Tampilkan postingan dengan label Obituari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obituari. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juni 28, 2008

The Richness of Life

Memory is history recorded in our brain,
memory is a painter,
it paints pictures of the past and of the day.
- Grandma Moses (1860 - 1961) U.S. painter


Buku tentang Hendra Wijaya? Why not?


Ketika keluarga almarhum meminta kesediaan saya menulis kata sambutan untuk buku tentang pemusik jazz handal ini, saya bersukacita. Bukan karena merasa dihargai atau dinilai sebagai orang dekat, namun karena memang seharusnya kenangan terhadap Hendra Wijaya dihidupkan. Men ought to remember those friends who were absent as well as those who were present, begitu kata sejarawan Yunani, Diogenes Laërtius.


Bukalah Google. Carilah nama Hendra Wijaya. Banyak memang, namun bukan Hendra Wijaya yang piawai bermain keyboard ini. Hendra Wijaya-Hendra Wijaya yang tercatat di sana adalah Hendra Wijaya yang tercatat sebagai pebulutangkis, desainer, kolektor komik, peraih hadiah ilmu fisika dan profesi lain lagi. Tetapi cerita tentang pemusik jazz ini sangat minim, hanya tampil dalam satu-dua berita. Itupun tidak berdiri sendiri sebagai sosok, namun selalu berkait dengan Ireng Maulana, konconya dalam bermusik. Di Google, kita cuma bisa memperoleh kisah tentang Hendra yang pernah bergabung dengan Ireng Maulana All Stars pada tahun 1981 dan pagelaran jazz “Ireng Maulana & Friends - The Legend is Back”, yang diadakan untuk menghormati dan mengenang dua musisi terbaik Indonesia yang sudah almarhum, yaitu pemain bass Perry Pattiselanno dan pemain piano Hendra Wijaya.


Ini mungkin disebabkan oleh jangkauan ingatan pendek yang kita miliki. Sulit mengingat, dan tragisnya: sangat mudah melupakan. Sehingga kita sering tidak merasa kehilangan. And when he is out of sight, quickly also is he out of mind. Demikian Thomas à Kempis, pendeta German yang juga penulis itu tentang sosok teman. Orang yang jarang kita temui, mendadak bisa tersaput hilang dari ruang memori. Dan ketika suatu saat bertemu lagi, kita pun blank, lupa segala sesuatu tentang dirinya, bahkan nama saja pun kita tak tau. Padahal bisa jadi orang tersebut banyak memberi andil dalam hidup kita.


Hendra Widjaja ini misalnya. Saya pertama berkenalan dengannya di tahun 1973, sesaat setelah dia meraih gelar juara pada National Electon Festival se Indonesia. Saya tahu dia hebat. Namun penilaian saya itu gugur ketika tak lama sesudah itu, di Tokyo Yamaha International Electon Festival, dia menyabet pula gelar Juara Dua. Dia ternyata tidak hebat. Dia luar biasa!


Karena itulah, ketika saya akan mengadakan jamuan makan untuk menyambut rombongan pengusaha dari Amerika, saya mencari Hendra. Saya membutuhkan seorang pianis berkelas untuk menghibur ke 60 tamu bule itu. Saya perintahkan staf untuk mencari dan mengundang pria yang terkesan diam itu. Ternyata tidak mudah juga. Sebagai juara baru, jadwalnya penuh dan hampir tidak punya waktu untuk tampil di pesta-pesta kecil, apalagi di rumah! Begitu pikir saya.


Namun, Hendra datang dengan senyum mengembang, bersosialisasi dengan keramahan yang cair dan bermain dengan kecekatan jemari yang lincah. Lagu-lagunya meluncur anggun tanpa cacat, membuat tetamu terpana. Lagu-lagu standar Amerika disuguhkannya nyaris sempurna, mulai dari ciptaan George Gershwin, Rhapsody in Blue dan Someone to Watch Over Me, hingga gubahan Irving Berlin Cheek to Cheek, sampai kepada musik-musik piano yang disuguhkan oleh Carmen Cavallaro dalam film The Eddy Duchin Story, seperti La Vie En Rose, Manhattan dan You’re My Evrything. Dan sudah tentu jazz! Kecintaan Hendra kepada jenis musik ini membuat seluruh ruang di rumah saya menggemakan musik piano dari pianis jazz ternama seperti Earl ‘Fatha’ Hines, Jelly Roll Morton dan Bill Evans.


What a memorable night! Bertahun-tahun kemudian, ketika saya berkunjung ke Amerika, teman-teman yang dulu pernah saya undang ke jamuan makan selalu bertanya tentang Hendra. Lagi-lagi Hendra. Dan saya selalu suka menjawab mereka, karena saya pun akhirnya banyak tau tentang Hendra.


Memang, sejak pesta kecil di rumah, keluarga kami menjadi sangat akrab. Istrinya Syenni adalah nyonya rumah yang ramah, pantas menjadi public-relations yang handal bagi karir suaminya. Kedua anaknya - Fei dan Carina- adalah anak-anak yang pintar, manis dan santun. Saya juga punya banyak kenangan dengannya. Salah satu yang masih menggantung di ruang ingat adalah ketika kami memenuhi undangan TV Hongkong dan Taiwan. Hendra memukau penonton dengan performansi yang prima. Saya bersyukur menjadi teman baik Hendra dan sekaligus bangga, karena Indonesia mempunyai Maestro bernama Hendra Widjaja.


Namun kini dia telah tiada. Hendra sudah pergi, melanglang di ranah abadi yang dijanjikan Tuhan, meninggal dunia karena kanker di Rumah Sakit MMC pada 6 November 2005. Album terakhirnya bersama Ireng Maulana yang berjudul Sweet Jazzy masih hangat, dan kita masih harus selalu menyimpan kenangan atasnya. Kenangan adalah sejarah yang terpatri di otak manusia, kenangan adalah pelukis, yang mengguratkan unsur warna masa lalu dan masa kini.


Sering-sering di rumah, jika malam sudah larut dan hening, di telinga saya masih terngiang ketukan toest-toest piano, melantunkan musik untuk jiwa, untuk kehidupan yang fana. Hendra Wijaya ternyata masih hidup di relung-relung jiwa saya. Begitu juga di kehidupan Syenni, Fei dan Carina yang penuh berkat dari Tuhan Yang Maha Esa.


Buku tentang Hendra Wijaya? Why not? Hal-hal seperti inilah yang membuat orang-orang tidak lupa. Sehingga di hari-hari selanjutnya, jika ada yang ingin tau, mereka tinggal mengelik Google untuk mengetahui siapa sebenarnya Hendra Wijaya yang berdedikasi tinggi dalam musik jazz tanah air. Dan saya yakin, buku ini juga layak disusun di rak, untuk kepustakaan kita bersama. Ternyata, the richness of life lies in the memories we have forgotten.

Bogor, 28 Juni 2008
Ditulis untuk Paul Kusumawijaya
sebagai Kata Sambutan Buku Hendra Wijaya

Kamis, Juni 12, 2008

Dua Pekan Terakhir Bersama Jo


Anyone's death always releases something like an aura of stupefaction,
so difficult is it to grasp this irruption of nothingness
and to believe that it has actually taken place.
- Gustave Flaubert


Semangat pastilah masih tersimpan di rongga dada Julianto Soesap Albanny, Wakil Pemimpin Redaksi di Harian Riau Mandiri. Antusiasme kerja tercermin dalam setiap ayunan langkahnya, bergaung di sela-sela kompartmen yang dibatasi partisi. Pria kecil berkacamata yang selalu terburu-buru dalam bicara ini adalah kawan kami, dalam batasan waktu yang berbeda-beda.


Hari Rabu 11 Agustus adalah saat pertama kali dia kuboyong ke Pekanbaru untuk diperkenalkan kepada jajaran redaksi. Ada mimik seru di wajahnya, layak bocah sedang menghadapi mainan baru. Sejak berangkat dari Jakarta, Mas Jo -begitu beberapa teman memanggilnya- terus riuh rendah. Di pesawat dia tak memejam mata, terus mengajakku bicara.


Penuh gairah menghadapi tantangan, pria yang selalu berpuasa Senin-Kamis ini pun memutuskan bergabung. Aku merasa sangat tertolong. Tugasku akan menjadi sedikit ringan, bisa lebih fokus berkonsentrasi sebagai Wakil Pemimpin Umum Harian Riau Mandiri, Pekanbaru dan Harian Sijori Mandiri, Batam saja, tanpa harus membagi perhatian menjadi Pemimpin Redaksi. Dalam masa peralihan, Jo akan menjadi Wakil Pemimpin Redaksi selama tiga bulan sebelum nanti definitif ditetapkan sebagai Pemimpin Redaksi.


Jo pun mulai adaptasi memasuki tugas barunya. Membaur dan mempesona. Meski tidak parlente, namun pribadinya yang rapi senantiasa menonjolkan keteraturan sikap hidup. Shalat tak pernah tinggal, lengkap dengan dzikir. Perangainya yang selalu lapar akan berita, membuat dia tak pernah letih menyunting dan menulis.


“Be, kita akan bikin bagus koran ini,” katanya kepadaku, sering-sering. Dia memang kerap memanggilku Babe, tetapi kadang-kadang rancu menyampuradukkan dengan panggilan Bapak, Bang, atau Kawan.


Lima belas hari di Riau Mandiri, 15 hari pula dia menjadi teman diskusi. Berdebat tentang news value, menguji kekuatan kata, menimbang resam kalimat, menata terobosan lay-out, melahirkan kekuatan redaksional dan menunggu proses cetak hingga lepas dini hari. Semua dilakukan Jo dengan senyum dan teriakan akrab. Dia memang suka teriak dan perang pendapat. Di kantor lamanya di Bisnis Indonesia dan di Harian Merdeka, dia dijuluki Profesor. Namun para redaktur cenderung menyebutnya sebagai Mister Bukan, hanya karena dia acap menyanggah pendapat orang lain dengan kata Bukan!


Di kantor ini, dia juga sering menyanggah, mencari ragam perbedaan. Baginya dunia tidak satu warna, begitu pula kisi-kisi berita. Selama 15 hari dia berdialog dengan jajaran redaksi, semua diundang rapat di ruang kerjanya yang besar. Dia selalu melihat koran daerah sebagai koran besar, mampu mengubah wajah Indonesia. Yang jelas, hari ini, kondisi Julianto yang lebih dulu berubah. Sebagai Pemimpin Redaksi dia akan berhak atas berbagai fasilitas. Tiket Pekanbaru-Jakarta-Pekanbaru setiap bulan. Mobil dinas, sebuah Phanter baru tipe Kuda berwarna merah nyalang sudah tersedia di pelataran parkir. Dia sangat menyukainya, sehingga sering memaju-mundurkan mobil itu di pekarangan rumahku, seakan mobil itu selalu salah parkir. Rumah kediaman juga akan menyusul. Sementara masih sendiri, Julianto tinggal bersamaku dulu. Kami berdua saja di rumah besar itu, hanya sesekali ditemani oleh Wimpy, supirku yang bulat jenaka. Tapi kami tidak pernah merasa sepi. Ada meja bilyar di ruang depan dan alat-alat kebugaran di ruang belakang. Meski tanpa pembantu, makanan selalu tersedia. Setiap pukul enam pagi, Wimpy sudah datang membawa nasi gurih plus rendang dan dendeng, lengkap dengan kopinya. Dan kami akan terus bercakap-cakap sepanjang 24 jam, dari buka mata hingga tutup mata.


Seusai masa adaptasi dua pekan berlalu, Julianto pamit pulang ke Jakarta.

"Sebentar saja, kawan, cuma empat lima hari,” katanya. “Mau mengabarkan kepada istri dan anak-anak bahwa saya pindah ke sini. Sekalian ambil baju-bajulah.”


Memang harusnya begitu. Bekerja jauh dari keluarga bukan berarti melupakan mereka. Bahkan sebenarnya, merantau merupakan pengorbanan untuk anak istri. Pilihan Jo sudah tepat. Apalagi tiga bulan mendatang, dia akan mendapat rumah sendiri, supaya bisa memboyong keluarga ke Riau.


Tidak ada badai di Riau, meskipun perambahan hutan secara liar masih terus terjadi. Petirpun tidak menyambar-nyambar. Namun malam itu, aku menerima telpon dari Jo.

"Kawan, saya berangkat besok pagi, sampai Pekanbaru kira-kira pukul 10," ujarnya dari seberang. “Bisa suruh Wimpy jemput?”

Aku bilang, aku sendiri yang akan menjemputnya. Tetapi dia menolak.

“Masak Komandan yang jemput? Malu saya. Biar Wimpy sajalah.”
“Gak apa-apa kok. Aku sekalian mau ke arah airport,” jawabku
tuntas.


Rabu menjelang subuh itu sama sekali memang tidak ada badai. Apalagi gelegar petir. Namun sebelum jam empat pagi, handphone-ku berdering. Agak menggerutu juga terbangun jam sebegitu. Tapi kulihat nama yang terpampang di layar: Julianto.


“Apa To?” tanyaku.

“Ini Pak Izharry? Saya adik Julianto,” kata suara pria di balik handphone.
“Lho, ada apa? Julianto mana?”
“Julianto meninggal dunia, Pak, tadi sekitar jam tiga.”


Kepalaku berputar, lepas dari leher dan bergelinding ke kasur. Tuhan! Aku tersentak duduk dan berteriak keras, bertanya penyebabnya. Kata adiknya, Julianto hilang dalam tidur. Ketika dibangunkan istri agar bersiap-siap berangkat ke bandara, tubuhnya tak memberi reaksi. Ya Allah, Julianto sudah tiada! Kuatur napasku dan kubangunkan Basrizal, Bos Besar Riau Mandiri Group. Akupun berkemas. Akan kukejar pesawat pagi menuju Jakarta. Bagaimana pun aku harus menyambangi Julianto yang telah merambah perjalanan terakhirnya.


Mendengar kepergian seorang teman pastilah membuat aura keterkejutan kita lepas, dan begitu sulit rasanya memasuki kehampaan yang tiba-tiba. Namun bagaimanapun, kita harus yakin bahwa hal itu benar-benar sudah terjadi. Waktu bergulir, tak ada yang bisa dibatalkan dan diulang kembali. Aku pun tertunduk, airmata merambah di dalam batin. Semalam kami masih memperdebatkan judul, tapi kini pria berusia 40 tahun ini sudah tiada.


Kulempar mata yang berair keluar pesawat, menatap gugusan awan bisu. Aku datang menziarahimu, Jo. Begitu tipis jarak antara hidup dan mati, sementara sentuhan jurnalistikmu masih terasa begitu hangat. Dalam tepekur, aku melenguh. Jo, hari-hari tak akan pernah sama dengan dua pekan yang kita lalui. Selamat jalan, kawan!


(Dimuat dalam versi pendek di Harian Riau Mandiri, Agustus 2004)

Senin, April 28, 2008

Iqbal Mustafa : Garis Lurus dengan Idiosyncrasy

Dia tidur dalam lelap yang panjang. Kata orang, tidur mendengkur tanpa mimpi adalah tidur yang sempurna. Namun Iqbal Mustafa tidak mendengkur dalam tidurnya. Dia terlanjur hilang dalam tidur yang kekal.

Iqbal Mustafa, adalah teman kami yang komplit. He almost had anything in this world. Sejak di SMA dulu, dia adalah pemuda yang menggemaskan. Adalah sikap pemalunya yang membuat demikian. Wajahnya yang keren -kata orang mirip bintang film Perancis Alain Delon- menambah rasa simpati, membuat teman-teman putri sering cekikikan menggodanya. Tetapi dia tak begitu menggubris hal semacam itu. Peraturan yang tegas dari keluarga membuat Iqbal rajin belajar dan selalu meraih ranking tinggi di sekolah. Hidupnya terbentang antara belajar dan bermusik, karena sebagai kegiatan luar sekolah, dia diharuskan orangtuanya belajar bermain piano.

Sebuah garis kehidupan yang lurus memang telah disiapkan untuk Iqbal muda. Warna kehidupan hitam-putih secara tegas telah digariskan buatnya. Dengan datar dan sabar, dia jalani semua. Meski akhirnya dia menikah -dengan Linda- pada usia muda, namun kepatuhan kepada kodrat membuat dia menjalani hidup nyaris tanpa cacat. Sembari berkuliah di Fakultas Kedokteran USU, Iqbal mengisi kocek keluarga dengan bermain piano di pub di beberapa hotel yang ada di Medan.

Saya ingat suatu malam berpuluh tahun silam, kami berjanji bertemu di Hotel Danau Toba, Medan. “Datanglah, kau lihatlah pulak aku main di sana,” katanya mengajak saya ke Jungle Bar yang berada di sayap kanan hotel bintang lima itu. Iqbal tau saya sering menulis kritik musik dan ingin agar saya bisa menrunkan tulisan tentang dirinya di tengah-tengah atmosfir bar yang dikunjungi banyak tamu asing itu. Di sanalah kami pernah berbincang dalam pengaruh alkohol dengan tokoh musik dunia, Maurice Gibb dari the Bee Gees itu.

Sayapun menulis kiprah musiknya di koran Waspada. Setelah itu kami bertambah akrab, sering duduk menikmati minuman dan berbincang tentang apa saja. Di Batik Cafe, kami duduk dan bicara tentang banyak topik, mulai dari faham eksistensialisme yang dicetuskan Soren Aabye Kierkegaard, filsuf Denmark yang menyoroti keberadaan individu, hingga ke buku Thus Spake Zarathustra tulisan Friedrich Nietzsche. Kami agung-agungkan kalimat “Behold, I teach you the Superman. The Superman is the meaning of the earth. Let your will say: The Superman shall be the meaning of the earth!”

Kami memerlukan itu sebagai penguat diri. Kehidupan remaja yang gonjang-ganjing saat itu membuat kami harus melihat nilai-nilai baru, untuk berdiri di samping nilai-nilai spiritual yang baku. Dan Iqbal adalah teman bicara yang lawas. Dia bisa berbincang tentang apa saja di saat mana saja. Dia bahkan bisa ikut dalam suasana yang entah bagaimana. Dan ketika akhirnya dia ikut dalam kelompok musik The Great Session bersama Teruna Jasa Said, Iqbal menjadi faktor yang memperkuat pengaruh band itu di blantika musik tanah air.

Di panggung-panggung musik, Iqbal adalah sosok yang tegar. Permainan keyboard-nya membuat orang terkagum. Firth of Fifth, lagu kelompok Genesis yang rumit itu dilahapnya seperti musik pop biasa. Tangan menari di atas toest, menghingarbingarkan penampilan Great Session yang penuh fenomena.

Those were the days! Saat kehidupan tidak membutuhkan banyak renungan. Begitupun kemanisan masa muda harus ditinggalkan, dan Iqbal harus menjalani profesinya sebagai seorang dokter. Dan dia menjadi dokter yang tangguh. Ini dia buktikan hingga akhir hayat.

Menurut penuturan seorang teman, beberapa hari sebelum menghembuskan nafas terakhir, Iqbal berada di Makassar untuk menghadiri simposium kedokteran. Di sana, Iqbal yang sedang memimpin persidangan, jatuh menggelosoh di kursi. Dia dipapah para sejawat, langsung diberi perawatan dan diistirahatkan di hotel. Keesokan hari, merasa dirinya segar, Iqbal kembali memimpin sidang. Tidak ada sesuatu yang terjadi, kecuali kondisi tubuh yang menurun.

Konon Iqbal sempat bertelepon ke istrinya di Jakarta, untuk mendaftarkan namanya di RS Harapan Kita, tempat dia berpraktek selama ini. Permintaan dipenuhi, namun begitu landing di Soekarno-Hatta, Iqbal tidak ke Harapan Kita, dan langsung pulang ke rumahnya di jalan Cimahi.

Keletihan membayang di wajahnya yang bersih. Setelah beres-beres, Iqbal beristirahat di kamar. Rebahan sebentar untuk mengembalikan kesegaran. Tidak ada sebarang tanda. Pada jam makan malam, anaknya berniat membangunkan, namun karena sang papa terlihat pulas, niat itu urung. Namun beberapa waktu kemudian, anaknya berniat membangunkan lagi. Ada kecurigaan, mengapa posisi tidur Iqbal tak berubah, mengapa tetap seperti beberapa jam lalu?

Kehebohan pun terjadi. Iqbal diusung ke rumah sakit MMC, karena diduga hanya pingsan. Namun jawaban dari dokter di ICU MMC menghentakkan kesadaran: Dokter Iqbal sudah tiada!

Maka mendunglah hari-hari kami. Kabar berkibar, berita tentang kepulangan Iqbal menyeruak ke seluruh kota tempat teman-temannya berdomisili. Saya yang sedang berada di Batam segera mengirim SMS ke Una yang sedang berada di Singapore, setelah Bambang Sen dan Alfred Mantik menges-em-es saya.

Dekat subuh, dalam tidur saya bermimpi, bertemu Iqbal di tukang pangkas sedang berbalut kain putih. Saya pikir dia sudah meninggal, tapi dia bangkit dan berkata dengan senyum manisnya, “Siapa bilang aku mati. Bohong itu.”

Ya, saya percaya bisikan Iqbal dalam mimpiku. Iqbal tak pernah mati bagi diri kami, teman-teman yang pernah dikenalnya. Dia sungguh sebuah pribadi yang komplit, sekaligus kompleks, penuh dengan tanda tanya dan misteri. Kehidupan Iqbal di akhir usianya tidak banyak diketahui orang. Pertemuan terakhir saya adalah pada saat acara kumpul-kumpul anak Medan di Hotel Mulia Jakarta, dua tahun lalu.

Iqbal masih tetap ada. Di hati kami dia bagai muara, tempat pertemuan dan pertemanan beragam tabiat dan kelakuan. Bagaikan jemarinya ketika memainkan piano melantunkan Firth of Fifth, begitulah dia menggambarkan ‘muara’ lagu itu. Masih terus terbayang senyum manisnya, santun tingkahnya dan idiosyncrasies-nya, yaitu cara bertindak, cara berpikir dan perasaannya yang kadang terasa ganjil bagi lingkungan sekitarnya. Karena memang, setelah berada di puncak karir, Iqbal banyak menyepi, banyak sendiri dan menjauh dari kerumunan, tidak terlihat lagi wira-wiri di tengah dunia gemerlap kota Jakarta.

So long, pal! Banyak yang kau tinggalkan buat kami, sehingga ingatan akanmu tak akan lekas pergi. You’re such a superman, and you will still live in this heart of ours.

Dr. Iqbal Mustafa was born in 1950 in Amsterdam, Holland.
He died abruptly and unexpectedly at his home in Jakarta, Indonesia, on July 18, 2004

Minggu, April 20, 2008

Obituari : Jaffar Siddiq Hamzah

Hakikat Hidup dan Nilai Tajarud

“Aceh Nanggroe Darussalam, land of the free, home of the brave......”

Jika aral tak merintangi, pada 8 Februari 2007 ini, Irwandi Yusuf pastilah dilantik sebagai Gubernur Aceh Nanggroe Darussalam. Serentak bersama pria tegar itu, akan dilakukan juga penabalan para Kepala Daerah di Serambi Mekah. Sebuah ganjaran bagi perjuangan panjang, yang tak pernah lekang di musim panas dan lapuk di musim hujan? Semata-mata nilai kemenangan seperti itukah yang dituju oleh orang-orang konsisten dalam cita-cita tajarud.

Ada perasaan yang terhenyak ke pelosok kosong ketika hal ini menjadi buah pemikiran. Aceh sebagai suku dan Aceh sebagai area, telah lama bertungkus-lumus mencari nilai kebebasannya. Kebebasan yang kemudian sering dimuradifkan dengan kemerdekaan. Kemerdekaan yang jadi momok pihak lain dan kemerdekaan yang dilarang. Sementara pencarian akan kebebasan itu telah membuat manusia-manusia yang tak pernah menggeram, menjelma menjadi sosok-sosok yang selalu menggemeretakkan rahang dan mengeraskan dagu. Mata yang sayu pun menyiratkan api. Mereka bakar apa yang jadi aral, mereka hanguskan dalam kobaran. Warna paras yang keras.

Bandara Changi Singapura, 17 Agustus 1991. Inilah yang membawa pikiranku kembali ke saat bertemu Jaffar Siddiq Hamzah di Changi. Dalam waktu dua jam, langit akan merekah. Di tengah keterburu-buruan mengejar pesawat United Airlines menuju Taipei, sebuah suara menyapa pelan.

“Maaf. Abang dari Indonesia, ya?” Aku menoleh dan mendapatkan wajah keras seorang pria kurus berkulit hitam. Kacamatanya besar dan rahangnya menyiku, hampir 90 deradjat. “Aya sudah perhatikan Abang dari tadi. Pasti abang orang Indonesia,” sambungnya.

Bah! Ternyata tujuan kami sama, menuju San Francisco dengan pesawat UA 826. Via Taipei. Kalau begitu ceritanya, marilah kita duduk bersebelahan. Sehingga dalam masa belasan jam, kita bisa bertukar kisah. Kata Jaffar, dia orang Aceh. Dari pelafasannya aku sudah tahu sejak awal. Tujuannya Bouder, AS, untuk memperdalam Ilmu Hukum. Kami akan berpisah di San Francisco, karena aku menuju Chicago untuk kemudian ke Washington DC.

Sungguh subuh yang luar biasa. Mendapatkan Jaffar sebagai kawan, rasa kantukku hilang. Jaffar memeriahkan pesta proklamasiku. Meski terkesan diam, Jaffar punya banyak kisah menarik. Klop denganku yang banyak kecek. Aktivis bertemu wartawan, tak beda lepat pisang bertemu daun, lengket satu sama lain, membuat kami tak tidur sepanjang terbang, bertutur tentang hakikat kehidupan dan nilai kebebasan.

Jaffar memang sangat Aceh. Tinggal di Lhokseumawe. Dia memandang hormat kepada kehidupan dan sangat mengagungkan kebebasan. Dia ingin Aceh memiliki semua itu kembali. Sudah lama itu jadi impian kelompoknya.

“Tapi aya bukan GAM, Bang,” sergahnya. Mungkin dia melihat sekilas ruas ragu di kilatan tatapku. Maklumlah, saat itu semua orang takut pada pihak-pihak garis keras yang memegang senjata, baik GAM, maupun tentara. Dan Jaffar bukan tentara. Dia berdiri di warna abu-abu, tidak menjadi hitam atau putih. Dia cuma anak Indonesia yang berkeinginan melihat segalanya melalui suryakanta hukum, melihat kesalahan sebagai sesuatu yang harus diberi pinalti dan melihat kebenaran sebagai sesuatu yang harus dibela.

Apakah GAM itu sesungguhnya bertindak benar? Apakah tentara itu hakikatnya bersikap betul? Jaffar pasti punya jawaban. Cuma tiba-tiba dia menjadi tidak-fasih. Mungkin hatinya bimbang, sehingga perlu berhati-hati bicara. Jika merasa tidak pasti dengan kalimat pilihannya, dia memilih diam. Namun dia tak pernah bisa menyembunyikan bahasa tubuhnya. Terutama ketika mengepal jemari saat mengisahkan nilai kebebasan.

Hingga tiba di San Francisco International Airport, aku merasa sudah bisa memasuki sukma Jaffar. Aku tahu denyut jantung dan tarikan napasnya. Aku hapal jumlah bekas jerawat yang ada di wajahnya. Aku yakin dia bukan GAM. Tapi dia tak pernah menyalahkan GAM. Yang pasti, dia bukan tentara dan juga tak mengatakan tentara bertindak salah.

Kami beriringan di sepanjang koridor menuju gerbang pemeriksaan paspor. Dia terpisah dan tak terlihat di teras ruang tunggu. Meski celingukan, aku tak bisa menemu bayangnya. Sosok kecilnya hilang di tengah keramaian bule dan negro yang bongsor. Dan aku tak segera bisa melupakan Jaffar. Khawatir dia akan menemui kesulitan mencari penginapan atau bus menuju Bouder. Kucoba menindih perasaan. Jaffar pasti aman-aman saja. Suatu saat, sepulang dari Bouder, pastilah dia akan lebih bijak memilah-milah kebenaran dan kesalahan, sehingga bisa menyumbangkan hukum yang bersih, untuk Indonesia-nya dan Indonesia-ku.

*

Kantor Harian Waspada, April 1993. Satpam tempatku bekerja bilang, ada tamu yang mau ketemu. Jaffar Siddiq Hamzah. Berwajah optimis. Dijabatnya tanganku erat. Kuraih bahunya dan kupeluk tubuhnya dalam-dalam. Malam itu kami berkisah lagi habis-habisan, tentang hidup dan cita-cita kebebasan, tentang penindasan yang tak pernah henti. Tentang pengalaman di luar negeri dan Aceh yang tetap di titik nadir. Kemana kita akan pergi?

“Aya mau ke Lhokseumawe dulu, Bang. Melihat orangtua.” Jawabannya sederhana dan jitu. Jaffar tak bicara tentang Aceh yang ingin merdeka, karena bayang-bayang itu belum mengkristal. Betapapun dia berhasil menggambarkan kehidupan nisbi para inong bale dengan anak-anak tanpa ayah, namun tak ada carut marutnya dalam menuturkan karut marut Aceh. Jaffar berkisah datar, meski suaranya menggeletar menghadapi ketidakpastian hari esok. Masa depan Aceh memang tak bisa dibayang, apalagi dirancang. Beratus-ratus nyawa telah melayang, beratus-ratus insan hidup meregang, terpanggang dalam desir peluru dan ancaman mati di tikungan jalan. Baginya, kepastian yang pendek adalah mentakzimkan ayah dan ibu yang ada di kampung, melepas rindu dan merunduk memohon restu.

*

Medan ­1994 - 1996. Kami semakin sering bersama. Hampir setiap pagi kami duduk di warung sudut jalan di depan kantor LBH, makan nasi soto atau kari kambing. Jaffar sudah berpraktek hukum, membela beberapa perkara dan masuk sebagai anggota tim pembela Muchtar Pakpahan. Dia sering meminjam handycam-ku untuk merekam penindasan terhadap wanita dan kanak-kanak pekerja.

Dia kenalkan pacar Pilipina-nya. Gadis berkacamata dengan gerai rambut lurus. Perempuan yang bermukim di Amerika ini sedang menulis skripsi tentang Aceh. Jaffar membantu dan ingin mengawininya. Silahkan, saranku. Tapi karena kawin butuh uang, kami pun mencari investor untuk membangun perumahan warga asing di Lhokseumawe. Jaffar sangat serius, meskipun akhirnya bisnis itu gagal dan dia cuma bisa buka warung kecil di depan UMSU.

“Aya cari uang bukan cuma untuk kawin, tapi untuk bantu adik-adik juga,” katanya. Jaffar akhirnya memang menikahi perempuan Pilipina-nya dan berangkat ke Amerika menemui mertua. Sebelum berangkat dia datang bersama Syarifuddin, adiknya.
“Aya mau pamit Bang. Siapa tahu ndak jumpa lagi.”

Maka, Jaffar pun pergi, hilang dalam gelap malam. Aku sama sekali tak khawatir, karena dia akan segera menuju negara yang menjunjung tinggi kebebasan. Land of the free and a home of the brave. Aku sama sekali tak menindih perasaan, karena Jaffar pasti bahagia.

*

Jakarta, Agustus 2000. Sepulang dari gedung MPR mengikuti Sidang Tahunan hari ke dua, jantungku bergemuruh. Radio Trijaya tempatku bekerja sebagai Pemimpin Redaksi menyiarkan berita yang meruntuhkan kalbu. Jafar Siddiq Hamzah dilaporkan hilang! Menurut adik perempuannya, sudah hampir dua bulan Jaffar tak pulang ke rumah dan tak pernah bertelepon.

Kali ini aku sangat-sangat khawatir. Perasaanku sobek. Di mana Jaffar? Mudah-mudahan seperti biasa, dia akan muncul kembali untuk mengibarkan bendera merah putih 17 Agustus pada peringatan sembilan tahun persahabatan kami. Masih berjuta halaman cerita yang bisa kami tuturkan, mengupas arti kehidupan dan nilai kebebasan. Akankah suatu saat Jaffar muncul lagi agar kami dapat bicara?

Tapi Jaffar ternyata tak pernah kembali. Ya Allah! Di sebuah perbukitan sepi, petani pedalaman menemui tubuhnya terikat di sebatang pohon. Lelehan darah yang mengalir dari puluhan luka lebar telah mengering oleh angin dingin yang lewat. Kacamatanya jatuh di lumpur dekat kaki, retak dan pecah seperti idealismenya.

Entah siapa yang menghabisi. GAM? Tentara? Tak pernah aku dengar ­kisah lanjutan itu. Salah apa dia? Salahnya mungkin karena dia tidak menyandang bedil. Bukan orang yang berpihak. Bukan GAM dan bukan tentara. Dia adalah korban, pelanduk di tengah pertarungan para gajah. Menjadi abu-abu ternyata tidak bisa menyelamatkan jiwa.

*

Plaza Indonesia, Januari 2007. Tanpa sengaja aku bertemu Syarifuddin, adik almarhum. Menggigir batin memeluknya. Sosok yang pernah menggemeretakkan rahang dan dagu itu kini sudah jadi pria dewasa. Lebih diam, lebih wibawa dengan rahang menyiku, hampir 90 deradjat. Abangnya telah tiada, tetapi Syarifuddin mengapurancang. Dan dihormati.

“Aya akan dilantik jadi Wakil Bupati, Bang,” bisiknya sambil memelukku.

Airmataku leleh dalam rongga. Kemenangan dan kehormatan selalu datang kepada orang-orang yang terinjak-injak. Ternyata kematian Jaffar dan orang-orang seperti dirinya tak pernah sia-sia. Merekalah yang mengantar Irwandi Yusuf dan jajarannya untuk menciptakan kemerdekaan di Aceh Nanggroe Darusssalam, tanah tajarud, rumah orang-orang yang tak pernah didera takut.

(Dimuat di Majalah B-Watch, edisi Februari 2007)

Senin, April 07, 2008

Mendengar Berita Kepulanganmu

Requim buat Poppy Anastia
Bagaimana kini caraku sedih,
waktu dengar kau pulang
di siang, saat angin pelan jatuhkan dedaun kering
berputar-putar tak punya arti
menimpa tanah merah pekuburanmu?

Bagaimana pula aku akan bersedih
ketika di sela-sela rumpun hati
aku telah sulit menemu wajahmu.

Musik ini musik kita
pernah kita dengar dan senandungkan
dulu di hari-hari emas.

Tapi tak juga membawa airmata.

Minggu, 5 Oktober 2003