Sabtu, Agustus 09, 2008

Biografi Rinto Harahap


2. Pasanggerahan Penuh Cinta


Dalam samar dan kabur, terlihat bayang-bayang berpendar. Sore rembang dan surya melemah, melarutkan aku dalam sadar dan alpa. Ada sosok Bapak di sana. Berdiri di depan tempatnya bekerja, Kantor Cabang Bank Negara Indonesia 1946. Berkemeja putih, celana komprang dan sisiran berlicau sebak ke belakang. Senyum kecil mengambang di bibir, pantulan rasa bangga yang semayam di dada. Itulah 1949. Kurun waktu yang menyirat duka. Belanda merasuk dengan Aksi Militer II, ingin membuat Bumi Pertiwi jadi milik mereka lagi. Gelombang pengungsian bergulung-gulung. Arus penduduk mengalir memenuhi pedalaman yang dinilai lebih lambat menerima perubahan. Belanda musti ditentang, harus dielakkan.


Zaman susah. Suasana tak selalu pasti. Perubahan dapat terjadi dalam hitungan menit dan detik. Panglima Besar Sudirman bergerilya ke hutan. Bung Karno dibuang ke Parapat. Dan James Warren Harahap dipindahkan ke Sibolga. Bapakku itu diangkat sebagai Kepala Kantor. Aneh. Ketika orang lain menuruni grafik kehidupan, Bapak sedang merangkak naik. Pekerjaan baru adalah awal kebangkitan untuk menapak karir lebih jelas. Sejak tamat MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs; Sekolah Menengah Pertama), Bapak memang sudah menyimpan cita-cita untuk jadi bankir. Dan mimpi itu wujud.


Selaras dengan penempatan baru di Sibolga, kehidupan keluarga berangsur menapak ke tingkat sederhana. Nasib sepasang anak, Ratna Dewi dan Erwin Parlindungan yang masih usia empat dan tiga tahun, mulai bisa dijamin. Biaya menuntut ilmu di sekolah bergengsi sudah bisa disimpan. Makanan ada, sandang cukup. Jika sakit, biaya cadangan dapat menutup perobatan. Rumah bukan masalah. Bapak memperoleh izin menempati pasanggerahan yang berfungsi sebagai Mess Karyawan BNI. Ada beberapa keluarga tinggal di sana. Meski berbagi, namun pasanggerahan separuh batu itu sangat layak untuk didiami. Ruangan besar, berpintu dan berjendela lebar. Halaman luas berpasir pantai. Perdu berbunga melingkar rapi, sungai kecil berbatuan, damai menyuarakan gemericik air.


Tiada yang membuat risau. Ada cinta di sana, membara bersama kesederhanaan, identik dengan kenyamanan. Hujan tak membasahkan, panas tak membakar. Di atas kepala, atap bermodel rumah Batak menaungi. Sewa gratis, tak perlu bayar, semua tanggungan kantor.


Di tengah gambaran itulah aku hadir. Mamakku, Siti Raya boru Tobing yang berasal dari Tarutung, memberi nama Rinto buatku. Singkat, tapi penuh kasih sayang.


“Kau gondut, lucu dan bulat,” katanya.


Itu adalah bagian cerita yang kusimak di kemudian hari. Ucapan itu bisa dipercaya, karena jika aku mundur ke belakang sejauh-jauh jangkauan pikiran, yang teringat hanyalah kebiasaan duduk di anak tangga teratas rumah, menunggu Ompung Harahap bersambang membawa pulut dan Pisang Raja goreng. Sebungkus setiap pagi. Jika suaranya menyambar daun telinga, aku pun langsung teriak, lari menyongsong bawaannya dan sekaligus mendorong pulut dan Pisang Raja goreng itu masuk tenggorokan.


Selebihnya gelap. Pengetahuanku tentang Sibolga nol. Baru dalam perjalanan nostalgia inilah, kutahu letak geografisnya yang terkungkung pegunungan berbentuk huruf U. Pada bagian atas huruf itu, laut meluas hingga ke horison. Ada pulau-pulau kecil di mulut teluk, mencuat keluar dari samudra bagai bongkahan tanah. Poncan (Pulau) Gadang, Poncan Ketek, Mursala dan Nasi Situngkus. Keindahan yang tiada berbagi. Terutama di petang hari, ketika mentari meluncur turun di balik laut. Lautan Hindia selalu bergelora. Tak pernah diam dan tidur. Debur ombaknya memukul-mukul garis pantai, menerjang daratan dengan taat dan kejam. Ada kengerian jika menatapnya. Perasaan mengerdil dan jiwa takluk menekuk lutut pada kekuatan alam yang sarat misteri. Dan jika malam jatuh menggelap bumi, keluasan air memancarkan daya magis yang kental, menyedot jiwa peka manusia masuk ke dasarnya. Bawah sadarku dirasuki, jala-jala rasa tergugah.


Alangkah kucinta laut itu. Lahir di ibukota Tapanuli Tengah yang baur dan heterogen ini, aku merasa menemu serpihan diri tercerai-berai, berpadu dengan penduduk dari berbagai daerah yang berkumpul di sini. Berkomunikasi dalam perbedaan dengan masyarakat campuran Batak dan Padang yang berdialek khas, dilafaskan dalam bahasa pesisir yang ramah. Enak di kuping, elok di lidah. Lugas dalam komunikasi.Meski terlarut, di rumah, kami tak banyak menggunakan bahasa munak-munak (Kau, kamu, kalian. Bahasa pesisir daerah.) Dalam keseharian, kami bicara dalam bahasa Indonesia. Sementara untuk hal-hal yang tak perlu diketahui anak-anak, Bapak dan Mamak memakai. Kebiasaan inilah yang membuat aku menjadi kurang fasih berbahasa Batak. Bisa memahami, tapi sedikit kagok jika bicara.


(Bersambung ke Bagian 3. Saat Bernyanyi, Saat Bermanja)

Biografi Tengku Nurdin

2. Berbaur dengan Masyarakat Awam


Ibu saya bernama Tengku Chazanah. Ayah menikahinya pada tanggal 19 Desember 1919. Pernikahan itu dikurniai sepuluh anak, delapan pria dan dua wanita. Saya adalah anak ke dua, lahir pada tanggal 6 November 1922.


Kami adalah sebuah keluarga besar. Seperti juga para kerabat Sultan, rumah kami berada di lingkungan istana dengan halaman yang luas. Bangunannya bertingkat dua dan sangat kukuh dengan dinding batu dan atap genteng. Lokasi persisnya adalah sekitar 100 meter dari Simpang Tiga ke arah Pantai Cermin. Memang tidak semegah istana, namun bagi saya rumah itu sangat besar, terutama jika dibanding dengan rumah-rumah masa kini.


Meski tidak langsung beratokkan Sultan Serdang, namun kemewahan hidup sangat melimpahi saya. Perlakuan yang diberikan kepada saya sama besar dan istimewanya dengan yang diberikan kepada cucu-cucu lain. Sebagai anggota keluarga Kesultanan, privilege yang saya terima juga sama. Baju yang saya kenakan bagus-bagus melulu dengan manik-manik mengkilap dan makanan lezat yang membikin lapar selalu tersedia.


Demikian banyak kesenangan yang saya terima, tetapi demikian pula banyaknya larangan dan pantangan yang diberlakukan. Salah satu larangan yang paling tidak saya setujui dan sekaligus yang paling sering saya langgar adalah bermain-main di luar lingkungan istana. Bukan saja Engku (panggilan kepada ayah), semua famili sampai ke Atok Sultan pastilah akan murka jika saya bermain-main di pasar.


Tetapi apa boleh buat, bukan salah Bunda mengandung, bergaul dengan rakyat sudah merupakan suratan di tangan saya sendiri. Saya tidak pernah tahu, entah mengapa saat-saat berbaur dengan masyarakat awam membuat hati saya senang dan berbunga-bunga. Saya suka bermain guli dan bola kaki dengan para pemuda-pemuda kampung yang bergerombol di pasar. Meski bau dan berpakaian compang-camping, saya tak pernah keberatan bercengkerama dengan mereka. Bukankah jika sudah bergelut merebut bola, semua kami akan jorok, bau dan dekil? Ah, saya tak perduli benar dengan hal itu.


Namun jika pulang ke rumah, seluruh kujur tubuh saya pasti akan diperiksa oleh Ende (panggilan untuk Ibu). Dia selalu menyeret saya ke pancuran untuk diguyur lagi, meski rambut saya masih basah karena baru selesai berenang di sungai.


Sembari memandikan, Ende merepet panjang-pendek. Dan saya harus senang mendengar repetannya, ketimbang menerima libasan tali pinggang Engku yang dicemetikan Ende.


Meski tahan menerima hukuman, namun saya sering menerawangkan tanya, tak habis pikir, gerangan dosa besar apa yang saya lakukan jika bermain-main dengan kanak-kanak kebanyakan itu? Apakah berada di pasar merupakan kejahatan? Bukankah Atok Sultan juga sering ke pasar, berbincang dan terkekeh-kekeh dengan para pedagang di sana? Mengapa dia boleh? Mengapa Engku juga diijinkan? Mengapa kami para cucu tidak diperbolehkan?


Bahkan menurut penglihatan saya, Sultan disayangi oleh rakyatnya karena sering berbincang dan datang ke pasar. Dia dinilai sebagai Sultan bijaksana, berjiwa kerakyatan dan tidak bertahta di menara gading. Setiap sapanya ibarat angin Bahorok yang bertiup pelan, menyejuk dan menenteramkan jiwa. Karena itulah sangat pantas dipertanyakan, mengapa saya tidak boleh baur dengan teman-teman di kampung sekitar?


Penasaran. Saya musti mencari tahu. Satu-satunya cara adalah bertanya kepada Ende.


“Din, tak baik berburuk sangka. Kalau kau dilarang, pastilah ada alasannya,” jawab Ende.

‘Tetapi patik (saya) suka, Nde,” kata saya.

“Ya. Ende tahu. Tapi nanti-nantilah itu, kalau kau sudah besar.”


Ternyata larangan yang diberlakukan kepada saya itu lebih cenderung bersifat kekuatiran. Mereka tak mau saya terlampau baur dengan rakyat sehingga meninggalkan tatakrama istana, apalagi segala aturan Kesultanan Serdang yang belum benar-benar merasuk ke alam pikiran saya. Yang lebih meresahkan, di luar sana ada Belanda terus mengintip dan mematai setiap gerakan anggota istana dengan mata liciknya


Larangan terhadap saya memang memiliki banyak pertimbangan. Kekuatiran hanyalah kulit luar saja. Isi sebenarnya adalah kebencian terhadap penjajah Belanda.


Akhirnya saya jadi mengerti sudut pandang yang dianut Kesultanan Serdang. Ini adalah suatu aturan yang tidak dapat disepelekan. Harus ditaati, musti dituruti. Jika pandai meniti buih, selamat badan sampai ke seberang, tempat di mana kemerdekaan manusia berada.


Meski tidak tahu kapan, namun daratan seberang sudah mulai terlihat. Seperti engku dan atok juga, saya coba menatapnya jelas-jelas dengan rasa harap dalam dada. Bilakah masa itu akan datang?


(Bersambung ke Bagian 3. Melorot ke Nomor Pencorot)



Biografi Prof. DR. Hadibroto

2. Mata Berkaca, Hati Tersedu

Enam bersaudara sebenarnya sudah cukup besar, tetapi kelahiran adik baru selalu kami sambut dengan sukacita. Begitulah riangnya hati tatkala ibu hamil lagi.


Cuma kali ini ibu kelihatan letih. Wajahnya sering pucat dan tubuhnya semakin kurus. Mengandung setiap dua tahun pastilah membuat badan rontok. Kesehatan jadi kurang tera­wat dan kepala sering pening-pening. Saya masih ingat jalan ibu yang tertatih-tatih dengan kandungan semakin membesar. Alangkah berat langkahnya.


Saat itu ibu sedang mengandung anak yang ke tujuh. Kami senang karena nanti pasti ada adik baru yang mirip boneka. Tetapi takdir berkata lain. Pada saat melahirkan, terjadi pendarahan yang mengakibatkan ibu tak bisa ditolong. Dia berpulang sewaktu melahirkan dan adik bayi yang sempat lahir juga tak dapat diselamatkan.


Saya tersentak. Mata berkaca. Hati tersedu, karena ibu adalah segala-galanya bagi saya. Dialah matahari pagi, pijar yang memberi cahaya. Dia jugalah yang bernama rembulan, penerang bagi hati di kala bingung. Dia menyusukan dan memandikan. Ibu yang membuat saya bisa tulis-baca, mena­namkan Islam di benak saya. Dialah yang membuat mata saya melek untuk mengerti mana yang baik, mana yang buruk


Kini dia pergi. Cepat sekali rasanya. Ibu, mengapa pergi secepat itu?


Saat ibu meninggalkan kami di tahun 1928, saya duduk di kelas empat. Saya masih membutuhkan ibu untuk memecahkan soal-soal hitungan yang jadi huiswerk (pekerjaan rumah). Dan tak lama lagi akan ujian kenaikan kelas. Apa yang akan terjadi? Saya tak tahu.


Tetapi ayah rupanya lebih tahu. Saya dan Mas Suhardjo diboyong ke Bojonegoro untuk dititipkan kepada abang kandungnya, Raden Tumenggung Bawadiman Kartohadiprodjo, suami Bu De Oemi. Di situ ada Mbak Sukanti yang sejak bayi sudah tinggal di rumah itu. Dia sendiri baru menyadari bahwa kami ini adalah adik-adik kandungnya, justru pada saat ibu telah terbujur kaku.


Di sanalah kami bermukim, di bawah asuhan Bu De Oemi, yang persis ibu, sering mengajari agama dan berhitung. Saya kira ini merupakan hasil perembukan keluarga. Maklumlah, ayah yang kerjanya harus ke daerah-daerah, tidak mu­ngkin membawa kami, karena di daerah tidak tersedia sekolah. Sekolah yang bagus cuma ada di Bojonegoro. Apalagi Pak De Menggung adalah Patih di kota itu.


Di Bojonegoro, saya jadi anak yang necis. Namanya juga kemenakan Pak Patih. Saya pun masuk sekolah lagi, menenteng buku dengan gagah memasuki kelas lima. Alangkah menterengnya Soehadji kecil itu, dengan sebak rambut ke sebelah kiri. Licin dan mengkilat, seperti disemir dengan minyak goreng.


Yang lebih membuat keren, angka-angka rapport saya tetap berkibar. Tidak jatuh, padahal saya sudah tak punya ibu lagi. Saya kehilan­gan, tapi saya tak mau tenggelam dalam duka dan lupa. Justru saya ingin membuat ibu bangga. Saya tahu dia akan tersenyum jika saya mengingatnya dalam doa, tekun belajar dan taat menjalankan ajaran agama. Semua itu tak susah diwujudkan, karena layak sepur di atas rel yang berjalan sesuai arahan, saya tinggal mengikuti saja.


Ketika ayah kembali ditugaskan di Pekalongan, sayapun ditarik lagi. Di sana ada sekolah yang baik. Kami dijemput dari rumah Pak De, dan ikut dengannya ke sekolah baru dengan mata pelajaran yang lebih maju dan guru-guru Belanda yang lebih galak. Hal itu sempat membuat saya keder.


Ayah menyimak hal itu, namun dia diam saja. Mungkin dia tahu persis kemampuan anaknya. Dan benar, ternyata hal-hal demikian tidak mengusik nilai rapport saya. Meski murid baru, saya bisa meraih juara tiga. Ponten bagus, tak ada merah. Teman-teman senang, meneer Belanda yang jadi guru saya pun senang.


Apalagi tatkala saya lulus dengan hasil memuaskan di tahun 1932. Tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada menerima diploma karena lulus dengan kemampuan­ sendiri.


Namun di balik kesenangan itu ada juga kerepotan. Yaitu menjalani hidup tanpa kehadiran ibu, yang terasa sangat teramat sulit. Risiko yang paling terasa adalah, kami tak bisa mempertahankan keutuhan keluarga.


Ayah harus pindah lagi dari Pekalongan. Sebagai akibatnya, saya dan Mas Hardjo kembali dititipkan ke rumah Pak De yang saat itu sudah naik pangkat menjadi Bupati Pasuruan. Akan halnya kedua adik, Sudjati dan Sutari, sejak ibu meninggal sudah dipelihara oleh adik perempuan ayah. Nasib jugalah yang membuat kami terpaksa tercerai-berai.


Apa boleh buat! Hidup memang harus dijalani, apapun bentuknya. Hal-hal yang menyedihkan sama pantasnya mengisi kehidupan manusia seperti juga hal-hal yang menyenangkan. Lagipula waktu untuk memikirkan nasib hampir tidak ada, karena saya harus masuk seko­lah kembali.


Meski tinggal di Pasuruan, saya dimasukkan ke sekolah Meer Uitge­breid Lager Onderwijs (MULO) di Probolinggo. Mendingan juga jauhnya. Setiap pagi saya harus mengejar kereta api untuk pergi ke sekolah.


Saya selalu ingat suasana pagi begitu. Turun dari tangga rumah dengan separuh berlari, saya dan Mas Hardjo menyeberang jalan menuju perbukitan kecil yang terhampar di depan rumah. Embun masih mengambang di permukaan rumput. Dari balik pepohonan, tampak ruas cahaya menyinari kabut. Bergaris-garis panjangnya, layak mistar-mistar raksasa yang menikam bumi.


Di jalanan kami akan selalu berpapasan dengan para petani yang memanggul pacul dan buntalan, berjalan berombongan menuju hutan di mana sawah dan ladang mereka berada. Otot punggung mereka yang telanjang, mekar bagai bongkahan tanah yang gembur. Kulit yang legam adalah pertanda keuletan mereka sebagai bangsa Indonesia yang rindu kebebasan.


Sungguh sebuah pagi yang merdeka. Sesekali akan terdengar guyonan mereka yang sederhana. Alangkah optimis hidup ini, meski penjajah masih bercokol di tanah milik mereka. Seakan mereka tahu, bahwa semua yang terbentang adalah perjuangan. Mereka berjuang di tanah garapan, saya berjuang di bangku pendi­dikan.


(Bersambung ke Bagian 3 : Anak Titipan yang Ditumpangkan)

Ada Nol di Hati


Bunga-bunga kapas menerbangi hari

merambat menuruni tangga udara
untuk tiarap menutup bentangan rumput.

Inilah saat-saat nol
tatkala etika tak berujud rupa.


Botani Square, Bogor, 13 April 2008

GESANG: 3. Sumirah, Sang Ibu Tiri


Nestapa yang menggayuti hati bapak tak boleh dibiarkan berlangsung lama. Ini bukan pendapatku, hanya berupa kisah yang disampaikan mbakyu Jumirah ketika aku sudah dewasa. Pria sehat berusia relatif muda dengan moril dan materi yang bisa dipertanggungjawabkan, tak sepatutnya menjalani hidup sendiri. Manusia butuh pasangan untuk mengukuhkan eksistensi, sekaligus menciptakan perbawa. Apalagi dengan lima anak yang masih kecil-kecil, pastilah bapak sangat kerepotan.


Maka dua tahun setelah ibu Sumidah berpulang, bapak menyambung tali perkawinan yang terputus. Dia membawa Sumirah dalam hidupnya. Diajaknya wanita ulet itu ke tengah kehidupan di Singosaren, menjadi pengganti ibu kandung kami yang hilang.


Dalam peristilahan kata, ibu Sumirah adalah seorang ibu tiri. Namun dalam keseharian, sosoknya tidak seperti penggambaran cerita dongeng kanak-kanak. Wanita pengabdi itu mengisi kehidupan kami dengan penuh. Dia merupakan ibu pengganti, melakukan hal yang sama seperti ibu kandung kami. Perhatiannya serupa dan perannya juga tak beda. Rasa kasih yang dicurahkan membuat kami menilainya layak ibu kandung sendiri.


Kehadiran istri baru ternyata berpengaruh besar bagi bapak. Terutama dalam menjalankan roda usaha yang sempat tersendat-sendat. Ibu Sumirah terlihat cekat dalam urusan perbatikan, mulai dari penyiapan mori sampai pengecapan, hingga siap jual untuk dipakai para pembeli. Lewat tutur yang memikat, ibu bisa menjual dengan sangat mudah.


Aku mengagumi ibu baruku. Sebagai bungsu yang tak bisa ditinggal sendiri di rumah, dia sering mengajakku menjajakan batik dagangan. Dan aku selalu terlongo heran melihat caranya menjual. Seakan membalik telapak, batik-batik itu segera berpindah tangan. Tunai atau angsur, yang jelas bakul bawaannya kerap kosong ketika pulang ke rumah di sore hari.


Hal itu pastilah disebabkan oleh kemauannya yang kuat, ditambah dengan semangat tak kenal menyerah. Kulitnya selalu berhias butir-butir keringat, layak berlian-berlian kecil yang menempel secara alami. Meski gerakannya lugas dan wajahnya keras, namun sorot matanya adalah kasih. Bibir lebarnya indah terukir jika tersenyum kepada sesiapa yang menyapa. Tak pernah mengeluh, apalagi mengeluarkan umpatan.


Aku ingin seperti ibu Sumirah, namun kemampuanku yang terbatas tak pernah bisa mengadaptasi kepiawaiannya. Aku memang tak berbakat menjadi pedagang batik, meski pekerjaan itu sudah dirancang untukku. Sementara para mas dan mbakyuku sibuk membantu pengecapan batik, aku lebih memilih termenung dan rengeng-rengeng sendirian.


Ibu Sumirah melahirkan adik-adik baru buatku, yaitu Ingram, Dahlan, Nurochma, Rokayah, Thoyib dan Nurjanah. Aku bahagia. Mereka adalah teman bermain paling mengasyikkan. Kami berangkat besar bersama, di bawah siraman kasih sayang orangtua yang tidak pernah membeda-bedakan rasa sayang. Semua mendapat porsi sesuai.


Di lingkungan Kampung Pasar Pon, keluarga kami adalah contoh keharmonisan. Rumah besar, usaha batik maju dan kehidupan terjamin. Bapak memang bukan saudagar kaya berlimpah uang, namun untuk hidup di atas kelayakan, bukanlah suatu impian. Dengan penghasilannya yang memadai, dia bisa menjamin perut, sekolah dan sandang yang kami kenakan. Anak-anak tak perlu bekerja keras untuk hidup, karena semua telah disediakan bapak. Urusan kami hanya belajar dan bermain.

Bersambung ke: 4. Terbang Bersama Deru Angin

Monyet-Monyet di Antara Kita

The eyes will see no evil colors,
the ears will hear no evil sounds,
the mouth will speak no evil words:
this is the meaning of the foetal education.
- Anonymous




Ada tiga monyet terkenal di dunia. The famous three monkeys. Monyet-monyet itu melakukan gesture yang menyiratkan arti. Yang pertama menutup mata, yang ke dua menutup telinga dan yang terakhir menutup mulut. Ketiganya melakukan hal itu dengan cara menangkupkan kedua telapak tangan di tiga indra penting. Tidak dengan cara menjahit daun telinga, menjahit kelopak mata atau menjahit mulut. Tampaknya sudah sejak awal monyet-monyet itu menyarankan agar manusia tidak melakukan hal itu dengan cara yang keras. Sebab dengan menangkupkan telapak tangan saja sebenarnya sudah merupakan tindakan keras.

Sebenarnya menutup mata cukup dengan memicingkan kelopak. Menutup telinga cukup dengan tidak mempedulikan. Dan menutup mulut cukup dengan mingkem, mengatup bibir. Tetapi kita tidak selalu bisa melakukannya. Perlu telapak tangan untuk menutupnya. Perlu benang dan jarum jahit untuk membuatnya tidak berfungsi. Kita perlu cara baru, inovasi baru dan variasi baru. Ketika sekelompok orang mengeluh dan menjabarkan bahaya berdomisili di bawah Saluran Udara Tegangan Tinggi, atau yang dipopulerkan dengan istilah Sutet, dan Pemerintah berdiam diri, maka menjahit mulut diharapkan bisa mangkus dan sangkil. Di Australia dan di belahan bumi lain konon cara itu pernah berhasil.

Tapi mereka lupa. Ini Indonesia. Negeri 1001 keajaiban. Silahkan gunakan cara baru dalam menyatakan pendapat, tapi belum tentu Indonesia peduli. Silahkan cari inovasi dan variasi baru untuk diperhatikan, Indonesia tidak punya waktu untuk melayani. Indonesia harus moving forward. Kalau you punya protes, simpan saja dulu. Jangan ganggu Indonesia yang ingin berlari meninggalkan keterbelakangannya. Please!

Urusan sutet, PLN toh bisa atasi dengan iklan-iklan mahal di televisi yang mengatakan Sutet tidak berbahaya. Buat apa mengganggu kabinet. Urusan mobilJaguar lupakan saja. Serahkan saja kepada Hary Tanoe untuk mengurusnya, melapor ke polisi dan sebagainya. Maka dengan kewenangan yang diperoleh entah dari dewa langit mana, Eggi Sudjana pun dilaporkan ke Polda Metro dengan tuduhan mencemarkan nama baik Presiden. Kok musti Hary yang lapor? Apa hubungan Boss RCTI ini dengan Presiden? Sebenarnya, tanpa dilapor-laporkan pun, orang yang mencemarkan nama baik Presiden otomatis bisa diperiksa Polri. Apakah Hary cuma ingin unjukkan rasa sayang dan kedekatannya dengan Presiden kepada semua orang?

Tapi Eggi mengambil langkah jitu, langsung minta maaf kepada Presiden. Tidak puas, Hary lapor lagi ke polisi. Kali ini atas pencemaran nama baiknya sendiri. Dan Eggi terima akibat. Meski tidak ditahan, tapi dia dicekal tidak boleh ke luar negeri. Saya bingung melihat relevansi pencemaran nama baik dengan cegah tangkal. Kok?

See No Evil. Jangan lihat hal-hal yang jahat. Sebab dengan melihat hal yang jahat, hati kita yang mudah terpengaruh ini akan terikut-ikut jahat. Melihat PSK menggiurkan diuber-uber kita merasa miris. Teringat lagu Titik Puspa yang berjudul Kupu-Kupu Malam. Begitu sang PSK dapat ditangkap, belasan tangan mulai merangkul seakan-akan takut PSK itu lepas melarikan diri. Tapi seorang teman saya terlanjur merasa mau muntah melihat hal itu yang dinilainya sebagai pelampiasan selera rendah, memegang-megang perempuan dalam kesempatan yang sempit. Mumpung!

Dosakah yang mereka kerjakan, sucikah mereka yang datang? See No Evil! Kalau mau menjadi manusia Indonesia seutuhnya, kita jangan banyak melihat yang bathil. Sehingga kita tak banyak memendam rasa kecewa. Karena hal ini bisa membahayakan kesehatan. Dan jika stamina memburuk, maka salahkan saja formalin. Atau virus flu burung. Mengapa pusing-pusing dengan urusan NCD Bodong yang tak kena-mengena dengan nafas kita sehari-hari? Jadi jangan kecewa meski KPK baru mulai memroses NCD setelah dua tahun menerima berkas laporannya. Tapi jangan pula merasa senang dulu, karena semua baru tahap awal. Belum tentu berhasil.

Talkshow soal NCD di RCTI yang dipandu dengan miskin oleh Arif Suditomo bisa saja tidak hanya mempengaruhi opini masyarakat, tetapi juga mempengaruhi keputusan para petinggi di KPK. After all, semua yang tampil bicara di situ layak koor harmonis dengan suara merdu. Lewat telpon, Goei Siauw Hong bahkan bilang kepada saya: “Hary itu teman saya dan saya yakin dia benar. Saya tidak peduli hal lain di luar itu.” Bahwa jika Dialog Khusus itu dilakukan di televisi yang menggunakan frekuensi milik publik, mereka tidak perduli. Membela kepentingan diri dan bisnis di televisi milik sendiri dianggap sebagai hal wajar, padahal itu salah, karena merupakan pemanfaatan ranah publik. Harusnya tau dong, sampai kapanpun frekuensi itu bukan milik orang per orang, bukan milik RCTI.

Maka malam itu, frekuensi hubungan SMS para insan media berseliweran. Terheran-heran dan merasa kasihan melihat apologi yang dilakukan dengan salah kaprah. Apalagi di akhir acara Hary bilang, bahwa dia diserang dalam banyak hal, dengan berita Jaguar, dengan berita pemakaian dana RCTI Peduli dan NCD Bodong. “Itu semua motifnya uang,” kira-kira begitu apologinya.

Hear No Evil. Jangan dengar hal-hal yang jahat. Inilah pesan monyet ke dua yang menutup kuping. Saya merasa kasihan dengan pernyataan tadi. Begitulah jika semua urusan di dunia ditakar dengan uang. Padahal money can not buy everything. Tidak semua orang bisa dibayar untuk berpihak, tidak semua orang bisa dibeli. Sebaiknya tutup kuping sajalah untuk urusan ini. Hear no evil! KPK terutama, yang harus tidak terpengaruh atas pendapat para pembicara yang belum tentu bisa disebut pakar di Dialog NCD. Bahkan konon pakar pun bisa salah. Tulikan saja telinga. Karena dengan mendengar, kita bisa terpengaruh. Saya khawatir kalbu kita yang putih akan tercoreng, atau tersedot masuk dalam lingkar pikiran orang lain yang belum tentu benar. Kita bisa teranja-anja. Karena kebenaran tidak pernah jadi milik manusia, tidak di dunia, tidak di Pengadilan Tinggi, tidak di MA dan tidak di mana-mana. Kebenaran itu milik Tuhan. Akan lebih celaka lagi jika kita yang mendengar kemudian menanggapi dan melakukan reaksi untuk hal yang jelas bukan urusan kita.

Speak no evil. Jangan bicara tentang hal-hal yang jahat. Lakukan saja GTM, Gerakan Tutup Mulut. Silence is golden. Talking is cheap, people follow like sheep, even know there is nowhere to go. Kalau DPR memanggil, dan kita terpaksa tidak bisa melakukan GTM, bilang saja bahwa tidak ada sebersit niat pun dari diri kita untuk mencari kambing hitam. Tegaskan dengan jelas. Walaupun akhirnya bawahan juga yang diperiksa dan menerima risiko lebih besar. Disertijabkan dan dibangkucadangkan dengan janji agar minggir dulu satu-dua tahun. Nanti dicarikan yang lebih baik. Ini demi nama baik korps dan untuk kepentingan yang lebih besar. Indonesia harus moving forward. Atasan tak perlu bertanggungjawab, karena di pundaknya masih ada pekerjaan yang lebih besar.

Keep thy tongue from evil, and thy lips from speaking guile. Depart from evil, and do good; seek peace, and pursue it. Kalimat ini termuat dalam King James Bible, Psalms 34:13-14. Sudah banyak yang bicara begini, tapi kita selalu mengulang-ulang bicara. Sampai akhirnya semua orang akan berpikir bahwa langkah menjahit mulut itu adalah hal yang biasa. Orang di mana-mana banyak yang mati kok, jadi buat apa risau?

See no evil, hear no evil sounds, speak no evil. Monyet-monyet itu memberi pesan moral agar kita bisa menjaga batin, karena mereka tahu, banyak di antara kita yang lebih monyet daripada mereka.

Dimuat di majalah B-Watch, edisi No. 8, Maret 2006

Kamis, Juli 31, 2008

Blowing Bubbles


C,

Kita lekatkan kedua pipi di ambang pintu kolam renang. Malam yang gempita. Musik mengisi lorong telinga, balon-balon mengambang di permukaan air. Langit Nanggroe Darusalam memayungi pesta ulang tahunmu.


Sudah lama kita tidak bersua. Bertahun bilangannya. Cinta yang nyaris terguling dari tubir jurang seakan ingin kita selamatkan kembali, seiring dengan kedatanganku ke kota domisilimu. 13 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk menjaga silaturahmi ini. Jarak antara Bogor dan Banda Aceh membuat aku sempat merenung, apakah SMS kita selama itu cuma basa-basi untuk saling jaga perasaan?


Tidakkah cinta itu sebenarnya sudah pudar, C?


Aku belum sempat menjawab pertanyaanku sendiri. Suasana jumpa itu masih mengejutkan. Karena itulah aku cuma duduk melihat tingkahmu yang leluasa. Sebagai Vice President di hotel bintang tiga ini, kau mewarnai staf dan karyawanmu. Mereka menunduk-nunduk di depanmu. Terserah, palsu atau tulus.

Seperti aku. Seperti kau juga.


Itulah sebab yang membuat aku kemudian, di sela-sela makan siang, mengajak kau berjujur hati dan memaklumi. Bahwa sebenarnya sudah tidak ada lagi cinta di batang hati kita. Waktu yang terentang panjang tidak hanya telah membawa aku jauh dalam jarak, tetapi juga dalam rasa. Pengaruhmu terhadapku sudah sangat menurun dan nyaris cuma bagai bintik-bintik air di kaca mobilku. Sebentar saja, dengan deru angin dan sengatan mentari Jakarta, tak akan ada bekasnya lagi. Sekali-sekala, sosokmu memang hadir di ruang mimpiku,

tetapi begitu juga sosok R dan H. Siapapun bisa masuk ke sana, bahkan sosok Pak Zaini, supirku selama di sini atau Ibu Tua Nong, penjual bolu di Pasar Masjid itu.


Jadi, ketika having lunch together di balik partisi coffee-shop ini, aku kira itu cuma kesantunan saja. Kita yang dimekarkan oleh roman dan gejolak berahi di 1995, sudah tak lagi bisa merengkuh ulang. Kau memang masih cantik di usia ke 38, tapi itu tak membuatku kalangkabut. You are there, I am here....... Sesekali jemari kita bersentuhan, tetapi mengelak untuk berpaut. Kita saling pandang, namun sorotnya tak lagi saling pilin-memilin. Obrolan pun meloncat-loncat tanpa pendalaman, dan tuturan pengalaman terkesan cuma menonjolkan keberhasilan dan kehebatan.


Aku kurang suka C, jenis bicara seperti ini.


Akhirnya aku harus akui, berdua denganmu bukan segalanya. Percintaan kita adalah sesuatu yang purba, cerita masa lalu yang tak berbentuk. Kita cuma berjalan sejauh paket acara televisi. Aku produsernya, kau presenter-ku dalam 12 episode yang gamang. Dan tak ada yang perlu diistimewakan. Jikapun kemudian kita masih bertelepon-teleponan, nuansanya cuma sebatas menjaga perasaan. Jikapun bisa dibilang istimewa, itu karena kita terus berhubungan kata. Peluk dan kecup yang terjadi dan rintihan desahmu di temaram sore

dan malam yang marah adalah kelumrahan,

blowing bubbles that never reach the sky.


Aku ingin berberes di atas setarik garis, tidak ingin ada emosi lain berkecambah. Saat ketika rasa dipecundangi mencoba merebut pikiran. Seakan-akan ketidakcocokan jadwal harus diselesaikan dengan rasa kesal. Sebab buat apa, dan siapakah kita sebenarnya?

Maka kaupun bisa keliru, menilai cintaku yang kau kira dapat bertahan selamanya.

Karena akhirnya aku tahu, yang hilang dari diriku adalah gelora.


C, getar itu rupanya sudah pergi!


I'd rather hurt you honestly than mislead you with a lie.
Cause who am I to judge you in what you say or do?
I'm only just beginning to see the real you.


Buku akan kututup dan akupun terbang, menuju rumah.

Aku harus pulang...................,

Selamat tinggal, C.


Grand Nanggroe Hotel, Banda Aceh, 27 – 31 Juli 2008

Senin, Juli 07, 2008

Titik Gelegak

An angry man is always a stupid man.

- Chinua Achebe (1930 - )

Kami berserobok di jalan bercabang. Masing-masing mencoba merebut jalan tunggal. Mobil Kijang itu merasa dirinya benar. Sementara saya merasa lebih berhak masuk duluan. Dia membunyikan klakson. Saya balas langsung dengan klakson yang lebih panjang. Dia pun menyumpah: “Monyet!” Saya membalas lantang: “Anjing!” Saya mengacungkan kepalan, dia menunjukkan tinju. Kami saling memaki dengan kata-kata kasar.


Sesaat kemudian, moment keras itu berlalu. Anger is a momentary madness, kata Horace, sang penyair Roma. Saya melaju kencang di tol, dia meluncur maju di jalur lambat. Selesai? Ternyata tidak. Malam di jalan panjang menuju pulang, saya merasa tidak lagi memiliki kesentosaan. Rasa kesal membalut hati. Musik yang dikumandangkan loudspeakers sudah tak enak didengar. Pikiran terganggu. Kemurkaan yang tadi membersit, meskipun hanya dalam bilangan detik, telah membuat diri saya jadi tidak bahagia.


Tapi bukankah saya pantas marah? Saya marah kepada ketidakberesan, terhadap kecentangperenangan, kepada orang-orang yang selalu merasa dirinya benar, ingin memang sendiri, tidak mau mengalah dan menyangkal kebenaran orang lain. Saya marah kepada orang yang menyeberang jalan seenak perut, memarahi para pengemudi motor yang selalu menerobos marka jalan untuk masuk ke jalur yang akan kulalui. Saya marah pada apa saja.


Tapi saat itu saya memang lupa Aristotle. The man who gets angry at the right things and with the right people, and in the right way and at the right time and for the right length of time, is commended, ujar si bijak Yunani itu dalam Nicomachean Ethics. Saya terkutuk dengan kemurkaan. Tidak menyadari bahwa orang lain juga bisa memiliki penghayatan yang sama. Mereka juga merasa benar, persis seperti saya dan juga menilai seperti saya. Mungkin memang betul, bukan saya yang benar. Bisa jadi saya yang salah, tetapi merasa memiliki kebenaran. Pria di Kijang itu menganggap saya yang menyerobot jalannya. Penyeberang jalan merasa saya mengganggu kenyamanan pedestrians dan pengendara motor heran melihat saya kekeh mempertahan jalur.


Akhirnya semua jadi marah-marahan. Rupanya kita adalah orang-orang yang selalu marah, bagian dari manusia-manusia yang selalu menunjukkan wajah keras di hari-hari yang menghimpit ini. Amarah adalah otot dan urat daripada jiwa. Kita pun menjelma jadi kelompok yang gampang mengencangkan rahang dan menggemeretukkan gigi, serta tidak segan-segan melayangkan kepalan tinju.


Penyair Amerika Ralph Waldo Emerson bilang, kita mendidih pada derajat yang berbeda. Artinya, bagaimanapun arif dan bijaksana, kita selalu punya titik gelegak. Itulah yang kita alami seusai reformasi ini. Tak punya daya lagi untuk melawan situasi yang buruk. Kita terpanggang, merasa panas, mendidih, menggelegak dan meletup, bahkan meledak. Kepahitan adalah kanker yang melahap diri sendiri, tulis pengarang Maya Angelou. Anger is like fire. It burns all clean. Kita pun terjebak untuk selalu memakai otot, bukan otak. Selalu rasa, bukan logika. Otak berada di perut dan dada.


Kita murka. Dan lupa, bahwa dengan kemurkaan itu, kita sudah menjadi manusia pandir. Selalu bodoh. Selalu tolol. Selalu marah. Padahal kita tak pernah henti berdoa. Begitulah setiap hari kini. Selalu marah. Selalu bodoh. Selalu tolol.


(Dimuat di Majalah Marine Business, Kolom JUST THINK, Edisi Juli 2008)