Angin tipis menampar pipi saat keluar dari Korea Airlines KAL 628 di Ienchon International Airport. Kelu. Meski musim dingin datang terlambat tahun ini, tetap saja aku harus meninggikan kerah jas. Mungkin akan ditambah dengan mafela dan sarung tangan jika matahari merosot jatuh ke balik laut. Wanti-wanti yang kuterima mengatakan, di beberapa lokasi Korea Selatan, salju sudah bertabur jatuh. Dibutuhkan persiapan ekstra bagi orang yang dating ke negeri ginseng ini. Begitu juga kiranya, bagiku.
Namun dalam bus besar, terobosan dingin tidak terasa. Jong-Sub Cho, mahasiswa Korea yang mengambil Jurusan Bahasa Indonesia itu terpatah-patah mengisahkan hikayat negerinya kepadaku. Bagus juga kisah sepanjang jalan itu. Aku jadi merasa lebih lega menyusuri jalan tol di lereng gunung Chungryang, untuk menuju kawasan Songdo, tempat Hotel Ramada menjulang.
Di sana, di ruang utama hotel, seorang lagi warga Korea bersusah-payah dalam bahasa Indonesia mengelu-elukan kedatanganku. Kesopanannya bersahaja, tapi terasa terlalu mewah untuk diterima, karena aku tetap saja merasa sendiri di tengah mereka. Perjalanan ini memang tunggal, dirancang untuk satu orang dan sangat mempribadi. Karenanya, tak perlu digubris kerlingan dan cekikikan kedua perempuan muda yang menghirup mie panas di warung kecil di pojok Ramada.
Incheon yang menikamkan dingin membawaku dalam keheningannya. Di kamar memang terasa hangat, tapi aku bisa berdarah-darah dihunjam belati sepi. Tidak ada jadwal yang harus dipatuhi. Cuma dekat magrib, Jong-Sub Cho berjanji akan mengantarku ke Namdemun Sijang, pasar tradisional di kawasan kota Seoul yang berbukit. Selebihnya aku bebas dan liar seperti bola bekel. Mau gelimpangan bisa, mau jungkir balik silakan. Tergantung hasrat, terserah kaki.
Maka, lebih baik aku merentangkan kaki dan punggung di coffee-shop gelap ini, termangu-mangu sembari menghirup seseloki-dua Tia Maria untuk pemanas diri.
Langit menghijau menghias malamBagaikan tidur rupanya alam.Besarnya bulan laksana talamBintang bersinar umpama nilamAngin bertiup perlahan-lahanMembuai burung di atas dahan.Air mengalir bagai tertahanSadar hatiku kepada TuhanSenyap di sini di sana sunyiSatupun tidak ada berbunyiHanyalah jangkrik mengangkat nyanyiDi dalam rumput ia sembunyiTerimakasih aku ucapkanKepada Tuhan yang memberikanDi dalam hati aku serukan:“Alangkah indah yang kau jadikan!”
Diambil dari buku Taman Kesuma, terbitan tahun 1923
Lagu TERANG BULAN ini merindingkan bulu romaku ketika dinyanyikan oleh paduan suara murid-murid Sekolah Rakyat (SR) di Gedung Kesenian Medan. Sepanjang ingatanku, acara malam di tahun 1960 itu khusus diselenggarakan untuk menghormati almarhum Madong Lubis yang meninggal dunia beberapa bulan sebelumnya, diisi dengan pembacaan sajak dan pagelaran musik ciptaannya yang termaktub di buku Taman Kesuma 1 & 2. yang selalu dibubuhi tanda tangannya untuk menghindari penggandaan liar.
Kami sefamili diundang hadir. Aku yang saat itu masih kelas empat SR rasanya ingin ikut tampil nyanyi di panggung bersama mereka. Tapi tak bisa karena aku berasal dari sekolah lain. Jadi aku cuma terhenyak di kursi, hanyut oleh keindahan musik dan lirik. Kadang-kadang aku hanya ikut bernyanyi dalam bisikan, seperti ketika koor itu menyenandungkan LAGU BERMAIN yang dikenal sebagai lagu PETIK RAMBUTAN. Sebagian liriknya masih kuingat.
Petik rambutan, bungkus di kainBelilah kain buatan BangkaAyolah kawan, mari bermainMari bermain bersuka-suka.Ayo, ayo, ayoLari, lari, lari,Ayo berlari, jangan berdiri.
Lagu ini sangat terkenal waktu itu. Lagu gembira, lagu permainan kanak-kanak. Lagu lincah yang juga sering dinyanyikan orang dewasa. Bahkan duet The Blue Diamonds , yaitu abang-adik Ruud de Wolff dan Riem de Wolff kelahiran Jakarta, setelah berimigrasi ke Belanda tahun 1949, menyanyikan lagu PETIK RAMBUTAN ini di salah satu piringan hitam mereka.
Di lain bagian, dilantunkan juga lagu KATAK LOMPAT.
Lompat, hai katak lompatLompat ke dalam paya.Kalau terlampau cepatBoleh dapat bahaya.Elok jalan ke Simpang DuaKiri kanan berpohon rapat.Elok juga berkawan tuaPerut kenyang nasihat dapat.
Sungguh lagu-lagu bersahaja yang gampang diingat. Memberi petuah dan memperkaya kesantunan. Menyuguhkan pesan moral dan mempertinggi budi pekerti. Begitulah rentetan lagu-lagu ciptaan Madong Lubis yang bergulir, yang terus kusimak dengan takjub. Tak kusangka Ompungku ini sedemikian halus jiwanya. Padahal, kalau dia marah karena aku tidak belajar dan lupa membuat huiswerk (pekerjaan rumah), matanya yang merah membuat aku lari bersembunyi ke balik piano.
Ada seorang anak, namanya si DegilIa suka benar, main bedil-bedilO, meriam tomong, O meriam tomong….Ada motor siparolet, be-ka spuluh duaAda zaman meleset, gadis bersanggul duaO, meriam tomong, O meriam tomong….
Lagu MERIAM TOMONG itu juga bukan lagu biasa. Di film Naga Bonar 1, lagu itu menjadi ilustrasi musik untuk menggambarkan kegigihan para pejuang kemerdekaan. Sepupuku pernah mengingatkan, itu lagu bukan ciptaan N.N. alias No Name karena tidak diketahui siapa penciptanya. "Lagu itu ciptaan Ompung kita," katanya.
Hal ini memang perlu diperjelas, tanpa harus memperdebatkan. Apalagi di antara lagu-lagu yang dinyanyikan malam itu, berkumandang juga lagu LANCANG KUNING.
Aku menduga-duga dan melempar tanya, mengapa lagu LANCANG KUNING juga dinyanyikan di malam itu? Apakah lagu itu juga ciptaan Madong Lubis? Aku tak paham, karena usiaku saat itu bukan usia untuk bertanya. Di tengah-tengah kenakalanku saat kecil di rumah SOPO LUBIS di jalan Sungai Rengas No. 10 itu, aku memang sering melihat Ompung berlatih musik dengan teman-temannya. Salah satu temannya -menurut ibuku- adalah Lili Suheri. Mereka sering memainkan lagu LANCANG KUNING dan lagu-lagu lain.
Tapi apa perduliku? Saat itu masih sekitar tahun 1959 dan usiaku masih delapan tahun. Bergolek-golek di semen di bawah kursi malas Ompung Madong yang terbuat dari rotan saja, aku sudah merasa sentosa, karena pasti tak akan dihardik oleh ayahku yang polisi. Koran bahasa Arab miliknya yang dikirim dari Malaya sering kujadikan alas kepala sehingga dia harus menggelitikku terlebih dulu agar bisa mengambilnya. Dan kalau dia menggesek biolanya dengan perlahan, akupun terlayang-layang mengantuk.
Ah, hari-hari kemarin yang mendebarkan jantung, masih terasa hingga saat ini. Berpuluh-puluh tahun kemudian, bahkan hingga detik ini, jiwaku masih selalu menggeletar jika melantunkan senandung-senandung ciptaannya secara perlahan.
Sorot matahari keras jatuh ke bumi. Semua orang menyambut gembira. Inilah hari kerja pertamaku di Washington D.C. I see trees of green, red roses too. I see them bloom for me and you. Tidak seperti di San Francisco dan Chicago yang penuh deru angin dingin, musim panas ternyata masih betah memayungi ibukota AS ini.
Di Dupont Circle, taman berbentuk bundar yang terletak di depan Hotel Dupont Plaza tempatku menginap, banyak sekali orang beria-ria. I see skies of blue and clouds of white. The bright blessed day, the dark sacred night. Ada yang duduk bermain catur dengan punggung terbuka, ada pula sekedar duduk memandangi sekeliling, sambil sesekali-dua berbincang dan tertawa bersama teman dekatnya. Orang yang serius menghabiskan waktu membaca di keterbukaan, sengaja menyerahkan diri kepada mentari. Bayangan teduh pepohonan sama sekali tak berguna, juga bagi ibu muda yang membawa kereta dorong berisi bayi. I hear babies cry I watch them grow. They learned much more than I'll never know.
Ini hari aku harus Meridian House International (MHI) di Crescent Place 1624, untuk bertemu dengan Jeannette Engelking dan Mark Freeman. Kedua mereka adalah Program Officer, masing-masing dari United States Information Agency (USIA) dan Visitor Program Service, yang bertugas untuk menerima, menyusun program dan melayaniku selama di AS.
Janji temu adalah pukul sebelas siang. Masih lama. The colors of the rainbow so pretty in the sky. Are also on the faces of people going by. Rasanya aku masih sempat mandi dan sarapan, untuk kemudian merokok-rokok sembari membaca koran pagi di coffee shop yang menghadap ke Dupont Circle. Lagipula MHI tidaklah terlalu jauh dari sini. Hanya sekitar 15 menit dengan taksi.
I see friends shaking hands, saying: ‘How do you do?’ They really saying: ‘I Love You. Aku tak perlu bergegas. Kubiarkan saja diriku terseret-seret oleh bola mata yang nyalang.
Aku termangu-mangu menatap segala. Inilah jenis pekerjaan yang paling kusuka. And I think to myself: What a wonderful world…!
Selasa, 20 Agustus 1991 (Diposting 30 September 2009)
Bermain bola di lapangan Simare-mare adalah kegiatan rutin malaikat-malaikat kecil itu. Meski cuma dengan bola rambung yang terbuat dari serat/getah pohon karet, permainan di sana amat seru, kira-kira setingkat klub papan atas Manchester. Karena dengan bola rambung, akan mudah sekali membuat tendangan pisang, bend it like Beckham. Pilih kawanmu, kupilih kawanku, mari kita buka baju untuk ditumpuk menjadi tiang gawang tak kasat mata.
Lapangan yang dipagari oleh potongan kecil Bukit Barisan itu berbentuk huruf U dan tak berumput sempurna. Ada yang botak-botak, cuma tanah dan pasir semata. Banyak juga yang sudah berlobang-lobang becek, sehingga sering beberapa ekor kerbau berkubang di sana. Meski jorok menjijikkan, namun coklat warna kulitnya bersinar ditimpa mentari sore. Tapi who cares, permainan ini terlalu menyenangkan sehingga halangan apapun tak perlu dipedulikan.
Permainan sepak bola itu memang tak boleh terhenti. Tugas sekolah dan panggilan pulang dari rumah dibuta-tulikan saja. Apalagi cuma hujan pantai yang rapat. Hanya saja, baju dan celana harus disimpan-susupkan di kolong jembatan agar tetap kering. Ini perlu, agar para orangtua tidak bercuriga dan tidak tau kalau mereka sudah berbecek-ria dan berkubang di lumpur bersama kerbau-kerbau dungu.
Maka, di bawah gelontor hujan dan sambaran petir, orang-orang akan melihat bayang-bayang kecil itu menari-bersijingkat, berlarian-berkejaran, berlompatan-bergelimpangan, berebutan-bertolakan, berloncatan-bertepuktangan, bercengkerama-bergembira, bercanda-bertelanjang tanpa busana. Bulat-bulat, basah dan dingin, sehingga kantung-kantung telor mengeriput dan penis-penis kecil menyusut. Tapi, who cares!?
Cihuuuiii.............., malaikat-malaikat kecil itu adalah kami!
Setelah berhari-hari menginap di Hotel Radisson, Memphis, pagi itu jadwalku adalah Helena, Arkansas. Dengan mengendarai mobil, kutelusuri jalan yang menguap. Cukup makan waktu. Lubang hidung kering dan kulit terasa berminyak. Tujuan adalah Cotton Field, perladangan kapas yang luasnya sepanjang penglihatan. Langsung menusuk ke perkebunan kecil, terlihat kerumunan para kulit hitam sedang merayakan beria-ria merayakan Hari Panen, pada pesta semacam bazaar yang penuh makanan, minuman dan musik.
Ceria mereka menyambutku. Dengan senyum lebar mereka lontarkan puji-puji bernuansa agama. “Oh my Lord!” ujar mereka atas kedatanganku. Tapi wajahnya juga masih penuh rasa heran. “I’m just a stranger passing by,” kataku.
Kami kemudian merayakan hari ulang tahunku yang persis jatuh di tanggal sama dengan Cotton Day itu. Di rumah keluarga Joe, aku didudukkan persis di sisi kanan tuan rumah. Seluruh anggota keluarga hadir di situ. Kami saling bertanya dan saling menjawab. Mereka menghidang makanan yang hampir tak boleh kusentuh, karena rata-rata bercampur daging babi. Aku bingung, mereka bingung. Akhirnya mereka memberiku seporsi kulit kentang yang telah direbus. “It’s okay!” tanggapku.
Sebelum makan, mereka mengajakku berdoa. Panjang sekali. Dan seusai doa, empat putri keluarga itu berdiri di sampingku untuk ber-acapela melantunkan lagu. Aku merasa aneh, merayakan ulang tahun dengan gaya yang lain. Tapi it’s always okay. Malam itu aku menginap di Edwardian Inn, di tempat yang bukan hotel atau motel, tetapi Bed & Breakfast. Seperti maknanya, mereka cuma menyediakan tempat tidur & sarapan pagi. Kamarku persis di puncak teratas, dekat wuwungan atap. Perabotannya tempo dulu, terkesan kuno dan berwarna gelap. Agak menyeramkan. Tapi karena mata mengantuk dan badan letih, hal itu sama sekali tidak mengganggu.
Apa yang kucari di sini? Dan apa yang kuperoleh? Aku mungkin menemukan sesuatu tetapi tetap merasa kehilangan. Hidup tak pernah lengkap. Jawaban datang satu per satu, menjelaskan namun tidak menjawab. Besok aku akan berjalan lagi, menyeret tubuh sepanjang jalan, berkelana mencari diri. Kubuka jendela dan melongokkan kepala menerawang malam. Yang ada cuma gelap.
Burung-burung itu selalu terbang bergerombol dalam formasi yang aneh. Kecepatannya tinggi, namun menukik, berbelok dan berbalik dapat dengan gampang mereka lakukan. Tidak ada yang bertabrakan, bahkan bersenggolan. Sungguh kelebat terbang kelas prima.
Dari kursi rotan tua di pojok Tip Top itu, aku mengamati mereka setiap senja turun. Dengan segelas ice cream, aku memantau potongan langit yang dilatardepani oleh bangunan pertokoan. Di sana mereka melayang-layang, bermain-main dan bercengkerama di udara terbuka.
Siapa mereka? Swallow-kah? Sparrow-kah? Perling? Ah, apapun adanya, mereka telah mempertontonkan kelebat terbang kelas prima. Dan itu mendamaikan hati.
Terseok-seok dia menyusuri jalan. Badan bungkuk melengkung nyaris membuat kepalanya mencium tempurung lutut kanan. Rambutnya gimbal segimbal-gimbalnya, karena sudah bercampur kotoron, tanah, segala jenis kutu dan tumo. Busananya sangat tak pantas disebut pakaian. Tubuh berdaki karena tak pernah mandi, wajah mendelik jika bicara, membuat dia jadi imitasi terdekat Quasimodo, si Bungkuk dari Notre Dame.
Namun kegagahan masih membayangi. Di belakang pria tengah usia itu, berjalan beriringan keluarganya, seorang wanita bule dengan dua anak perempuan yang masih kecil. Mereka berpakaian lusuh, mirip gypsy, tetapi kulit mereka tidak kusam, karena pastilah berbasuh setiap hari. Bola mata mereka coklat bening, agak kuyu tetapi tak pernah kehilangan cahaya.
Tidak banyak yang tau siapa laki-laki itu. Orang-orang pernah berbisik mengatakan, dia bernama Anwar Nasution. Aku tak pasti. Konon, pemuda gagah dari Sipirok ini adalah pelaut ulung. Dia melanglang buana, menantang ombak dan gelombang. Dialah yang berkelana dengan suara lantang menghardik badai dan menampar ombak besar di lima samudra. Dialah yang menyusuri dermaga-dermaga benua Eropa, tak menyerah pada takdir, tak angkat tangan terhadap nasib. Dia pulalah yang menikahi wanita anggun dari Eropa, istri yang memberinya dua anak berambut pirang, berhidung mancung.
Namun, petaka memang tak selamanya bisa dihindarkan. Tiang kapal patah dan menimpa tubuhnya yang tegap. Diapun lunglai, terjerembab setengah mati, namun masih mampu bertahan dengan tubuh remuk dan pikiran kacau. Kecacatan membuat hidupnya berbalik 180 derajat, tak lagi bisa bekerja sebagai kelasi. Menganggur! Tak punya mata pencaharian! Kiamat sangat dekat dengan kepala.
Tapi keluarga Anwar tetap survive. Mereka bertahan dengan menyusuri kota Medan. Terseok-seok bersama, menantang dunia bersama. Rumah tiada, harta tak punya. Tidur beralas tikar di sela-sela emperan toko. Mereka tak pernah menengadah telapak meminta-minta, hanya menerima jika disodorkan. Mereka menggelandang trotoar demi trotoar dan terowongan, berbalut buntalan kain-kain gendongan.
Di mana mereka sekarang? Kota Medan sudah lama tak melihat mereka. Anwar mungkin sudah tiada, tetapi ini hari keluarga itu berkelebat dalam lintas pikirku. Mereka ternyata bukan kotoran, meski kehidupan selalu berhubungan dengan sampah. Keluarga Anwar adalah harum mawar penghias kota Medan, potret jelita ibukota Sumatera Utara, karena mereka memiliki hal yang jarang kita miliki, suatu nan bernama: kebersamaan & kesetiaan.
Kebersamaan keluarga dalam menjalani susah seperti menikmati kesenangan, adalah fenomena. Kesetiaan keluarga mendampingi suami dan ayah dalam segala kondisi, sungguh sesuatu yang sangat luar biasa. Sesuatu yang langka, tidak selalu terjadi di zaman ini.
Mempersiapkan juadah di malam sebelum lebaran merupakan satu bagian dari masa kecil, yang kini tidak tersisa lagi. Itu dimulai saat nenek mengeluarkan loyang besi panjang mirip raket bulutangkis untuk memasak kue ancogot, kue yang hanya boleh dimakan pada esok hari di bulan Syawal. FYI, ancogot dalam bahasa Mandailing berarti besok.
Uniknya, kue itu cuma hadir di Hari Raya, tidak pernah di hari lain. Rasanya tidak begitu istimewa, tapi karena hanya muncul setahun sekali, kami selalu merindukannya. Kue yang diadon dengan tepung, mentega dan telur ini berbentuk pipih, mirip uang benggol berdiameter tiga centimeter, dengan garis-garis saling menyilang membentuk kotak-kotak kecil. Disusun satu persatu di dalam stoples kaca, ditutup erat dan rapat supaya tidak masuk angin, untuk menjaga kerapuhan dan tidak melempem, juga agar tangan-tangan kecil kami tidak gampang membukanya.
Kini ancogot sudah tak ada lagi. Toko-toko tidak menjualnya. Tidak ada di mana-mana. Keluarga kami tidak memasaknya lagi. Bukan karena resep ini tidak diwariskan, tetapi karena kami sekarang merasa lebih praktis dengan membeli di toko kue. Dan aku merasa kehilangan. Memasak memang tidak praktis, meski lebih ekonomis. Membeli memang mudah, namun tidak pernah indah.
Mula sing sapa seneng muring ora bakal antuk pepadhang.
- Pituduh
Apa sih yang tidak diributkan di masa kini? Tatanan baru direka, masih dangkal implementasi, belum rampung dalam aturan, eh, sudah ditentang. Rancangan yang masih harus mengalami uji berulang kali, tau-tau sudah berada di jalan raya. Diacung-acungkan dalam plakat, disorak-soraikan sebagai suatu dosa. Wacana dan fakta sudah layak bayi kembar yang tak bisa dibedakan. Satu ucap yang menggema lewat dasar pemikiran matang, akan disanggah habis dan diinterpretasikan dengan tafsiran beda.
Kita belum pandai berkomunikasi. Kita tak mendengar mulut orang bicara. Kita tak mendengar pesan yang disampaikan, karena cenderung mendengar kalimat-kalimat sendiri yang kita ciptakan di alam pikiran. Jika kita bertanya dan orang menjawab, maka jawaban orang itu harus tak beda dengan jawaban yang telah kita siapkan diam-diam sejak dari rumah. Karena sesungguhnya kita memang tak ingin bertanya, tetapi cenderung mengoptimalkan kebenaran dan mengajak berkomplot, agar saya sama dengan kau, kau sama dengan mereka dan mereka sama dengan segenap anak bangsa.
Semua dipertanyakan. Jangankan yang hitam atau sekedar kelabu, bahkan yang putih kinclong pun masih terus disangsikan. Jangan terima segalanya dengan satu anggukan, tetapi ujilah dengan tinju yang kekar. Di depan istana, di pagar MPR DPR, di jalan-jalan raya, ayo Bung, kita tudingkan seluruh jari ke arah orang yang tidak kita sukai.
Soeharto. Beberapa pekan ini nama itu kembali masuk berita. Orang-orang angkat suara, ramai dan heboh. Menjelang ujung sebentuk sakratulmaut, silang sengkarut berlaga-laga. Pendapat bergulat dengan pendapat bagai dua naga raksasa yang bandel. Soeharto tak boleh dibiarkan lolos, demikian kelantangan itu bergema. Ajal tidak seharusnya menjadi escape. Bagaimanapun hukum adalah panglima! Tangan-tangan terkepal, wajah ketidakpuasan mengkilap, seakan satu-satunya derita di muka bumi ini tercipta oleh seorang yang bernama Soeharto.
Di pihak lain, kemanusiaan juga berbicara. Begitu bengiskah kita, sehingga sepuh yang menderita kerusakan otak dan faali lainnya ini, perlu diseret ke kursi terdakwa? Sungguh usia panjang yang tak menyiratkan ketenangan. Bahkan ketika sosok tua itu akan mengetuk pintu terakhir untuk tidak berpaling lagi, kemurkaan masih terus menyertai dari segala penjuru. Inilah seuntai legenda kejatuhan yang akan menjadi sejarah panjang bangsa ini, ketika kita tak lagi punya maaf, tidak beriba dan tak memberi ampun. Baja adalah hati kita. Saya teringat Franco. Lepas dari perangai dunia, kini di tepi kuburnya bunga mengkelopak semerbak. Bujur makamnya berdampingan dengan tulang belulang orang-orang yang sepanjang masa memusuhinya. Dan kenalkah mereka sebenarnya siapa Franco?
Pertanyaan yang sama: kenalkah kita sebenarnya pada Soeharto? Saya tidak, meski saya masih bisa menorehkan garis dan bayang untuk melukis ingatan tentang sosok gagahnya berkacamata hitam saat membongkar Lubang Buaya. Meski sangat berjarak, diam-diam saya pernah berterimakasih, karena sebagai pelajar SMP di saat G30S tahun 1965, saya merasa nyawa saya tertolong dengan eksistensinya. Yaitu ketika di satu malam hujan, rumah kami digedor orang-orang. Jika pintu jebol, alamat kami sekeluarga tak bernyawa lagi, terkubur di parit-parit galian yang mengitari rumah, tempat saya berondok bersama kawan-kawan. Ayah saya sedang bersiaga di kantor polisi, mendengar kawat dan siaran radio, sehingga pastilah tak bisa datang menolong. Dan apalah arti sepucuk senapan yang terbaring di bawah kolong tempat tidur? Menggunakannya saja saya tak becus, karena baru sekejap diajar cara memasukkan peluru dan menarik pelatuknya. Apalagi para teroris itu jelas tidak satu dua, tapi berjumlah lebih dari enam orang. Pikiran SMP saya berkata, jika Soeharto tidak muncul di Ibukota, warna republik akan jadi merah. Panji merah di atas bumi, darah merah di bawah tanah.
Kenalkah saya pada Soeharto? Saya kemudian memang pernah bertemu dan bahkan bersalaman dengannya. Saya bangga ketika sebagai Presiden RI dia memberi kata sambutan tertulis di salah satu buku karangan saya. Tetapi saya tetap tidak mengenalnya. Dia juga tidak mengenal saya. Zaman itu, saya cuma salah satu dari begitu banyak orang yang selalu mengaku mengenal Soeharto. Semua orang berlomba-lomba mendekatkan diri, sama saja dengan kini, tatkala semua saling bersikutan karena ingin berakrab-akrab dengan Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY.
Kenalkah saya pada Soeharto? Saya ragu. Lama saya berjalan menyusuri usia, mencari diri di setiap halaman buku, mengunjungi rumah-rumah ibadah dari agama apa saja, menyimak Aa Gym hingga Uztad Jefri, mendengar kotbah dan kata-kata bijak, menelusuri Kiekergard sampai Khrisnamurthi, namun tak terlihat tanda-tanda untuk mengenal diri sendiri. Endles journey of self-identification, never dissapear.
Gusti, bahkan diri sendiri tidak berhasil saya kenal, bagaimana pula saya bisa mengenal orang lain? Sebab, sesungguhnyalah sebuah pengenalan cuma tumpukan masa lalu. Ketika kita bertemu seseorang dan mengatakan kita mengenalnya, maka sebenarnya yang kita kenal itu adalah sebuah masa lalu miliknya, bukan otentik diri pada saat kita menemuinya. Kita terperangkap dalam bayang-bayang dan kesan purba, kita terpengaruh oleh kilatan sosok lampau. Kita bercermin pada fragmentasi. Dan itulah pula yang membuat kita jadi berpendapat berdasarkan kemasalaluan, sebuah fakta yang kuno, sebuah pertemuan yang usang. Kita terkontaminasi oleh kungkungan pikiran yang celakanya, memang kita pelihara baik-baik agar menjadi identitas. Kita tak pusing-pusing untuk senantiasa menjadi baru dan segar.
Kenalkah saya pada Soeharto? Saya tidak kenal padanya. Jadi pada saat dia terbaring di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saya merasa tidak perlu datang. Toh juga akan ditolak, sebab saya nobody. Tetapi beliau itu sedang gering, dan besar kemungkinan merupakan sakit terakhirnya. Perlukah saya mem-bezoek-nya? Tidak perlu. Saya kan tidak mengenalnya. Saya pikir, saya cukup prihatin saja. Menjenguk dengan doa, mungkin akan lebih baik. Jika dia ditakdirkan pulih, mudah-mudahan itu membawa kebahagiaan bagi keluarga dan orang-orang yang menyayanginya. Dan kesembuhannya juga bisa memuaskan perasaan orang-orang yang masih merasa dipecundangi, yang ingin terus menyeretnya ke kursi pesakitan. Tapi jika dia ditakdirkan untuk mengakhiri segalanya sampai titik yang telah dijanjikan, akankah kita membiarkan arwahnya mengalir sesuai keinginan sang Pencipta?
Saya tak kenal dengan semua yang ada. Tidak diri orang lain, tidak diri sendiri. Apalagi di zaman ketika setiap orang penuh angkara. Lihatlah, hampir tidak ada lagi hal yang tidak diprotes di negeri ini. Semua dicaci. Keagungan yang dulu menjulang kini menjadi malang, terhempas jatuh berdebam pasrah tanpa gagah. Dan saya tak ingin mencarut-carut, murka atau menggemeretakkan geraham. Karena saya tak kenal Soeharto. Entah itu suatu kerugian (di masa Orde Baru itu dinilai sebagai kerugian besar), atau sebuah keuntungan (di masa Reformasi itu suatu keuntungan), saya tidak mau memikirkannya. Karena saya tak bersangkut paut dengan dirinya. Tanpa dia, saya fine-fine saja. Tidak semakin miskin dan tidak bertambah kaya. Tidak menjadi damai atau semakin galau. Saya tidak merasa kehilangan rupiah atau dollar, karena perhitungan saya tidak bersandar pada untung rugi. Saya tumbuh menjadi saya-yang-ini-hari karena Allah semata, junjungan yang tiada cacat cela. Saya sepenuhnya dikendalikan oleh pikiran dan nurani sendiri. Bukan oleh Soeharto atau siapa saja yang jadi presiden, menteri, anggota atau ketua MPR DPR.
Teman saya sering bernakal dengan candanya yang norak. Dia bilang, hidupnya jauh lebih senang di era Soeharto. Dia puji-puji zaman itu. Ketika dikejar maksudnya, dengan lempang dan gaya dia berkata, “Terang dong! Kan di masa Soeharto istri saya masih muda. Sekarang di masa SBY, saya susah, istri saya sudah jadi nenek-nenek.”
Meski sudah tidak lucu lagi, tapi saya masih mau tersenyum. Saya harus hargai sikap-sikap yang tidak mengandung dan mengundang amarah. Saya ingin membiarkan angin mendesir, cicak berdecak dan sepi menggerayangi. Saya ingin mematai semuanya dan kemudian bersalaman, menebar senyum untuk sesiapa saja. Karena saya penat, begitu banyak murka telah mengisi relung jiwa. Satu lagi, saya ingin menyaksikan akhir dari semua ini: sebuah kejatuhan besar yang membuat hati gemetar.
Sobat, biarlah itu melegenda. Ati suci marganing rahayu.
If you want to know who your friends are, get yourself a jail sentence.
- Charles Bukowski (1920 - 1994)
Ramadhan yang suci pun pergi. Untuk mengiringi, kalimat-kalimat bagus mulai mengunjungi. Pertama di tengah malam ketika lelap sudah jadi bagian dari tidur, dan yang kedua sewaktu bersahur menjelang subuh menjelma. Selanjutnya pesan-pesan itu menghampiri di setiap saat, untuk akhirnya bertubi-tubi. Handphone yang kemudian tak pernah sepi dari bunyi, ring-rang-rung terus, menampung salam yang mengisyaratkan keindahan silaturahmi. Mohon maaf, memberi maaf, membuka hati, menghatur doa dan mengharap cuma yang terbaiklah yang diberikan Tuhan kepada kita.
Short Message Sercives memang telah jadi bagian hidup kita sehari-hari. Dia menjadi mata rantai komunikasi antar manusia sejagat. Begitu dahsyatnya, sehingga peran SMS mampu menggeser gengsi kartu Hallmark yang terkenal. Mengirimkan kartu ke handai kini terlihat sebagai kekunoan, lambang zadul (zaman dulu) yang beranjak raib. Bahkan parcel yang rapi juga tidak boleh jadi pilihan. Karena selain harganya mahal, mengirimkannya juga bisa mengundang bahaya. Penerima dan pengirim bisa dicatat sebagai orang yang doing something wrong.
Berbahaya? Ya! AM Fatwa menyiratkan itu di suatu sore, di tengah kerumunan sekitar 200 orang yang berbondong hadir di aula lantai dua Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Cipinang, Senin 13 Oktober lalu. Itulah hari ketika Prof. DR. Ir. Rokhmin Dahuri, MS berhalal bihalal dengan kerabat-kerabatnya. Dalam SMS-nya, Menteri Kelautan dan Perikanan RI era Megawati ini menyampaikan bahwa sejumlah sahabat memprakasai untuk silaturrahim halal bihalal di Cipinang dan merasa sangat berbahagia bila para sahabat juga bisa bersama pada acara tersebut.
Tidak ada yang salah. Bersilaturahmi adalah keniscayaan. Berpelukan dalam rasa berbagi dengan membebaskan nurani dari sebarang kekhilafan adalah keharusan. Kita adalah manusia pemaaf yang cepat lupa. Kita butuh aksi untuk mengencerkan segala syak dan prasangka yang negatif, baik dengan salaman, pelukan, Hallmark card atau SMS. Tapi jangan parcel. “Bisa salah,” ujar Wakil Ketua MPR RI itu. “Saya tak ingat, mungkin juga Pak Rokhmin masuk ke sini karena pernah mengirim parcel buat saya,” katanya disambut tawa hadirin, meskipun dia tak bermaksud canda.
Teman yang berdiri di samping membisiki saya, kesalahan Rokhmin bukan karena mengirim parcel atau memberi upeti, tetapi karena dia rapi mencatat. Ungkapan ini sudah sering saya dengar, namun batin saya kembali mendung jika mendengar itu lagi. Pria jujur yang malang. Rokhmin yang teliti ternyata harus menerima sial. Palu tujuh tahun penjara sudah diketuk dan dia harus pasrah menerima.
Tapi sadarkah kita, bahwa sebenarnya kita sedang menciptakan sosok pahlawan pemberani atas nama Rohmin Dahuri? We should look for our brave men in prisons and for the fools among politicians, ujar politisi Irlandia Utara David Trimble. Saya merasakan itu. Ada kesan lain melihat Rokhmin di Cipinang dengan Rokhmin ketika sebebas Camar. Kuat lengannya dalam memeluk memberi sinyal bahwa anak nelayan ini telah bermetamorfosa menjadi harimau. Getar batinnya yang merambat ke penampang rasa menunjukkan bahwa telah hadir seekor naga perkasa di sana. Crouching tiger, hidden dragon. Masih lima tahun lagi dia harus dikurung, namun cuma sedikit teman-teman yang menjauh. Hal-hal besar yang pernah dilakukannya dalam menata dan mengelola Kelautan dan Perikanan di negeri ini ternyata sangat elok di mata masyarakat. Kalimat Indira Gandhi cukup pas di sini: there are moments in history when brooding tragedy and its dark shadows can be lightened by recalling great moments of the past. Rasa-rasanya, penataan Indonesia sebagai Negara Bahari masih memerlukan sentuhan jemari Rokhmin.
Maka, selamat hari raya bagi Rokhmin dan orang-orang yang berhati raya. Syawal hadir memberi kemenangan dan semua berpeluk mesra di antara keharuan dan airmata. Moga-moga batin kita ikut memohon dan memberi maaf, dipinta atau tanpa diminta, dipolitisasi atau alamiah. Meskipun di masa-masa ini kita terpaksa selalu menyurukkan secuil keraguan atas ketulusan hati manusia. Oh wearisome condition of humanity! Born under one law, to another bound.
(dimuat di Majalah Marine Bisnis, edisi Oktober 2008)
- Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (K.G.P.A.A.) Mangkunagoro IV
dalam Kitab Tripama.
Solo, Pasca 1927
1. Uro-uro di Tengah Malam
Sepetak sawah. Sebuah cangkul berlumpur. Dua ekor kerbau dengan bangau kecil yang sering bertengger di punggungnya. Sengatan terik mentari. Dan keringat mengucur membasahi kulit hitam legam.
Semua itu merupakan bagian dari hidup saya di masa kecil. Merupakan pemandangan yang sangat lekat dengan batin. Yaitu bilamana saya duduk di atas punggung kerbau atau berjuntai di dangau yang goyah sembari menarik-narik tali untuk membunyikan kaleng-kaleng kosong. Kerontangnya akan membahana mengejutkan burung-burung pencuri padi. Begitu setiap saat, begitu pula setiap hari.
Ayah saya, Pak Wongsodimejo -demikian dia biasa dipanggil oleh warga desa Tjokrotulung Polanhardjo- adalah seorang petani ulet. Dialah aktor yang memainkan peran utama di tengah-tengah gambaran tadi. Dengan otot-otot bertonjolan, sehingga mengesankan kulitnya akan meletus, Bapak menghabiskan waktu seharian dengan merendam kaki di air berlumpur, membungkuk menanam padi, atau berteriak-teriak hingga parau di belakang alat peluku tanah yang dihela oleh si Hitam dan si Lamban, kedua kerbau milik kami yang banyak berjasa.
Meski hanya sepetak, namun hasil yang dipetik dari kerja keras itulah yang membuat keluarga kami bisa bertahan. Berlima kami -Bapak, Simbok, Mas Kuat, Mbakyu Sukarti dan saya- bisa diberi makan oleh petak sawah gembur itu, sehingga lepas dari rasa lapar yang menggigit, meski tanpa berlauk apa-apa.
Itu sudah hal biasa. Bahkan jika harus makan nasi dengan garam, hidangan itu tetap merupakan menu yang pas. Nasi, sebagai bahan konsumsi utama, bagi saya adalah makanan terlezat di dunia. Apalagi beras yang berasal dari kecamatan Delanggu tempat kami berdomisili.
Hal itu sudah sohor dan diketahui banyak orang. Beras Rojolele yang dihasilkan oleh kabupaten Klaten, dikenal sebagai beras lezat yang gurih. Pakai garam saja sudah enak, apalagi jika dilengkapi dengan sepotong ikan asin dan lauk-pauknya. Tiap satu jam pasti lapar lagi.
Kesuburan kawasan itu memang tak bisa dipisahkan dengan keberadaan Tjokrotulung, sumber air nan tidak habis-habisnya, yang bahkan menjadi sumber air Perusahaan Air Minum di Solo.
Meski lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang melarat, namun saya tak pernah bersungut-sungut. Bapak dan Simbok pun demikian. Mereka selalu menunjukkan wajah cerah dan optimis, percaya bahwa kehidupan yang dipilihkan Tuhan buat mereka adalah takdir yang terbaik. Lebih baik dari apa-apapun di dunia ini.
Sikap hidup nrimo seperti itulah yang menular, sehingga tak sekalipun dari bibir saya pernah terloncat keluh kesah. Tidak sepatahpun. Bukankah perangai itu merupakan cermin sikap hidup orang Jawa yang apa adanya, hidup lumrah tanpa membanding-banding?
Saya tidak tahu persis dari mana sikap nrimo demikian bisa bersarang dalam diri saya. Merasuknya tidak kentara, pelan merayap, namun berhasil membangun kekuatan dalam diri. Pribadi saya menjadi kukuh karena tidak sepigura gambar kehidupan lain pun pernah datang ke dalam diri saya.
Dan saya sendiri juga tidak pernah mengundangnya datang. Seperti pendapat Bapak dan Simbok, kehidupan yang saya terima, walau bagaimanapun nestapanya, tetap merupakan anugerah. Dan anugerah tak boleh ditolak. Apalagi diprotes.
Saya masih ingat di malam-malam sepi yang gelap, saat kami duduk berhimpit-himpit menunggu kantuk datang menyerang. Listrik belum ada di desa, dan hanya kegelapan yang melingkupi. Cahaya yang dipancarkan oleh sentir tak bisa menerangi malam. Dan seperti malam-malam sebelumnya, Bapak akan selalu uro-uro (menembang atau mocopat, bernyanyi kecil dengan gumam).
“................Yogyaniro, kang para prajurit. Lamun biso anulado. Duk ing nguni caritane. Andeliro sang prabu Sosrobahu. Hing Mahespati, aran patih Suwondo lelabuhanipun. Kang ginelung tri prakoro. Guno koyo lawan den antepi. Nuhoni trah utomo.......”
Suaranya mengembang, naik turun sesantai tarikan napas yang wajar. Tidak ada pemaksaan, mengalir begitu saja.
Tak sengaja, saya mendengar dengan tekun. Tidak mendengar pasti tidak bisa, karena di tengah kesunyian malam tanpa pelita begitu, hanya uro-uro saja yang terdengar. Kadang memang ditingkahi dengan jeritan jangkrik yang bersembunyi di balik rerumputan, namun paduannya melantun harmonis, merasuk ke relung-relung jiwa.
Saya menikmatinya sebagai sebuah nyanyian yang menghimbau. Meski banyak kalimatnya yang saya tidak mengerti karena dilafaskan dalam tutur kromo inggil (bahasa Jawa yang tinggi), namun saya bisa merasakan getar-getar yang dihasilkannya.
Tidak jarang saya langsung bangkit menghampiri dan duduk di bawah lutut bapak.
“Tegese opo to Pak?” Tanya saya lugu.
“Kamu harus ngerti, To. Uro-uro ini bukan hanya nyanyian semata, tetapi juga sebuah ajaran. Panggulowenthah.Tembang Jowo itu memiliki petuah yang harus dipatuhi.”
Saya tak sepenuhnya mengerti. Melihat air muka saya yang masih menyiratkan tanda tanya, Bapak meneruskan kalimatnya.
“Kowe ngerti tegese 'meneng wae', To? Karepe, upomo kowe duwe beras utowo sego, menengo wae. Ojo gembar gembor. Lha yen pinuju ora duwe, ya menengo wae. Lan ojo ngresulo. menengo wae. Kejobo kawi wong urip kudu ngerti pangroso, jen kowe ora seneng marang tumindaking liyan, ojo nganti kowe nduweni tumindak kang mengkono marang liyan. Ojo seneng nabok yen ora gelem ditabok.”
Saya kurang mengerti apa makna yang disampaikan Bapak. Tidak pada waktu itu. Namun sepanjang hidup saya kemudian, kalimat-kalimat Bapak terus datang bertubi-tubi, sehingga akhirnya saya jadi mengerti.
Sekarang saya bersyukur telah banyak mendengar lantunan uro-uro Bapak.
Kulepas windu ke tujuh dengan jejak, bekas-bekas langkah. Dia yang telah menggurat hidup dengan lantang. Aku tiba di titik usia ini setelah mencercah garis panjang, upaya abadi mencari jati. Masih ada rindu yang tipis, terus terasa detak yang lemah, tetap hadir cinta yang samar. Tanpa kehadiran sesiapa. Pepohon Randu terus membuang bunganya. Kapuk-kapuk melayang menuruni tangga udara. Hujan yang tetes. Hari yang gelap. Rumput kaku menghunjam awan. Senandung sepi terhambung ke langit, pilu menyayat. Suara sendiri begitu nyata, sangat kentara.
Di tengah-tengah keseriusan menulis Angle bertema character assassination, mendadak pikiran saya harus meluncur ke Paris. Hal itu berawal ketika seorang kawan melakukan interupsi dengan menyodorkan koran Kompas.
“Si Djuanda meninggal di Paris,” katanya.
Kontan saya terperangah. Kaget. Langsung menyambar koran yang memuat berita mendukakan hati itu.Tak pelak lagi, Djuanda, pemerhati masalah-masalah intelijen itu memang sudah mangkat. Dari Paris sana, dia ‘pulang’, tinggalkan Indonesia yang sangat dicintainya. Dia tinggalkan seluruh masalah-masalah tanah air yang selalu menjadi tumpuan pemikirannya.
“Kata orang, warga Amerika yang baik jika meninggal dunia akan pergi ke Paris,” ujar nyonya Allonby.
“Ya, sudah tentu. Tapi jika Amerika yang jahat meninggal dunia, kemana mereka pergi?” tanya Lady Hunstanton.
“Oh, mereka tetap di Amerika.” sela Lord Illingworth.
Pokoknya orang baik akan meninggal dunia di Paris, begitu siratan dialog A Woman of No Importance karangan Oscar Wilde. Dan Djuanda memilih Paris, karena hidup memang penuh pilihan. Paris adalah pilihan luar biasa. Ketika penyakit datang menyerang dan bersarang di tubuhnya, teman saya ini berangkat ke Perancis guna berobat di negara tempat dia pernah menjalani masa muda. Tahukah dia bahwa kematian sudah sedemikan dekat dan membayangi dirinya?
Only the good die young, begitu kata-kata orang bijak. Mungkin itu benar. Tapi di ruang kepala saya, wajah Djuanda berputar-putar. Pertemuan kami terakhir pastilah ketika berdiskusi di coffee shop Hotel Sofyan Betawi sekitar dua bulan lalu. Malam itu dia mengikut saya memesan teh manis dingin sebagai minuman ke dua. Seperti biasa, kami berbincang mengenai hal-hal yang mengganggu rasa keadilan. Apa yang ideal dan apa yang terjadi. Semuanya centang-perenang layak kapal pecah. Tidak banyak hal yang jalan sesuai prosedur. Semua membingungkan dan membikin geram. Apakah kita-kita ini punya daya untuk mengubahnya?
Keinginan itu pastilah masih tersimpan rapat di relung-relung syaraf Djuanda. Buku kecilnya yang berjudul Kitab Capaian Politik memuat 48 etape nyata. Menurutnya, “Berpolitik adalah untuk mencapai tujuan yang disebut Capaian Politik. Di masyarakat kita yang merupakan masyarakat warisan, Capaian Politik adalah terejawantahnya kepemilikan, kekuatan, kekuasaan, wilayah, wibawa dan pengaruh, pengikut serta uang. Kenyataan-kenyataan ini seolah abadi mengikuti perkembangan sejarah bangsa dan negara kita, termasuk padanya dalam hubungan internasional. Para pemuda calon pemimpin perlu mengetahui dan memahami realitas politik ini untuk bekalnyadalam belantara politik Indonesia.”
Djuanda adalah teman diskusi yang paling komplit. Bicara dengannya, saya mendapat banyak pengetahuan tanpa harus meletihkan mata tua dengan membaca berjilid-jilid buku. Mendengarnya, saya memperoleh banyak informasi tanpa harus selidik sana, selidik sini. Djuanda adalah encyclopedia berjalan. Ketika menjadi produser dalam acara-acara radio talkshow, saya sering mengundangnya untuk memperkaya perbincangan. Data-datanya bertimbun dan bicaranya lugas. Ceplas-ceplos. Istilah asing, terutama dalam bahasa Perancis sering terdengar. Keberaniannya melancarkan kritik, membuat orang suka. Tapi banyak juga yang tidak suka. Dan Djuanda sangat menyadari bahwa jumlah orang yang menyukainya lebih kecil dibanding yang tidak menyukainya.
Tapi tunggu dulu. Saya ini bingung, belum mendapat jalan untuk mengaitkan ‘kepergian’ Djuanda dengan tulisan tentang character assassination. Padahal kolom Angle ini sudah dikejar deadline. Namun gejolak hati atas kehilangan teman juga harus dilahirkan, meski bukan dalam kolom obituari khusus. Mungkin saya cuma bersedih, sebab kini saya tidak lagi bisa menemukan karakter yang dimiliki Djuanda.
Tadi kawan saya berkata geram, Djuanda bisa jadi dihabisi. Kayak Munir juga. Mungkin diracun. Sesaat pikiran itu juga menyelip masuk ke benak saya. Tapi tampaknya tidak. Saya tahu Djuanda sakit. Dulu ketika menelpon ke apartemennya, saya mendapat jawaban bahwa dia terbaring sakit, tidak bisa menerima telepon. Saya mafhum, karena belakangan itu, tubuh Djuanda semakin hari semakin kurus dan kecil. Dan wajah yang kurang segar.
Jadi, saya menepis dugaan assassination. Jikapun ada unsur pembunuhan di sini, jelas bahwa hidup mantan Letnan Kolonel TNI Angkatan Laut ini telah diakhiri oleh kerusakan hebat pada lever, pankreas dan kelenjar getah bening. Anna, sang kakak, mengatakan Djuanda lebih sering dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Georges Pompidouoleh tim dokter ahli Perancis. Keadaan Djuanda memang sangat tidak sehat, meskipun saya bisa tidak percaya, karena suaranya di balik telepon masih tetap lantang.
“Bung, saya masih di Paris, berobat. Nanti saya cari jalan untuk memberi data-data,” ujar Djuanda dua minggu sebelumnya. Memang menurut Anna, kondisi Djuanda sering naik turun, kadang membaik, kadang memburuk. Dua hari sebelum wafat, almarhum mengalami serangan sakit yang hebat di bagian kepala. “Dia bilang dia capek,” ujar Anna. “So very tired.”
Iyalah, siapa sih yang tidak capek dan sakit memikirkan negeri yang amburadul begini? Kecintaan kita yang teramat dalam kepada Indonesia membuat kita terluka. We love too much, and it’s hurt! Kita ingin Indonesia ini cepat-cepat jadi bagus, lekas-lekas bisa makmur, tapi kita lagi-lagi berhadapan dengan berbagai jenis perangai yang tak terpuji. Perangai yang tidak heroik, perangai yang mencla-mencle. Kita mendengus jijik melihat orang yang bisa berbuat apa saja hanya untuk menyelamatkan diri. Certain people are born with natural false teeth, kata Robert Robinson, penulis dan penyiar BBC. Jadi jangan heran sebenarnya, jika sering kalimat-kalimat yang diucapkan juga palsu. Dan jika sudah terdesak, orang-orang model begini akan melemparkan kesalahan ke luar dirinya dan bilang bahwa semua itu adalah ulah pihak-pihak yang ingin melakukan character assassination terhadap dirinya.
Character assassination? Saya teringat Gary Hart ketika dituding berselingkuh dengan Donna Rice. Hart ngotot mengatakan, hubungan mereka platonis, bebas dari nafsu berahi dan cinta. Pada konvensi Asosiasi Penerbit Surat Kabar Amerika di New York Mei 1987, Hart menuding koran Miami Herald menyebarkan berita bohong yang menyesatkan. Istrinya juga membela dengan mengatakan, media sudah melakukan character assassination.
Saya juga teringat Nixon. Dan Watergate. Sekretaris Pers Gedung Putih Ronald Ziegler mati-matian menyangkal dan menuduh koran Washington Post melakukan character assassination. Ini lemparan balik yang diharapkan bisa ampuh. Seperti yang terjadi di Pilipina tahun 1963, ketika Wakil Presiden Emmanuel Pelaez menuduh Presiden Diosdado Macapagal melakukan character assassination karena Pelaez dinyatakan termasuk dalam daftar Stonehill Blue Book, yang menerima dana dari milioner AS, Harry F. Stonehill. Di Indonesia juga demikian. Banyak yang bilang character assassination. Akhir-akhir ini, pengacara Juniver Girsang juga bilang begitu tentang berita-berita terhadap Hary Tanoe yang menjadi klien-nya. Even Pak Sudi Silalahi juga bilang begitu.
Character assassinationadalah penyerangan terhadap reputasi seseorang. A deliberate and sustained attack on somebody’s reputation. Tapi dalam berita dan buku-buku yang saya baca, tuduhan character assassination itu jarang terbukti. Jika ada asap, selalu ada api. Itu adalah bagian dari kehidupan. Hidup adalah benturan.
Crash, film pemenang Oscar tahun ini, membuka kisahnya dengan kesadaran itu. Kita berbenturan dengan orang lain. Orang lain membentur kita. Dan kita merindukan hal itu. Sebenarnya hidup ini membutuhkan benturan-benturan agar kita bisa merasakan sesuatu. Dan benturan maksimal adalah kematian. Apakah kematian itu tragis atau indah, kita tinggal mendefinisikan saja.
Penyanyi rock Lou Reed mungkin tidak bercanda saat mengomentari kematian Jim Morrison, penyanyi kelompok The Doors, pada Juli 1971. “Someone told us that Jim Morrison had just died in a bathtub in Paris. And the immediate reaction was, How fabulous, in a bathtub, in Paris, how faaaantastic." He he he......
(Dimuat di Majalah B-Watch No. 9, edisi April 2006)
SudutBidik Eps. 02 w/ Naldi Nazar & Richard Claproth
BUMN & Politik Ekonomi
SudutBidik Eps. 01 w/ Binsar Tobing & Nur Adieb
Mencari Solusi Krisis Energi
Spring 1982
In my life I love them all
There are places I remember All my life, though some have changed
Some forever not for better Some have gone and some remain
All these places had their moments With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living In my life I've loved them all
But of all these friends and lovers there is no one compares with you And these memories lose their meaning When I think of love as something new
Though I know I'll never lose affection For people and things that went before
I know I'll often stop and think about them In my life I love you more
USA - Mexico Border
Poor Mexico, so far from God and so near to the United States - Attributed to Porfirio DÃaz (1830 - 1915) Mexican President
Ceramah di Hari Pers
Februari 1994
Arlington Cemetery, Washington DC
Grave of John F. Kennedy
Rest & Relax, Prambors Rasisonia
Dari Ruang Ini, Kita Kuasai Jakarta!!!
San Diego State University
Walt Whitman:
Are you the new person drawn toward me? To begin with take warning, I am surely far different from what you suppose; Do you suppose you will find in me your ideal? Do you think it is so easy to have me become your lover? Do you think the friendship of me would be unalloy'd satisfaction? Do you think I am trusty and faithful? Do you see no further than this facade, this smooth and tolerant manner of me? Do you suppose yourself advancing on real ground, toward a real heroic man? Have you no thought, O dreamer, that it may be all maya, illusion?
Waikiki, Hawaii
SudutBidik @ QTV & TVSwara
A 60 minute talkshow program hosted by IzHarry Agusjaya Moenzir a well known radio journalist with over 36 years of experience in Indonesia politics and current affairs. This program examines different perspectives and angles to current affairs topics.
The Me, I Never Knew
2006
Coronado Del Mar, San Diego
Sky, Sea and Sand
Quote from Pieces of April
How often we sit weeping -you and I- over the life we lead! My love, if you only knew the darkness of the days ahead!
Cora Princess
In The Middle of Gambling Days
Bhagavad Gita
"Neraka memiliki tiga pintu gerbang, yaitu nafsu seksual, kemurkaan dan ketamakan." > Bhagavad Gita
"Dewa, setan, surga dan neraka akan lenyap saat manusia kehilangan kejujuran nurani." > Salman Rushdie - Imaginary Homelands
With Jenderal Faisal Tanjung
Jakarta
Kalang, Singapore
After Disney on Ice
Castle of Tang Dynasty
Hard Rock Hotel, Bali
New Year's Eve
The Pegasus, 1979
Honda 250cc
Puncak
The Other Side of My World
Jakarta 1979
With Remy Silado
Pentas Jazz Prambors
Bugis Junction
Fundae Ice Cream
ID Prambors
Program Director
Tempat Anak Muda Mangkal
Borobudur 9 Jakarta
Tip Top
Medan
Taman Setiabudi YY-42
Medan
Tang Dynasty
Sentosa Island
Singapore
Danau Toba
Parapat, 1989
Santa Monica
Fishing on the dock of the bay
Nien 1983
Antara Lombok dan Bali
With Bima
Parapat, 1989
Taipei
Millbrae, California
17 Agustus 1991
Caesar's Palace
September 1991
Winter 1982
Caesar' Palace
Las Vegas
Manila, 1990
University of The Philippines Los Banos
Hollywood
Universal Studio, Los Angeles
Medan, 1989
Rini & Bima
Philadelphia, 1991
Independence Hall
Memphis, Tennessee
Mississippi Riverboat
Liberty Bell
Independence National Historical Park, Philadelphia
Graceland, Memphis
Grave of Elvis Presley
Helena, Arkansas
Cotton Field, 31 August 1991
Chicago
O’Hare International Airport
Childs
Monday's child is fair of face, Tuesday's child is full of grace, Wednesday's child is full of woe, Thursday's child has far to go, Friday's child is loving and giving, Saturday's child works hard for his living, And the child that is born on the Sabbath day Is bonny and blithe, and good and gay.
Anonymous
Rinintha Pradiza
1995
Bima Andwiza
Medan, 1995
Bramadya Andriza
Medan, 1995
Mexico 1991
USA - Mexico Border
Vacation
Antara Bali dan Lombok
Pegasus
Medan 1978
Me, 1955
The Magic Time of Dream
New York 1991
42nd Street
Jakarta, 1984
One of A Few
Benz
Puncak Arthaloka, 1979
Radio Elshinta
The Agusjaya
Bogor 2003
Jean-Paul Sartre:
Man is condemned to be free. - in Existentialism is a Humanism.
Universal Studio
Hollywood
The Moenzir
Puncak, 2001
Yogyakarta, 1984
With Japto
Di Pojok HMV
Orchard Road, Singapore 2007
Quote from Gesang, Part 1
"Dalam bahasa Jawa, gesang berarti hidup. Pastilah mereka mengharap agar penyakit tak akan menghentikan nyawaku. Aku harus hidup, sesuai namaku. Bagiku, kepercayaan masyarakat Jawa itu terasa benar adanya. Nama identik dengan nasib, berkaitan langsung dengan takdir dan bisa mendatangkan keuntungan. Mudah-mudahan."