Senin, April 07, 2008

Mendengar Berita Kepulanganmu

Requim buat Poppy Anastia
Bagaimana kini caraku sedih,
waktu dengar kau pulang
di siang, saat angin pelan jatuhkan dedaun kering
berputar-putar tak punya arti
menimpa tanah merah pekuburanmu?

Bagaimana pula aku akan bersedih
ketika di sela-sela rumpun hati
aku telah sulit menemu wajahmu.

Musik ini musik kita
pernah kita dengar dan senandungkan
dulu di hari-hari emas.

Tapi tak juga membawa airmata.

Minggu, 5 Oktober 2003

Anak-Anak Rambut

Anak-anak rambutmu yang ramai
menyapu ke wajahku
dan hatikupun tersenyum.

Anak-anak rambut yang menutup keningmu
menggelikan mataku
dan jiwaku pun terpanggil.

Apa yang harus kulakukan, Yang?

Medan, 2 September 1994

Trip to USA, 1991

1. Perjalanan Wartawan Penulis

Kujentikkan jemari berbunyi. Tak pelak lagi, ini pastilah akan menjadi perjalanan panjang yang menakjubkan. Seperti Alice dari dunia dongeng yang memasuki alam keajaiban dengan mata membelalak, aku akan merasa dan mencatat setiap detik daripadanya. Bukan hanya karena perjalanan ini akan sangat memukau dan bisa merubah dasar-dasar rangka berpikir dan berbuat, tetapi juga karena perjalanan ini memang dirancang untuk para wartawan penulis seperti diriku.

Artinya, International Visitor Program (IVP) yang kuikuti ini memang laik disebarluaskan, agar pengalaman itu bisa dirasakan oleh mereka yang belum pernah dan berkeinginan menjalaninya. Jika bagi orang-orang yang sudah sering keliling dunia kisah ini akan menjadi sangat dangkal, itu soal lain. Mereka yang sudah lebih banyak melihat dunia ketimbang aku, tentu memiliki pengalaman yang lebih hebat. Namun apakah mereka mencatatnya untuk orang lain?

Mudah-mudahan ada.

2. Degup Kekuatiran

Dari Medan, aku dijadwalkan berangkat pada Rabu malam, 14 Agustus 1991 dengan menumpang pesawat Garuda. Tidak ada yang mengantar, karena memang tidak perlu. Aku sudah terbiasa tidak diantar-antar. Terlampau sering bepergian, membuat segalanya jadi lumrah. Semakin sering semakin biasa. Lagipula istri dan anak-anakku yang masih kecil-kecil itu tetap tidak bisa melewati penjaga bandara dengan mudah. Paling hanya mengantar sampai pintu kaca. Dan jika mereka berdiri di Waving Galery, angin dingin yang jahat di keterbukaan Polonia itu bisa membuat mereka demam. Atau pilek.

Perpisahan bukanlah hal yang menyenangkan, meski cuma sehari-dua. Kata orang bijak, perpisahan adalah kematian sesaat. Akan ada tangis. Perasaan sedih. Pengantar dan orang yang diantar akan terbungkus rasa cengeng. Apakah itu perlu? Buat apa sebenarnya? Capek-capekin badan dan mengiba-ibakan perasaan saja.

Aku melepas punggung dari sandaran kursi. Kugerakkan leher ke kiri kanan, mengibas rasa jemu yang mulai meronta. Kulirik jam tangan dan melihat jarum pendek sudah melewati angka delapan. Penundaan 120 menit yang diumumkan tanpa nada suara bersalah itu sungguh sebuah sikap yang keterlaluan. Tidak senonoh. Jam berapa pula nanti tiba di Jakarta? Hanya ke-Indonesian-ku yang sudah terbiasa dengan waktu karet sajalah yang membuat aku tidak marah. Ini sangat lumrah, normal dan manusiawi.

Ruang keberangkatan sudah mulai senyap. Restoran-restoran bandara sudah berbenah, sebentar lagi akan menutup kegiatan. Tidak ada penumpang lain kecuali kami, sekitar 50 orang yang akan bertolak ke Jakarta.

Letih dan agak mengantuk, kucoba menghitung waktu yang tersisa. Aku harus berada di Jakarta sesegera mungkin, karena menurut konfirmasi dari Konsulat Jenderal Amerika Serikat (AS) di Medan, kehadiranku di Kedutaan AS di Merdeka Selatan dijadwalkan pada Jumat pagi.

Semuanya serba tiba-tiba dan gopoh-gopoh. Kabar pasti tentang keberangkatan itu datang di hari Selasa 13 Agustus, saat aku sedang mengikuti seminar Public Relations di Hotel Danau Toba International Medan.

“Tembusan surat dari Embassy sudah kami terima. Aslinya pasti sudah dikirim langsung ke Waspada,” ujar Djasamen Saragih, senior staf Konsulat Jenderal AS di Medan itu.

Aku tak mau buang waktu. Selesai sesi pertama, aku langsung turun dan berangkat ke kantor. Sepuluh menit kemudian sudah berada di kamar redaksi. Kuhampiri meja yang masih kosong. Tak ada surat tergeletak. Kuangkat telepon dan kusapa Sekretariat.

“Kak Lily? Ada surat buat saya, Kak?”
“IzHarry, ya? Sebentar ya, kakak lihat dulu.”

Suaranya hilang dari balik telepon. Hatiku berdegup. Ada kekuatiran. Jangan-jangan surat itu nyasar atau digelapkan. Hal itu sangat biasa terjadi di kantor surat kabar tempatku bekerja ini. Setiap orang selalu ingin tahu urusan orang lain. Bukan karena sifat kewartawanan yang sudah menyatu dalam hati, tetapi semata karena masalah perebutan rezeki. Banyak undangan konperensi pers yang tidak sampai ke Redaksi, karena begitu sampai di meja Satpam di gardu bawah, sudah diambil oleh tangan-tangan jahil, karena undangan konperensi pers berarti makan prei dan amplop berisi uang.

“Belum ada, Iz,” jawab Kak Lily. “Nanti kalau ada Kakak antar ke atas.”

Aku penasaran. Tetapi terhadap Kak Lily aku percaya. Dia wanita berbudi, putri dari pemilik surat kabar ini. Usianya sudah separuh baya. Dan sangat tak mungkin dia mengincar kesempatan seperti wartawan-wartawan lain.

Meski percaya, namun tak urung aku merasa bergalau. Ingat akan undangan tahun lalu yang ditujukan kepada Edi Elison. Sewaktu undangan itu datang ke Waspada, dia sudah pindah kerja ke Mimbar Umum. Surat tak bertuan itu kemudian sampai ke Managing Editor.

“Wah, ini harus dibatalkan. Dia kan sudah pindah. Kalau bisa diganti dengan orang lain saja,” ujarnya.

Selintas memang masuk akal. Bang Edi sudah hengkang dari kantor ini untuk gaji yang lebih besar di Mimbar Umum. Bagi beberapa orang, Edi itu dinilai pengkhianat. Tidak loyal.

“Rasanya tidak mungkin, Un,” jawabku.

Teruna melengak. Heran, dia menatapku.

“Kenapa tidak? Kan si Edi ini diundang atas nama Waspada. Sekarang dia tidak di Waspada lagi, tentu kita boleh mengajukan penggantian.”

Selintas memang masuk akal. Teruna Jasa Said, putra pemilik harian ini berpandangan benar. Tetapi tidak demikian cara yang berlaku di Konsulat Jenderal AS itu. Aku tahu persis, undangan itu cenderung ditujukan untuk pribadi seseorang, bukan kepada lembaga. Dan ini bukan undangan yang baru dibuat kemarin sore. Sudah sejak tahun lalu nama orang yang akan diundang masuk ke Kementerian Luar Negeri AS. Pastilah pertimbangannya sangat banyak, dan tidak bisa dipahami dengan gampang.

“Aku rasa tidak bisa,” kataku menggeleng.

Meski aku ini Assistant Managing Editor dan wakilnya langsung, namun aku tak harus selalu mengangguk. Aku bahkan harus menyodorkan informasi akurat agar dia tidak melakukan hal yang bisa membuat malu. Nama Waspada sangat besar di Sumatera Utara. Ini koran bergengsi.

“Cobalah kau urus dulu. Kan lebih baik jika kau yang berangkat, Har,” bujuknya.
“Nggak bisa, Un. Malu kita nanti. Aku tahu persis, undangan ini tak bisa diganti. Bahkan kalau bang Edi tidak bisa, mereka tidak akan menggantinya dengan orang lain. Ini kan program yang sudah disusun sejak tahun lalu.”
“Coba dululah,” pintanya lagi.

Tapi aku tetap menolak. Meski kenal dengan orang-orang Konsulat AS, aku tak akan melakukan hal itu. Aku tidak mau terlihat dungu. Padahal secara pribadi aku juga kurang suka kepada Edi Elison, sejak dia marah-marah karena tulisannya yang membela PSMS kuedit habis-habis atas perintah Pemimpin Redaksi. Hubunganku dengan Bang Edi memang tidak pernah mesra. Begitupun, aku tak akan coba-coba menggagalkan keberangkatannya.

Melihat kebekuanku, Teruna lantas memanggil Aidi Yursal, staf desk Luar Negeri yang sedang mengamati teleks.

“Aidi, ini ada undangan dari USIS. Buat si Edi Elison. Coba kau ke Konsulat, terangkan bahwa si Edi ini sudah tidak kerja di Waspada lagi. Dan kalau bisa diganti orangnya. Entah si Harry kek, entah kau kek. Terserah. Yang penting jangan si Edi.”

Aku diam. Kata-kataku sudah cukup. Tetapi Una masih mau mencoba. Silahkan saja. Lagipula dia tidak salah. Dia hanya tidak memahami dan harus menjaga nama lembaganya. Memang ada benarnya juga, karena bukankah undangan yang dikirim oleh United States Information Service itu karena Edi Elison banyak menurunkan artikel-artikel tentang AS di halaman-halaman koran harian Waspada?
(bersambung)

Sabtu, April 05, 2008

Apa Yang Kuperoleh Hari Ini?

Berdiri di depanmu, melahap raut wajahmu
dan mendeteksi sikap langkahmu,
oh, rupanya kau sudah mulai dewasa!
Tak ada binar-binar lelampu disko,
tiada lagi lagak tomboi
dan sikap-sikap tak acuh
yang merisihkan pertemuan kita.

Di depanku kini,
duduk seorang puteri
yang tahu persis tanggungjawab kehidupan
dan tahu bagaimana menghargai perasaan orang lain.

Jiwakupun lantas angkat suara
melantunkan musik
yang pernah kita nyanyikan bersama
(kau ingat waktu di karaoke?)

Pepohonan kering yang layu,
tiba-tiba mrenyembulkan tunas hijau baru
bersih dan jernih tanpa debu.

Akankah dia terus berkecambah?


Medan, 31 Agustus 1994

Pieces of April

To a girl who knows something other than sex and something more than soft colors
I sent postcards that never arrived.
- Sa'di Yusuf (1943 - )

Tolong jangan kau tanya apapun. Aku ingin menikmati hari. Mentari kasar berdebu telah memanaskan ubun anak negeri. Rona amarah yang jingga membubung, menyelip masuk ke rongga kesadaran. Kupinta ini, karena sedang kutangkap kilasan hasratmu untuk bercakap-cakap. Tapi, aku tidak pengen bicara. Mau termangu-mangu saja. Apalagi tanpa kopi dan rokok, tak ada enaknya ngobrol. Kebebasan merokok sudah dikebiri. Urusan asap kini sudah diatur orang lain. Kita dianggap tidak mampu mendisiplinkan diri, jadi perlu ada peraturan. Padahal ini semua kan milik kita. Mulut mulut kita, hidung hidung kita, paru-paru paru-paru kita. Rokoknya pun beli sendiri, bukan dengan uang korupsi.

Tapi pandangmu jadi keruh. Riap rambut panjang jatuh tak beraturan melatardepani bola mata kecilmu yang melambungkan tanya. Maafkan aku sebab tak bergairah menampung tanda-tanda itu, apalagi mengembalikan jawab ke arahmu. Bukan karena kau tak lagi cantik, atau karena cintaku telah susut, tapi semata-mata karena aku sedang tenggelam dalam keinginan berdialog dengan diri sendiri.

“Sudah lihat Playboy?” tanyamu datar, seakan itu cuma pertanyaan sambilan. Kuintip wajahmu sekilas dengan sudut mata. Hidungmu yang tirus selalu merangsangku. Lebih dari foto-foto Andhara Early dan Kartika Oktavini yang tak membutuhkan face-off. Bulu-bulu halusku sama sekali tak bergetar melihat mereka. Padahal kau tau persis bahwa aku sehat, normal dan tidak impoten. Foto-foto di pagina majalah Hugh Heffner itu tak mampu mengajakku bernafsu, untuk kemudian buru-buru mengajakmu ke tempat tidur. Kau pasti tau, kita tidak bersetubuh karena pengaruh dari luar. Kita menyatu hanya didorong perasaan sayang dan cinta. Majalah itu ternyata tidak punya apa-apa untuk menggoda, dan aku merasa terselamat karena akhirnya bisa meneruskan renungan, tidak tergiur untuk menjamahmu. Kaupun begitu. Duduk aman melipat kaki di sofa, sibuk dengan celotehmu.

Hujan dan panas bergonta-ganti di luar. Aku rasa, kita tidak beda dengan banyak orang, kelompok yang tetap datar tatkala membuka Playboy. “Tapi laris manis lho! Dahsyat, empat milliar dalam satu edisi. Bersihnya, ya kira-kira 2,5M-lah,” ceracaumu.

Aku membenarkan letak tubuhku ke kanan, agak membelakangimu. Bukan muak, cuma merasa rengsa, karena satu-satunya alasan mengapa majalah itu sold-out cumalah curiousity. Jadi bukan karena keinginan untuk mencari klimaks seksual. Bukankah kita-kita ini makhluk yang keras, sudah bertahun-tahun mengkonsumsi formalin dan kebal menghirup polusi? Kita adalah species masa depan, yang tegak berdiri segagah The Incredibles. Kita tidak meleleh hanya karena foto. Kita bukan lilin yang lembek. Kita tidak berteriak, tidak takut dan tidak khawatir. Dan tak peduli. Ingin lanjutkan saja ketermanguan ini. Apakah kau peduli?

“Asyik! Ada lagi demonstrasi di Istana. Banyak berita jadinya,” ujarmu bicara sendiri. Merepet lagi! Tapi aku tersedot juga, karena mengerti, kau sedang bicara tentang buruh yang menentang revisi Undang-undang Tenaga Kerja. Ketika mereka bergerombol memperjuangkan nasib, aku ingin agar kita berbuat sesuatu. Ada rasa prihatin dan simpati. Tetapi ketika mereka gulingkan pot-pot besar tanaman bunga hingga tumpah ruah di jalan raya, aku berhenti dengan perasaanku. Rasa malas terhadap vandal menyeruak. Lebih baik meneruskan lamunan. Jika kau masih mau ikut irama anak negeri, silahkan. Semua itu akan membuatmu tambah kurus.

Begitupun, kau masih menyisakan kegairahan. Apalagi jika sedang bicara tentang hal sakral. Erotisme membakar ketika kau bercerita tentang ibu meneteki bayinya dengan buah dada yang kering. Dan aku akan menarik napas, panjang, dan menarik napas lagi, berulang-ulang. Aku selalu begitu jika kau secara tak sengaja merasuki pikiranku. Padahal kau sama sekali tidak sexy. Matamu kuyu dan kulitmu hangus. Kasihan kau, Crystal-ku. Khatulistiwa menderamu untuk tidak jadi manusia. Kau coba bertahan dengan doa dan loyalitas, namun tetap terperangkap dalam hidup keras yang menderaskan keringat.

Aku teringat aktivis Kemanusiaan Fannie Lou Hamer. “All my life I've been sick and tired. Now I'm sick and tired of being sick and tired,” katanya. Dia pun akhirnya jenuh. Oleh karena itu, pecahkan saja gelembung-gelembung penasaran yang menggelegak di batin, ikut dalam lamunanku. Di cakra bawah sadarku, aku sedang mencari keteduhan. Aku bisa membimbing tanganmu. Itupun kalau kau mau.

“Papua masih terus aja neh. Sudah rusuh Freeport, sekarang suaka pula. Dan Komisi I ribut. Seru!” Senyummu lebar sampai ke kuping. Perhatianmu terhadap peristiwa lumayan detil. Tapi lagi-lagi aku tak berniat melayani. Kau capek, aku capek. Kita capek. Di mana-mana terjadi benturan, kepentingan dengan kepentingan berlaga, saling menyalahkan dan membenarkan diri. Para Papua yang menyeberang ke Australia menari-nari girang sembari mengepal tinju. Aku teringat The Grapes of Wrath-nya John Steinbeck. And where a number of men gathered together, the fear went from the faces, and anger took its place. And the women sighed with relief, for they knew it was all right - the break had not come; and the break would never come as long as fear could turn to wrath.

Aku ingin berpendapat, tapi tak ingin bercakap-cakap. Terlalu rumit membedakan kebijakan Pemerintah dengan kebijakan personal. Terutama saat kau bentangkan kisah 500 perahu bantuan Kuwait untuk Aceh yang dibuat di Makassar. Katamu banyak perahu itu yang tenggelam. Orang Aceh naik perahu Bugis? Ya susahlah! Cuma heranku, mengapa tidak dibuat di Aceh dengan model yang dipahami sejak nenek moyang? Aneh-aneh Indonesia ini. Aku semakin terperangah tatkala kau paparkan rencana pembelian 28 helikopter ex Jerman untuk Penanggulangan Bencana. Nilainya 84 milyar. Bekas? Bagaimana prosedurnya? Jenis dan kondisinya? Maintenance-nya? Segalanya tak terlihat jernih. Pusing dah! Dan kau tak menjawabku. Garis-garis wajahmu pun tak memberi sinyal. Karena aku memang tidak bertanya. Kau kan cuma asal meracau saja dengan tampang yang layu dan pijar mata yang sayup. Bosan akan rutinitas.

“Lihat, ini bagus. The Gospel of Judas,” teriakmu seusai memencet saluran 58. Aku menoleh ke penyiar CNN dan menyimak sebentar. Kemudian menatap lurus ke sikapmu yang tertegun. Kali ini kau terdengar lebih make sense. Tidak mengigau. Ada larutan magma dalam kalimatmu, mengalir di bawah permukaan, ingin menolak apa yang kau dengar. Aku tersedot oleh rasa ingin berdebat, tapi lagi-lagi kuurungkan niat. Wacana ini masih belum selesai. Perjanjian baru telah mendedahkan sosoknya sebagai pengkhianat ketika dia mencium pipi Jesus di Gethsemane, seperti yang termaktub dalam manuskrip Perancis abad 15, Hours of the Virgin. Dan kita tidak bisa percaya begitu saja.

Tapi diam-diam aku mulai terangsang untuk menyembulkan jempol atas pilihanmu. Aku ingin kau mendalaminya, seperti ketika kau mulai tertarik pada The Lost Gospel – The Quest for the Gospel of Judas Iscariot yang ditulis oleh Herbert Krosney. Aku berharap kau beli. Lebih lagi, aku ingin kau membacanya. Aku ingin kita berdiskusi tentang codex yang lenyap sekitar 2.000 tahun dan hanya 85 persen dapat direstorasi dan dibaca. Aku ingin mendengar tanggapan, atau gagasan, sesuatu yang tidak kasat mata, sesuatu yang disebut sebagai idea, yang mempertanyakan hakikat. Kita seharusnya tidak banyak lagi bicara tentang manusia, dan juga tidak mengenai peristiwa. Dari small mind aku ingin menjemputmu beranjak ke ordinary mind, dan dengan kisah tentang kemungkinan Judas bukanlah pengkhianat -tetapi pengikut yang membebaskan jiwa Jesus yang terperangkap dalam kungkungan raga- kau sudah melangkah masuk ke gerbang pemikiran besar.

Tapi aku tak lekas-lekas berharap. Banyak hal yang terlepas dari genggaman kita. Banyak hal yang tak dapat dilakukan, yang mengesankan kita tak mau kerja, padahal negeri ini bisa lebih baik jika anak bangsa diberi kesempatan untuk menggerakkan jemari. Teman-teman kita bukan anak bodoh, pasti bisa mengelola Cepu jika berpeluang. Dan aku berduka. Terjun dan larut dalam pusaran politik cuma membuat kita tak puas dengan kehidupan tunggal ini. Kita akan marah, seperti marah-marah yang akhirnya menjauhkan aku dari dirimu.

An angry man is always a stupid man, kata penyair Nigeria Chinua Achebe dalam Anthills of the Savannah. Aku menyesalinya, dan perca-perca April inilah yang mendorongku untuk termangu-mangu, persis seperti habis menerima SMS-mu. “Kamu pernah melihat aku menangis seperti ini hari-hari yang lalu? Biasanya aku nggak cengeng dan kuat, tapi akhir-akhir ini semua begitu berat. Kita nggak bisa bareng dengan seribu alasan. Kamu paham?”

Ah tuan puteriku, marilah termangu-mangu saja, redakan rasa untuk batin yang damai. How often we sit weeping -you and I- over the life we lead! My love, if you only knew the darkness of the days ahead! Biarlah dunia di luar sana berpeluh dan bertuba. Nanti malam, aku ingin memelukmu, mengisap kujur tubuhmu dan menggerumas kekenyalanmu. Dan sungguh, itu bukan karena Playboy.

- Dimuat di Majalah B-Watch no. 10, Edisi Mei 2006

Kamis, April 03, 2008

Kado Ulang Tahun 43

Sebaiknya memang begitu......,
kita jumpa lagi
dengan suasana hati yang tak segemuruh dulu.
Mungkin ini akan lebih baik bagi kita
yang pada hari-hari lalu
tak mengerti benar apa yang kita lakukan.

Dulu, hati kita yang liar menari di awan
berputar dalam irama yang menggejolak.
Sementara sentuhan,
dan dekapan,
dan kecupan,
kita lahirkan dengan kebimbangan,
penuh rasa takut akan segala akibat.

Yang, empat tahun yang lalu
jelas bukan saat aku berdiri di counter-mu
hari ini. Tiba-tiba aku merasa Tuhan
masih mau memberikan kado bagi ulang tahunku.

Kutatap matamu dan kuteliti hatimu,
penasaran mencari, masihkah ada bayangku di sana?

Medan, 31 Agustus 1994

Kecemasan di tengah Keemasan

“Ah well, perhaps one has to be very old
before one learns how to be amused rather than shocked”
- Pearl Buck
Tujuh tahun lalu, saya merasa terpaksa ketika mengunjungi Batam. Persinggahan saya di kota pulau ini hanyalah karena kepentingan berhemat, karena dengan menyinggahi Batam, saya dan keluarga hanya perlu membayar fiskal 100.000 rupiah per orang, agar dapat menyeberang ke Singapura.

Batam adalah kota yang kering, ketika itu. Gunung gundul terselip di antara hutan-hutan yang semakin ciut. Panas dan gersang. Saya berkeringat. Tidak ada objek pandang yang membuat lega. Sehingga untunglah saya cuma singgah.

Bulan lalu, saya datang lagi di Batam. Sejak dari bandara Hang Nadim, syaraf saya dipaksa mengingat-ingat gambaran yang pernah tercetak di batang pikiran. Saya masih ingat Nagoya (karena namanya bernuansa Jepang), saya masih ingat Jodoh (karena namanya unik) dan masih terkenang Bukit Senyum (karena dari situ bayang-bayang Singapura dapat terlihat). Selebihnya saya tidak kenal.

Batam yang kini terpampang di mata adalah Batam yang totally different. Terperanjat memang, tetapi saya tiba-tiba merasa tidak dalam keadaan terpaksa. Ada geliat aneh di ranah ini. Pulau yang pernah saya kunjungi ini, sekarang telah melakukan metamorfosis yang mengundang beratus-ratus pertanyaan.

Dan saya menyukainya.

Secara fisik, Batam kini adalah emas. Gedung-gedung tinggi bertingkat bermunculan, layak mencuat begitu saja pada suatu malam dari perut bumi. Roda kehidupan berputar cepat, dari pagi ke pagi, tiada henti. Hampir setiap sudut kota berjaga, setia menunggu matahari pagi, seperti juga warung-warung pujasera yang terus terbuka hingga subuh. Inilah kota yang penuh desah nafas.

Dari segi penampilan, Batam ibarat gadis bergincu dan berpupur tebal, dengan giwang bulat besar bertengger di kedua belah telinga. Menggiurkan. Sebagai teras wilayah republik yang dekat ke Singapura, Batam society secara sempurna meng-copy kota jirannya. Mulai dari mobil, rumah, lifestyle hingga kehidupan malam menggeliat manja di sini.

Karakter kota yang menjadi bagian provinsi Kepulauan Riau ini menjadi aneh. Inilah pulau yang mampu memenuhi seribu keinginan. Hampir semua kemungkinan bisa terjadi di sini, karena kota ini memang menawarkan peluang. Magic place of dream where everything is possible.

Dan saya terkaget-kaget.

Sebagai kota dari provinsi termuda, Batam sedang beranjak dari satu fase ke fase berikutnya. Pulau yang tidak lagi bisa tidur ini menyuguhkan keperawanannya untuk disentuh. Meski Peraturan Daerah Kependudukan (Perdaduk) -yang melarang warga daerah lain memasuki Batam- sedang digalakkan, percayalah, tak ada yang bisa membendung orang menuju ke kesempurnaan. Modernisasi terus berjalan dengan langkah tegap.

Apa boleh buat. Memang sudah begitu jalan ceritanya. Baik atau jelek, semua sudah hadir di Batam. Kehidupan malam Jakarta mungkin tak sehebat ini. Layak pendulum yang bergerak ekstrim dari satu sisi ke sisi lainnya, begitulah Batam mendentangkan genta di pikiran saya. Para turis asing, terutama dari Singapura, berjejal-jejal di pulau persinggahan ini. Di sinilah pelacuran marak. Perjudian mengiringi. Penyelundupan menyertai. Quo vadis?

Dan saya cemas.

Tetapi kalimat Pearl Buck, novelis Amerika yang pernah meraih Nobel dan Pulitzer, dalam China, Past and Present sedikit menghibur saya. “Seseorang perlu menjadi tua sebelum tahu cara terpesona, ketimbang hanya terkaget-kaget,” tulisnya. Dan saya sadar, ini cuma kecemasan saya di tengah keemasan Batam.
Tajuk Harian Sijori Mandiri, Agustus 2004

Pagi di Nordstrom Cross

Dengan mulut berkabut,
tangan di kantung
dan pullover setinggi dagu,
kulangkahi lagi blok demi blok kota ini.

Dekat Nordstrom,
serombongan pelari pagi menyapaku dengan teriakan:
''Don't just sit there and doing nothing, Man!''

Kuhela nafas,
kuteguk sisa kopi dan membatin:
''Aku telah letih berlari, Man!
Tapi tetap saja masih kulihat kau
berkelebat dan melemparkan senyum!''

Seattle, September 1991

Cuai

To lose one parent, may be regarded as a misfortune; to lose both looks like carelessness. - Oscar Wilde

Ketika ada nyawa yang tercerabut dari raga, berbagai-bagai perasaan berkecamuk di dada. Kita yang menyaksikan merasa tidak berdaya. Akhirnya kita pulangkan segalanya kepada Yang Di Atas sana. Manusia yang lemah dan pasrah menyerahkan urusan-urusan yang berada di luar jangkauan kepada Sang Pencipta.

Sebuah idiom lama berkata begini: Tuhan, anugerahkanlah kepadaku kekuatan untuk mengubah hal-hal yang bisa kuubah, kedamaian untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah, dan kebijaksanaan untuk memahami segalanya.

Maka ketika banyak nyawa yang meninggalkan jasadnya, kita pun –terpaksa- nrimo dan -mencoba- bijak. Toh tidak ada yang bisa mengubahnya. Ribuan jiwa melayang tatkala tsunami menerjang, dan kita cuma menggenggam hati yang pilu. Dan berdoa. Kematian di belahan dunia lain akhirnya jadi tontonan belaka, seperti layaknya film laga di layar kaca. Dan kita berdoa. Ketika pesawat Mandala gagal take-off dan terjerembab jatuh di Padang Bulan, Medan, kita terkejut sebentar, dan berdoa. Sudah itu datar, saling bertukar cerita.

Sedemikian pekatkah indra kita, sehingga bulu-bulu remang tak lagi bergetar ketika ada nyawa yang melayang di antara fananya hidup ini? Tidak adakah sesuatu yang bisa kita lakukan agar hal itu tak lagi terjadi? Ah, biarlah semua itu menjadi urusan Tuhan. Atau menjadi persoalan orang-orang besar, para pengambil keputusan. Begitu kata hati kita yang selalu berangkat dari rasa menyadari, bahwa kita yang awam ini memang tak punya daya.

Sesuai proximity, kecelakaan pesawat Mandala di Medan adalah yang peristiwa nahas yang terdekat dengan kita. Secara jarak dan secara waktu. Kita belum lupa. Namun dalam mendeteksi bandara udara Polonia Medan, kita seharusnya menyadari bahwa kecelakaan dengan corak yang sama sudah berulang kali terjadi di Sumatera Utara. Delapan tahun lalu, lebih dari 200 jiwa melayang ketika pesawat Garuda yang hendak landing menabrak gunung. Sebelum itu masih ada juga pesawat lain yang nyungsep di pemukiman penduduk. Pekuburan dan monumennya masih tegak berdiri di pinggir jalan di sisi Polonia.

Kita lupa, bandara Polonia pernah menyandang sebutan Black Star. Peringkat yang berbahaya bagi penerbangan. Lokasinya yang berada di tengah kawasan pemukiman membuat Polonia dinilai punya risiko tinggi. Sehingga Istana Plaza, bangunan bertingkat empat yang baru selesai dibangun, harus rela dipangkas menjadi dua tingkat, karena berada di jalur penerbangan. Dan rancangan lapangan terbang baru pun disusun, mengambil tempat di Kuala Namu, Deli Serdang. Sesuai standar penerbangan dan keselamatan, bandar udara sebaiknya memang berlokasi dekat garis pantai, dan Kuala Namu sesuai dengan kriteria itu.

Namun semua itu cuma di atas kertas. Rancangan bandara yang dirintis sejak masa administrasi Gubernur Raja Inal Siregar dan berlanjut pada masa administrasi Gubernur Tengku Rizal Nurdin, tak pernah wujud. Tragisnya, kedua gubernur itu kemudian jadi korban kecelakaan pesawat yang lepas landas dari Polonia. Seandainya Mandala itu take-off dari Kuala Namu, apakah tetap akan jatuh terbakar?

Pertanyaan ini memang spekulatif. Rasanya tak perlu dilontarkan, karena kelaikan terbang pesawat juga harus diselidiki. Banyak faktor yang mengancam keselamatan terbang. Maka berandai-andai bisa menyesatkan. Kuala Namu juga belum ada. Namun Medan boleh cemburu terhadap Padang yang tanpa gembar-gembor sudah punya bandara baru. Medan terus saja berkutat di meja perundingan, mulai dari pembebasan lahan hingga pengadaan dana. Masih mencari investor, kata teman saya di DPRD Sumut.

Alangkah cuainya kita. Careless dan layas. Sikap ini akhirnya bisa menjadi sifat. Kita sering menyepelekan hal-hal penting, menggantinya dengan pernik-pernik asesoris. Kita berpupur, namun lupa mengisi nurani. Kita berbenah, tapi tidak tuntas. Banyak hal yang -sengaja- kita biarkan menggambang. Kita ibarat sedang menunggu petaka sembari bercakap-cakap, tidak berbuat apa-apa selain berdoa.

Multatuli pernah bertanya, apakah yang sebaiknya dilakukan seorang ibu ketika bersama anak kecilnya berada di puncak menara? Memegang tangan anaknya kuat-kuat, atau berdoa memohon anaknya tidak jatuh? Silahkan jawab, tapi saya ingatkan sebuah idiom lama: Careless talk costs lives.

(Dimuat di Majalah B-Watch No. 3, Edisi Oktober 2005)

Di Sausolito

Di Sausolito,
angin dingin menerpa hati
membekukan kerinduan
yang terkubur

Di Sausolito,
pancang-pancang Golden Gate menancap dalam
membekukan pandang yang sayup

Matahari jatuh, mata hati luruh
dan kembali kukeluhkan namamu.

Masihkah kau di sela-sela jantungku?

Sausolito, 17 Agustus 1991

Ramah Tamah, Remeh Temeh

For a successful technology, reality must take precedence over public relations.

- Richard Phillips Feynman


Eddie Widiono dan jajarannya kebakaran janggut. Maka tidak cuma segayung air, namun berbranwir akua diboyong kemana-mana dan buru-buru diguyur ke kobaran api. Pembagian jasa produksi bagi Direksi, Komisaris dan Sekretaris Komisaris serta bonus bagi pegawai diributkan orang. PLN gundah meski kocek menggembung. Abis siapa suruh, masih rugi, kok bagi-bagi bonus?


Pertanyaan ini sebenarnya lumrah seperti embun pagi, sejuk dan tak perlu disengiti. Tapi, bad news travel fast, jurusannya meleak kemana-mana seperti bola liar di meja nine-ball. Akibatnya Eddie kelabakan. Pada wawancara yang disuguhkan di layar SCTV, wajah letihnya jauh dari kesegaran, berdialog tegang tanpa senyum.


Saya pegang kedua pundaknya saat bertemu di pelantikan Kepala LKBN Antara.


Boss, kok Anda jadi tegang begitu sih?” tanya saya.


Ahmad Fuad Afdhal yang ada di samping kami juga merasa hal itu. Sebagai pakar Public Relations yang tangguh, AFA pasti ngerti jurus-jurus bagaimana yang seharusnya dipergunakan PLN.


Dan Eddie menjawab lirih: “Gimana ya pak, saya kejebak. Itu di luar agenda.”


So what, gitu loh! Eddie ini kan manusia biasa, sama seperti kita juga. Ada daging, tulang dan darah. Kalau hari-hari ini dia mulai repot dengan Kejagung dan menerima ancaman tikaman dari segala penjuru, sehebat-hebatnya, pastilah akan berpengaruh pada kiprahnya selaku orang nomor satu di Perusahaan Listrik Negara (Persero) itu. Belum lagi jika Pemerintah menilai Eddie tidak perform, alamat dia bisa dicopot. Dan nuansa itu bukan tidak ada, malah semakin hari semakin kencang. Bahkan tiga nama calon pengganti sudah mulai berembus-embus pula masuk ke liang telinga banyak orang.


Selesai? Belum Bos! Masalah tantiem masih meruyak, pukulan lain menghantamnya. Kali ini tentang CIS-RISI, akronim Customer Information System - Rencana Induk Sistem Informasi, yang bertujuan mempermudah sistem informasi pelanggan dan sistem informasi keuangan pelanggan di daerah Jakarta dan Tangerang. Singkatnya: bayar listrik pakai ATM. Ringkas, hemat dan ampuh menekan kebocoran. Sistem yang bagus itu dalam Tempo Investigasi “Anggaran Kembung PLN Jakarta” edisi 25-31 Juli 2005 dipampangkan dengan dua kejanggalan, yaitu kelemahan prosedur dan menimbulkan kerugian negara.


Maka seperti fire-fighter yang tangkas, PLN langsung membasahi Tempo edisi pekan berikutnya dengan inforial yang memuji-muji sistem yang memang hebat itu. Tapi kemana pergi dua kejanggalan yang sebelumnya membuat kuduk risih bergidik?


Oleh karena itu, selain untuk mengemban visi agar “diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang, unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani”, PLN kini berfungsi sebagai pasukan pemadam kebakaran yang jempolan.


Di lantai sembilan ruang kantornya, bos-bos PLN ini sering sampai larut untuk mewujudkan visi, dan agenda baru: menangkis berita miring dengan cara pemadaman api. Tapi toh harus sempat juga menyusul terbang ke Jepang dan Cina ketika Presiden RI melawat ke dua negara itu. Mungkin itu upaya untuk memperoleh fire extinguishers juga. Maklumlah, di acara itu banyak petinggi yang ikut, mulai dari Sekretaris Kabinet hingga Meneg BUMN, yang bisa membalikkan telapak tangan kapan saja untuk mengubah peta kepemimpinan di PLN.


Jadi Direksi, ya enaklah. Tapi juga tidak enak. Kalau angin sepoi, maka lancang kuning melancar tenang. Jika topan bergemuruh, air laut naik melontar-lontar tubuh. Tapi Pak Dirut bukan sosok yang gampang menyerah. Jajarannya juga tangguh, meski tidak sesiapapun yang mafhum isi hati orang. Seperti di mana saja, di PLN pastilah ada juga yang punya dua peran, sebagai jajaran Dirut yang loyal, atau jajaran PLN yang tidak mendukung. Dan perlu diyakini hal ini, terutama sebelum memutuskan kebijakan yang dipertimbangkan bersama, namun konsekuensinya memberat pundak sendiri.


Ketangguhan PLN ini juga mencorong dalam ‘Dialog Hemat Energi dan Kebijakan Pelistrikan Nasional’ di Hotel Sahid Jaya awal Agustus lalu dengan PWI sebagai tuan rumah. Dengan tangkas jajaran Direksi PLN menjelaskan seluruh pernik-pernik usahanya, hapal luar kepala, menjawab semua pertanyaan dengan lancar, hampir tanpa koma dan titik. Tapi ada juga celotehan melongo bercuriga, karena acara itu dilakukan pada saat cerita tak sedap sedang merebak. Pemadaman api lagi?


Sesungguhnya, komunikasi yang baik akan tercipta bila antara pembicara dan pendengar berada dalam gelombang yang sama dengan kesinambungan yang tertata rapi. Sharing. Mengingat yang berhubungan dengan PLN ini adalah pelanggan yang 33 juta rakyat Indonesia, maka stakeholders-nya sangat luas dan beragam. Mampukah dalam satu-dua kali memadamkan api, PLN bisa menenangkan masyarakat pelanggan?


Kita kok kurang yakin. Menjadi pemadam kebakaran di sana-sini bukanlah tugas utama direksi PLN, karena banyak orang di kantor itu yang difungsikan untuk membantu image PLN. Salah satunya ialah Waluyo Nugroho Harjowinoto yang mengkomandani Tim Citra, tim yang dibentuk untuk membangun citra, dengan tugas semacam pemberi masukan kepada Direksi mengenai arah, gejolak, langkah komunikasi dengan media.


Perlu juga dilihat, selama ini PLN mematok empat misi. Yang pertama saja sulit diaplikasikan, yaitu menjalan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham. Ini saja sudah repot, karena lihatlah siapa saja yang ada di barisan stakeholders itu. Stakeholders internal, terdiri dari pemegang saham, manajemen & top executives, karyawan, keluarga karyawan, sementara Stakeholders external adalah konsumen, penyalur, pemasok, bank, pemerintah, pesaing, komunitas, dan pers.


Repot. Apalagi jika ternyata ada nuansa escalation commitment di sana, yaitu kesalahan yang dibuat secara berkesinambungan oleh para pengambil kebijakan karena terlalu berpegang teguh pada rasa percaya diri. Ini sangat mungkin hadir di PLN. Penyangkalan atas informasi negatif atas salah keputusan, yang timbul sebagai akibat salah mengartikan sinyal dari luar, atau karena lingkungan dalam yang tidak berani atau sengaja membeberkan hal negatif.


Berkomunikasi kepada stakeholders sebaiknya tidak dilakukan dengan cara-cara itu. Rasanya kok tidak bersentuhan dengan butir nilai-nilai perusahaan yang disusun PLN, mulai dari kepekaan terhadap kebutuhan pelanggan, penghargaan kepada harkat dan martabat manusia, integritas, kualitas produk, peluang untuk maju, inovatif, mengutamakan kepentingan perusahaan dan berorientasi pada upaya meningkatkan nilai investasi pemegang saham.


Bukankah sebaiknya jajaran juga melakukan bounded rationality, berpikir dan berbicara tentang fitrah manusia yang memiliki keterbatasan manusiawi? Karena betapapun hebatnya para pengambil keputusan, selalu ada peluang untuk melakukan kesalahan. Jadi lumrah saja, seperti embun pagi, sejuk dan tak perlu disengiti. Toh orang tau, kesalahan itu sering terjadi karena tekanan waktu, kompleksitas masalah dan kemiskinan informasi.


Maka sebaiknya PLN tidak menjadi fire-fighter. Daripada memadamkan api yang berkobar, lebih baik mencoba menjaga suasana agar api tak menyala. Komunikasi yang ramah dengan stakeholders adalah keniscayaan, tapi jangan sampai keramahtamahan itu berubah menjadi keremehtemehan. Artinya, kalau ada yang ribut-ribut, mari kita duduk makan bicara di hotel mewah. Kalau ada media yang ribut, berikan iklan atau PSA, pasti beres.


Model yang begini ini remeh temeh. Alias menggampangkan!


(Dimuat di Majalah B-Watch No. 2, edisi September 2005)

Di Lantai Dua 'Bed & Breakfast’


Kuhadapkan diri pada pigura
dan kulihat dirimu di sana,
sedang menatap tajam ke arahku.

Tiba-tiba aku merasa terpenjara.

Tuhan,
Sekian tahun sudah
namun namanya masih sempat kubisikkan.

Edwardian Inn, Helena Arkansas, 31 Agustus 1991