hal-hal yang tidak perlu masuk pertimbangan, secara tidak sengaja sering menyusup masuk ke dalam pemikiran, memenuhi perasaan. Saya coba melawannya, namun sering gagal. Mungkin inilah salah satu kejelekan saya, karena sejak masih berdinas aktif di kemiliteran, saya tidak pernah bisa menimpa kesalahan kepada anak buah. Jika ada sesuatu yang tidak beres, secara jantan saya akan mengakui hal itu sebagai tanggung jawab saya.


“Bagaimana jika diadakan Sidang Istimewa, Pak?” tanya mereka lagi.


Saya lebarkan mata menatap wajah mereka, satu persatu. Ada batin yang bergetar. Tapi saya kira tidak masalah. Akan saya ambil langkah-langkah kewenangan apapun demi keselamatan daripada bangsa dan negara. Hak hidup warga negara harus dilindungi, termasuk harta dan hak milik rakyat. Saya berkewajiban untuk mengamankan pembangunan dan asset nasional. Dan di atas segalanya, saya harus bertanggung jawab untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa, mengamankan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.


Semua untuk tanah air tercinta.


(Bersambung ke Bagian 3. Kesiapan Untuk Lengser)

Senin, April 28, 2008

GONJING (Unauthorized Biography of Soeharto)

________________________________________________________________________________
"Kembali kepada warga negara biasa, itu tentunya juga lebih terhormat,
tidak kurang terhormat daripada Presiden,
asalkan bisa memberikan pengabdian kepada negara dan bangsa.
Jadi diharapkan,
jangan dinilai saya sebagai penghalang daripada semuanya.
Tidak sama sekali!"- Soeharto
________________________________________________________________________________
1. Sanggupkah Habibie?

Kuning emas. Itulah warna pagi di Kamis 22 Mei tahun 1998 hari ini. Matahari yang bertengger di pangkal Timur menyemburatkan cahaya pada langit biru muda, bersih tanpa sepotong awan. Saya amati keleluasaan itu dari halaman belakang, saat menggelitik si beo yang setia dengan potongan jagung.

Hari ini saya punya waktu yang panjang untuk bercengkerama dengannya. Tidak perlu bergesa-gesa, seperti beratus dan beribu hari yang telah lalu. Dengan masih berkain sarung, saya nikmati pagi yang mewah ini. Sungguh sudah sangat lama hal itu luput dari diri. Sepanjang ingatan, pagi mewah seperti ini terakhir kali saya nikmati di Kemusuk, sewaktu masih kecil dulu.


Di dusun kecil tempat kelahiran itu, suasana pagi selalu menjadi hiburan alami. Garis-garis sinar memenggal-menggal gugusan awan sehingga terlihat bagai permainan cahaya, menjadi lukisan yang menakjubkan mata. Ada kedamaian di sana, milik setiap warga desa yang paling hakiki.


Pagi ini, kedamaian itu kembali menyentuh sanubari. Terimakasih Tuhan, telah Kau bebaskan diri dari sebuah rutinitas. Terimakasih atas matahari itu, langit bersih dan kelegaan ini. Biarlah saya nikmati hari pertama menjadi seorang warga biasa, tidak lagi sebagai Presiden.


Setelah 32 tahun memimpin bangsa, dalam segala bentuk suka dan duka, saya akhirnya punya waktu untuk diri sendiri. Di hari tua ini, di ujung perjalanan usia, akan saya rasakan kembali kenikmatan memiliki diri sendiri, sesuatu dari masa lalu yang pernah hilang, meski samar dan berbaur lengang.


Akhir-akhir ini, kelengangan terasa sangat dominan menguasai lingkup seputar saya. Kemarin di Istana Negara, hal yang sama juga terjadi, ketika atas keyakinan yang datang menjelma, beban tugas memimpin bangsa saya turunkan dari pundak. Saya menyatakan berhenti dari jabatan Presiden. Cukuplah semuanya. Saya kapok. Sudah saya coba berikhtiar dengan segala upaya, namun kelihatannya tidak ada lagi orang-orang yang benar-benar bisa teguh berdiri di belakang saya. Bahkan Akbar Tandjung dan belasan teman-temannya yang masih berstatus Menteri secara tertulis menolak untuk saya dudukkan di kabinet baru. Apa ini?


Saya tiba-tiba merasa adanya sebuah kekuatan dahsyat yang sedang menghantam saya. Para mahasiswa masih menduduki gedung MPR, semakin hari semakin membesar dengan penggabungan unsur kekuatan lain. Pria bawel Amin Rais yang pernah saya bantu juga ada di sana. Emil Salim yang selama ini pendiam secara mendadak bersuara lantang. Harmoko yang dulu selalu menunduk-nunduk, kini mulai menyengirkan gigi.


Namun mereka tidak saya masukkan dalam pertimbangan. Satu-satunya alasan saya berhenti hanyalah rakyat. Saya ingin anak bangsa di negara yang berdaulat ini dapat merasa tenteram tanpa dibayangi rasa takut.


Jika saya memang dianggap sebagai penghalang, saya mundur. Dan secara konstitusional, jabatan saya serahkan kepada wakil presiden. Memang ada rasa ringan saat menyerahkan tampuk itu kepada Habibie, tapi hanya sebintik kecil. Hati saya masygul. Kuatir. Sanggupkah dia?


Sendi-sendi tubuh saya terasa ngilu jika memikirkan itu. Bisakah Habibie memperbaiki kecentangperenangan yang sudah terjadi, yang penuh kobar api dan jerit tangis itu? Apakah ini merupakan jalan penyelesaian daripada masalah? Adakah jaminan bahwa kerusuhan seperti 14 Mei tidak akan timbul lagi? Siapa tahu, nanti Habibie juga harus mundur lagi.


Kalau begitu terus menerus, dan hal itu menjadi kejadian yang berulang dalam kehidupan kita bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, dengan sendirinya negara dan bangsa kita akan kacau, seolah-olah tidak mempunyai landasan dalam menjamin kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat. Sedangkan kita memiliki dasar Pancasila dan UUD 45. Berarti memiliki konstitusi. Kalau konstitusi itu tidak dipegang teguh oleh setiap warganegara, tentu daripada negara dan bangsa akhirnya akan menjadi tidak akan langgeng. Ganti-berganti akan membawa akibat ada yang setuju atau tidak, yang berarti akan membawa pertentangan lebih tajam, mungkin sampai kepada pertumpahan darah, mungkin juga sampai pada perang saudara dan lain sebagainya.


Kalau ini terjadi, siapa yang rugi? Tentu juga daripada bangsa kita sendiri. Semua akhirnya menjadi sebuah ketidakpastian yang mutlak. Seperti saya, mereka juga sadar, pada setiap saat, kapan saja dan di mana saja, bisa terjadi bentrokan keras yang menelan korban.


Ah, alangkah merah darah mereka. Helaan napas yang panjang membuat rongga hidung saya terasa panas. Meski saya tahu bentrokan itu tidak akan sampai ke mari, tapi hati saya telah cabik-cabik. Ya Allah, berilah keampunan pada keangkaraan kami. Berikan arah kepada rakyat negeri ini, tunjukkan cara untuk berbicara, menyelesaikan segala masalah-masalah bangsa dengan komunikasi yang baik.


Seandainya saja setiap orang kini mendongakkan kepala ke atas dan melihat langit emas yang cerah ini, mungkin tiada lagi kesumat dan hujat yang dilontarkan. Semua akan memiliki kedamaian, sesuatu yang datang dari-Mu Tuhan, untuk dinikmati.

(1999 - Bersambung ke Bagian 2. Tinggal Gelanggang Colong Melayu)